Selasa, Januari 13, 2009

Beruang


Beruang

Air sungai kecil itu terlihat tenang. Percik-percik air pun tak muncul dari
balik bebatuan. Jernihnya air, mengalun seperti bunyi-bunyi angin dari kejauhan.
Semilirnya yang terlihat menghembus, tak juga menerpa ujung-ujung rumput yang
menjuntai di sisi kiri dan kanan. Hanya sesekali tampak ada kelok air, saat arus
dari hulu menumbuk beberapa kerikil kecil. Setelah itu keadaan kembali hening.
Cuma nihilnya suara jengkerik saja yang membedakan hari itu bukan lagi tengah
malam.

Tiba-tiba ada kecipak air dari langkah kaki yang berat. Tampak seekor beruang,
yang terlihat seperti sedang mencari sarapan. Badan besarnya membungkuk,
tangannya mengapai-gapai mengoyak permukaan air. Beberapa ikan gabus kecil
berlarian menyelamatkan diri, menghindar dari empasan tangan si pemakan ikan
itu. Tapi sayang, ada satu ikan kecil yang kurang gesit. Siripnya tak lincah
menghindari bongkah batu. Hap, berpindahlah ikan kecil itu ke tangan si beruang.

"Tolong…pak beruang. Lepaskan aku." Terdengar teriakan mohon ampun dari si
gabus. Tubuhnya meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman
kuku-kuku tajam. "Badanku masih kecil. Pasti kamu tak akan kenyang dengan
memakanku." Beruang hitam itu tertegun mendengar ucapan dari sang ikan. Matanya
terlihat meneliti hasil tangkapannya. "Lepaskan saja aku. Kalau aku besar nanti,
kamu akan tetap bisa menangkapku. Dan pasti kamu akan lebih kenyang." Lagi-lagi
suara si gabus.

Sesaat sang beruang itu terdiam. Hewan itu tampak sedang berpikir. Gerakan si
gabus pun mulai tenang. Dia tak lagi meronta-ronta. Alih-alih ketakutan, ikan
itu terlihat optimis dengan ucapannya. "Kamu benar." Ada suara yang membalas
ucapan sang ikan. "Tapi aku tak pernah melepaskan tangkapanku, walaupun sekecil
apapun." Segera saja, dimasukkanlah ikan kecil itu kedalam mulut beruang.
Beruang itu kembali berkata, "dan hari ini, kamu menjadi sarapan pagiku."

***

Setiap pagi, ada banyak orang yang pergi untuk bekerja. Setiap pagi pula ada
banyak pula yang berdoa dan mengantungkan harapan dari pekerjaannya itu. Mereka
kemudian berharap akan sesuatu yang melimpah, dan bermohon pada sesuatu yang
banyak, dalam cara dan bentuk apapun. Uang yang banyak, hasil yang melimpah,
ataupun keuntungan yang berlipat-lipat. Bisa jadi, itulah yang menjadi
pengharapan setiap orang setiap pagi.

Namun kadangkala, ada hal yang tidak terduga-duga muncul di hadapan. Sering kita
menemui, apa yang kita harapkan itu tak jua menjadi kenyataan. Harapan tentang
sesuatu yang banyak dan melimpah itu, acapkali hadir dalam wujud yang kecil dan
tak seberapa. Bahkan tak jarang, harapan itu hanya tinggal harapan, dan kita
hanya mendapatkan tangan hampa.

Teman, lalu apakah kita kemudian kita akan melepaskan semua hasil kita itu?
Akankah kita membiarkan usaha kita itu lenyap, demi mengharapkan sesuatu yang
melimpah? Saya berani berkata, contohlah sang beruang itu. Sekecil apapun,
seremeh apapun, dan se-tak-seberapapun hasil usaha kita, akan menjadi bentuk
syukur kita kepada Tuhan. Disanalah terletak keikhlasan untuk menerima, untuk
berterimakasih, dan untuk menampilkan rasa harap kita pada Yang Maha Pemberi.
Disanalah akan bisa kita temukan makna keberhasilan yang sesungguhnya.

Jangan pernah membuang kesempatan dan rezeki, Teman. Bukalah setiap pintu
kesempatan yang mengetuk itu. Sebab barangkali, pintu kesempatan dan rezeki itu
tak mengetuk dua kali.