Rabu, Januari 14, 2009

Persahabatan


Persahabatan

Alkisah, ada 2 orang sahabat kental. Berbagai suka dan duka mereka lalui bersama. Mereka adalah Faisal dan Usman. Faisal berpostur tubuh kecil dan kurus, sedangkan Usman berpostur tubuh besar dan kekar.

Suatu ketika terjadi permasalahan sehingga terjadilah konflik dan perdebatan diantara mereka. Usman marah besar kepada sahabatnya Faisal, hingga tangan Usman yang besar itu melayang ke muka Faisal hingga sahabatnya itu terjungkal jatuh. Faisal yang bertubuh kecil itu hanya terdiam karena tidak berani membalas.

Beberapa saat kemudian Usman melihat sahabatnya sedang merenung di bawah pohon sambil menuliskan sesuatu diatas tanah yang berpasir. Dalam hati Usman masih marah kepada faisal dan enggan bertemu denggannya. Dia penasaran apa yang ditulis sahabatnya tersebut, maka usman mencoba melihat ketika sahabatnya itu pergi. Tanah itu bertuliskan "SAHABAT DEKATKU TELAH MEMUKUL WAJAHKU".

Suatu ketika, Usman kebetulan melihat faisal sahabatnya sedang dirampok oleh beberapa orang. Tanpa berfikir panjang Usman menolong faisal dengan berkelahi melawan perampok tersebut. Perkelahian dimenangkan oleh Usman. Karena merasa gengsi dan masih kesal, Usmanpun langsung pergi tanpa berkata apapun.

Setelah beberapa saat kemudian Usmanpun merenung atas sikapnya terhadap sahabatnya tersebut. Hingga suatu ketika ia bertemu sahabatnya sedang mengukir sesuatu di atas batu. Kemudian disapanya faisal. "Apa yang sedang kau lakukan faisal?", "Hai Sahabatku! Aku sedang mengukir tulisan diatas batu ini." Kemudian Usman menengok apa yang ditulis sahabatnya tersebut. Batu itu bertuliskan "SAHABAT DEKATKU TELAH MENOLONGKU!".

"Aku tidak mengerti? Apa maksudmu engkau menulis diatas pasir ketika aku memukulmu, dan engkau mengukir tulisan diatas batu ketika aku menolongmu?" tanya Usman penasaran.

"Aku menulis diatas pasir, ketika engkau memukulku, karena aku berharap tulisan itu akan terhapus oleh hembusan angin. Sedangkan aku mengukir tulisan itu diatas batu, karena aku berharap tulisan tersebut tidak akan mudah terhapus oleh apapun, dan akan terpatri selalu dalam hatiku." Jawab Faisal.

Usmanpun memeluk sahabatnya, dan meminta maaf atas sikapnya. Mata mereka berkaca-kaca.

***

Sahabatku, ada hikmah yang dapat kita pelajari dalam kisah tersebut. Seberapa sering diri kita ini kurang adil dalam menilai teman, saudara, dan keluarga kita.

Ketika sahabat kita berbuat salah, yang terpatri dalam benak kita justru kesalahannya tersebut. Padahal jika dibandingkan jasanya jauh lebih banyak daripada kesalahannya. Kita lupa atas segala apa yang mereka lakukan untuk kita. Sehingga kita merasa berat sekali untuk memaafkan kesalahan sahabat kita.

Kita justru terbiasa mengukir di batu atas kesalahan sahabat kita, dan menulis diatas pasir atas segala jasa sahabat kita. Adilkah?

Lupakanlah kesalahan mereka, ingatlah selalu segala jasa mereka terhadap kita. Temuilah mereka! Sahabat kita, Istri, suami, anak, tetangga, orang tua kita, mereka adalah orang-orang terdekat kita. Mintalah maaf kepada mereka, dan sekali lagi, lupakanlah kesalahan mereka.

(jadi ingat sahabat-sahabatku dulu! maafkanlah diriku ini sahabatku!)