Rabu, Januari 21, 2009

Suara yang Tak Terdengar


Suara yang Tak Terdengar

Suatu ketika, ada seorang Raja yang mengirim putra mahkotanya berguru kepada seorang bijak. Sang Raja ingin, anaknya dapat belajar seni bagaimana menjadi pemimpin sejati. Orangtua bijak itupun setuju. Ia lalu membawa sang putra mahkota ke tengah hutan, untuk belajar tentang kepemimpinan. Jadilah mereka layaknya guru dan murid.

Sang guru lalu meminta putra mahkota itu untuk tinggal di hutan, bertapa sendirian, selama 1 tahun penuh. Berlalulah masa itu. Saat kembali, ditanyalah putra mahkota untuk bercerita tentang semua yang didengarnya. Anak itu menjawab, "Aku mendengar pipit bernyanyi, daun-daun bergemerisik, dan rumput yang menari bergoyang."

Rupanya, masa bertapa belum selesai. Sang Guru meminta putra mahkota untuk kembali ke hutan, dan berlatih mendengar lebih teliti. Anak itu pun bingung, tapi ia tetap menuju ke tengah hutan, dan mulai mendengar lebih teliti. Pertama kali, ia tak mendengar sesuatu yang baru. Dan waktupun berjalan begitu lambat. Pelan dan terus perlahan, sang putra mahkota belajar menyimak dengan lebih dalam.

Pada suatu pagi, anak itu mulai mendengar suara-suara sayup yang membawa nuansa baru baginya. Merasa senang, ia pun kembali kepada gurunya dan berkata, "Guru, saat ku mulai mendengarkan alam, aku mendengar "suara yang tak terdengar". Suara-suara kuncup bunga yang mengembang, suara-suara senyum rumput yang menyambut embun pagi, dan alam yang membangunkan musim semi. Begitu indah, dan senandungnya membuatku terlena. "

Sang Guru tersenyum, lalu berkata, "Nak, engkau telah mampu mendengar 'suara yang tak terdengar'. Engkau telah layak menjadi seorang Raja menggantikan ayahmu. Hanya orang-orang yang mampu mendengar suara-suara hati rakyatlah yang layak menjadi pemimpin. Mereka lah yang mampu merasai perasaan rakyatnya. Merekalah yang mampu meraba setiap keluh-kesah setiap orang."

"Mereka, mampu menyimak kata-kata yang tak terucap, rasa-rasa yang tak tersalurkan, serta sedih dan tawa yang tak terungkapkan. Pada merekalah terhadap ciri sejati seorang pemimpin. Pada telinga merekalah degup-degup jantung rakyat dapat terus terasa getarannya."

"Nak, katahuilah, suatu kerajaan yang besar, akan hancur, apabila pemimpinnya, hanya mampu mendengar apa yang terlihat dan apa yang terlontarkan. Sebuah negara dapat binasa, saat para pemimpinnya tak berusaha untuk menelusup ke dalam relung hati rakyat dan merasakan hasrat yang ada di dalamnya. Nak, bersiaplah. Rakyatmu telah menunggu. "

Sang putra mahkota berjalan pulang, menuju istana tempat ayahnya tinggal. Dan sang Guru, memandang kepergian muridnya itu dengan bangga. Seorang pemimpin baru telah dibantu kelahirannya.

***

Teman, kisah ini, bisa jadi gambaran yang sangat sesuai untuk kita semua. Untuk kita, yang sangat merindukan, pemimpin dengan telinga-telinga sutra, yang mampu mendengar setiap getaran hati dan hasrat setiap rakyatnya.

Semoga, Allah masih akan menurunkan petunjuk bagi kita, mana pemimpin yang baik, dan mana pemimpin yang tak diridhoi-Nya. Hanya kepada-Nya lah kita dapat berharap. Amin.