Sabtu, Januari 31, 2009

Ayah


Ayah

Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.

Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.

Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar ertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban sang Ibu.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.


"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."

"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya."

"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdzikir, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."

Ujian



Ujian

Suatu ketika, dalam sebuah ruang kelas kuliah, berlangsung sebuah ujian. Semua mahasiswa tampak serius mengerjakan soal-soal, sebab, ujian ini adalah tes terakhir sebelum mereka lulus. Semuanya tampak tekun, hingga mereka melihat sebuah pertanyaan terakhir.

Dalam lembar soal, tercantum sebuah pertanyaan, "Siapa nama wanita yang selalu membersihkan kelas ini setiap hari?. Sebuah pertanyaan yang ganjil, pikir semua anak. Sebab, apa hubungannya seorang tukang sapu dengan kelulusan seorang mahasiswa?. Ah, sang dosen rupaya sudah kehabisan pertanyaan. Banyak mahasiswa yang membiarkan baris pertanyaan itu kosong tak berisi.

Ujian itupun usai. Semuanya mengumpulkan kertas ujian mereka masing-masing dan meninggalkan ruangan. Tampak seorang mahasiswa yang mendatangi meja depan, dan bertanya sesuatu kepada dosen yang sedang membereskan berkas-berkasnya. "Pak, apakah soal terakhir itu juga masuk dalam penilaian? " tanya mahasiswa itu perlahan, "Sebab, saya tak mengisi jawaban untuk soal itu.

Sang dosen menjawab, " Ya, tentu saja. Ia lalu melanjutkan, "Anak muda, kamu belajar satu hal kali ini. Dalam hidupmu, kamu akan mengenal banyak orang. Dan semua orang itu penting, semua insan itu akan memberikan nilai buatmu. Mereka semua berhak untuk diperhatikan dan juga diberikan penghargaan. Walaupun, yang kamu lakukan cuma sekedar tersenyum atau mengucapkan salam.

"Dan, oh ya, Nak, pertanyaan semacam ini, akan kamu temui dalam bentuk yang berbeda kelak. Maka, bukalah matamu lebih lebar, dan bukalah hatimu lebih luas, kamu akan menemukan jawabannya.

Mahasiswa itu belajar hikmah yang berguna kali ini. Dan ia juga belajar, bahwa, wanita petugas kebersihan itu bernama Rose.

--Author Unknown

Teman, banyak dari kita yang memang tak terlalu peka dengan keadaan sekitar. Ada banyak sekali hadangan-hadangan yang kita buat sendiri dengan lingkungan. Seringkali, kita biarkan diri kita asing, diri kita terkungkung dalam jeruji-jeruji "tak peduli" yang kita pancangkan kuat-kuat.

Memang, setiap orang berhak untuk mendapatkan perhatian kita. Setiap manusia yang ada di dekat kita, punya bagian untuk menjadi orang yang kita sayangi. Maka, bukalah mata lebih lebar, dan bukalah hati lebih luas, kita akan menemukan jawabannya.

Kamis, Januari 29, 2009

Teruntuk Wanita




Mendukung pria layaknya tulang rusuk yang melindungi setiap tubuh.

Wanita diciptakan BUKAN dari kaki pria, agar mereka dapat menginjak-injak
wanita; BUKAN pula diciptakan dari kepala, supaya wanita dapat menginjak-injak pria

Tapi, wanita diciptakan, dari sisi rusuk pria, berdiri bersanding, dekat
dengan dada dan hatinya, agar selalu dicintai, dekat dengan tangannya, supaya dapat selalu dilindungi.

Saat Ku-ciptakan bumi dan seisinya, Aku menciptakan semuanya agar dapat menjadi benda-benda yang berguna. Dan saat Ku-ciptakan manusia, Ku-bangun badannya, dan Ku-tiupkan nafas kehidupan di dalamnya.

Namun, saat Ku-ciptakan wanita, Ku-hias dengan indah setelah Ku-tiupkan nafas kehidupan dalam raga-nya. Sebab, hidung wanita begitu halus, begitu indah. Ku-biarkan pria tertidur saat Ku-ciptakan wanita, sebab, dengan begitu Aku dapat dengan lebih lama dan lebih menyempurnakan ciptaan-Ku ini.

Dari sepotong tulang itu Ku-ciptakan wanita. Ku-pilih tulang yang paling
baik, yang dikenal sebagai tulang yang paling dapat melindungi manusia. Ku-pilihkan tulang rusuk, yang melindungi hati dan jantung. Ku-pilihkan tulang yang selalu dapat diandalkan kekuatannya. Di sekeliling tulang rusuk ini, Ku-haluskan setiap sisinya, Ku-rapihkan, Ku-sempurnakan dengan keindahan.

Layaknya tulang rusuk, selain kuat, sesungguhnya wanita juga halus dan rapuh. Wanita melindungi bagian yang paling lemah dari manusia, yaitu hati dan jantung. Hati adalah organ utama yang dimiliki setiap manusia. Dan jantung memberikan nyawa bagi kehidupan. Tulang rusuk, akan membiarkan dirinya terkoyak, sebelum ada yang mampu melukai hati. Dari semua mahluk hidup, wanitalah yang memiliki hampir semua sifat-sifat-Ku.

Saat Adam, memohon kepada-Ku, ia tampak sedang kesepian. Adam tak mampu melihat, dan menyentuh-Ku. Adam hanya dapat merasakan kehadiran-Ku. Maka, Aku ingin ada seseorang yang mampu menjadi pendampingnya, yang memiliki, kesucian-Ku, kekuatan-Ku, kehalusan-Ku, rahmat-Ku, dan dukungan-Ku. Dan kuciptakan wanita.

Kalian semua, umat manusia, adalah ciptaanku yang terpilih. Manusia, menggambarkan kekuasaan-Ku. Jadi, perlakukan lah dengan benar. Saling mencintai, saling mengasihi, rawatlah rahmat-Ku ini dengan baik. Pria, berikanlah yang terbaik darimu untuk wanita. Sebab, saat pria melukai perasaan wanita, sebenarnya, itu juga akan melukai-Ku. Jangan pernah melukai hatinya.

Google Map

Rabu, Januari 28, 2009

Kerikil


Kerikil

Cobalah, tebarkan kerikil ke dalam air: Biarkan memercik, dan batu itu pun kan menghilang Tapi, akan ada belasan riak yang berputar, menjauh dan lepas dari pandang Lingkaran itu akan menyebar dan mengalir Dan tak ada yang tahu kapan akan berakhir

Cobalah, tebarkan kerikil kedalam air, dalam sekejap, mungkin ia tak terkenang

Namun, akan ada gelombang kecil yang terus mengembang, Dan gelombang itu, akan terus berpusar, dan mungkin akan menjadi gelombang badai Bisa jadi, hanya lewat kerikil, kita kan merusak sebuah sungai

Cobalah, tebarkan caci, dan tekun dalam memaki, dalam sesaat, kata itu mungkin kan terlupa Tapi, nanti pasti akan selalu ada jiwa dan hati yang terluka, Hati itu kan tetap merana, tak ada yang tahu kapan dia tetap ada Dan bisa jadi, tak ada yang kita bisa perbuat, saat maki sudah tertanam di dada

Cobalah, sampaikan kata-kata benci, dalam sekejap, mungkin ia akan tak terkenang
Tapi, akan yakinlah, akan timbul jiwa-jiwa pendendam, akan ada airmata yang berlinang
Dan bisa jadi, dalam derai airmata itu Akan ada harapan-harapan yang hilang dan embatu

Tetapi,

Cobalah, sampaikan kata-kata bijak dan menyenangkan, dalam semenit ia mungkin kan terlupa Namun, yakinlah, akan ada gelombang riak-riak bahagia kan tercipta Akan ada pusaran-pusaran cinta yang yang terus membesar Hingga kita seolah tak percaya pada semua kata yang telah kita tebar

Cobalah, sampaikan kata-kata sejuk berisi harapan dan doa, dalam semenit, ia mungkin kan terlupa Namun, rasa bahagia yang tercipta, akan terus nikmat terasa Dan kita akan membuat mereka nyaman dengan semua dendang yang kita nyanyikan Bertahun-tahun lamanya, kata itu kan terus terkenang, walau sekedar ucapan cinta yang kita sampaikan.

Nilai


Nilai

Suatu ketika, ada seorang kakek yang sedang berada di sebuah taman kecil. Di dekatnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain pasir, membentuk lingkaran. Ia lalu menghampiri mereka, dan berkata:

"Siapa yang mau uang Rp. 10.000!!" Semua anak itu berhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan. Ia lalu berkata, "Kakek akan memberikan uang, tapi, setelah kalian semua melihat ini dulu."

Kakek itu lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya "Siapa yang masih mau dengan uang ini? Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.

"Tapi,... kalau kakek injak bagaimana? ". Lalu, kakek itu malah menjatuhkan uang itu ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya keras-keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan ia kembali bertanya: "Siapa yang masih mau uang ini?"

Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan. :)

***

Teman, kita belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, sebab, tindakan itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 10.000

Seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, terinjak, tak kuasa, atas segala keputusan yang telah kita ambil. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.

Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau *bakal terjadi*, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah.

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari seberapa jauh kita menghargai diri sendiri. Kita adalah mahluk yang unik, yang khusus, dan berharga. Jangan lupakan hal itu.

Senin, Januari 26, 2009

Juara


Juara

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap
mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya
tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang
dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4
anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak
sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan
mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan
sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang
dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil
itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak
mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di
setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya.
Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia
tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan
tang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku
siap!".

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong
mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang
bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo...
cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha...sang pemenang harus
ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya.
Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam
hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu
diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada
Tuhan agar kamu menang, bukan?". Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku
panjatkan" kata Mark.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk
menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku
tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah
beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

~Author Unknown

***

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua.
Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak
memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya.
Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa
untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar
diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan
kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Tuhan untuk
mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk
menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap
ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan
dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah
bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan
kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan
yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan
untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang
menguji setiap hamba-Nya yang shaleh.

Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar
kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua. Amin

Paku


Paku

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada
anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah ...

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah ...
Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih
mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan
amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini
kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk
setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa
semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar.
"Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di
pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. "Ketika
kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti
lubang ini ... di hati orang lain.

Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu ... Tetapi
tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada ... DAN luka
karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik ..."

~Author Unknown

***

Teman, memang, sebuah permintaan maaf bisa mengobati
banyak hal. Namun, agaknya kita juga harus mengingat, bahwa semua itu tak akan
ada artinya, saat kita mengulangi kesalahan itu kembali.

Cerita ini, adalah sebuah tamsil, sebuah amsal, sebuah ibarat dan sebuah
wira-kisah. Tentang, berbuat kesalahan memang wajar, namun, ia juga mengajarkan,
menghindarinya adalah hal lain yang bisa kita lakukan.

Score Football

Lengkap, hasil score di berbagai negara dunia!

Latihan Pijat Refleksi

Ni ada gambar yang mana yang harus anda pijat. Sesuaikan dengan penyakit anda!

Sabtu, Januari 24, 2009

Toko Penjual Suami



Toko Penjual Suami


Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di kota New York di mana wanita dapat memilih suami dengan leluasa sesuai selera dan keinginannya. Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut, yaitu :

“Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI“

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya, kecuali untuk keluar dari toko.

Di setiap lantai tertera spesifikasi/kriteria dari para calon suami tersebut.

Seorang wanita pun pergi ke “toko suami” tersebut untuk mencari suami. Ia mulai mencoba mencari dari lantai satu yg tiap lantai terdapat tulisan sbb :

Lantai 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan.

Wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Lantai 2 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil.

Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.

Lantai 3 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, dan cakep banget.

” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran, dan terus naik. Sampailah wanita itu di lantai 4.

Lantai 4 : Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget, dan suka membantu pekerjaan rumah.

”Ya ampun !” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya.” Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5.

Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget, suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis. Walaupun dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6. Dan membaca kriteria calon suami di lantai 6 ini :

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak Ada lelaki di lantai ini. Lantai ini hanya semata-Mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas. Terima kasih telah berbelanja di “Toko Suami”. Hati-hati ketika keluar toko. Dan semoga hari yang indah buat anda.

Pengirim : Herfian Gozali

Jumat, Januari 23, 2009

Mantel Kuning



Mantel Kuning

Rinai hujan selalu membuat saya terharu. Rintiknya, mengingatkan pada masa-masa
yang telah lalu. Begitu pula hari ini.

Dulu, sewaktu kecil, saya ingin sekali punya mantel hujan. Kuning, itu warna
yang saya inginkan. Teman-teman saya yang lain telah memilikinya, dan mereka
tampak gagah dengan mantel itu. Untuk anak kelas 2 SD, semua yang berwarna
cerah, akan selalu tampak indah. Namun sayang, Ibu tak punya cukup uang untuk
membelinya. Walau sempat kecewa, saya harus menurut, dan menahan keinginan untuk
mempunyai mantel kuning itu.

Walau begitu, saya tetap kesal. Dan rasa itu memuncak ketika saya harus pulang
dari sekolah. Hari itu hujan begitu deras. Saya makin kecewa dengan Ibu. Sebab,
jika ada mantel, tentu saya tak perlu kena hujan, dan bisa bergabung bersama
teman-teman yang lain. Kesal, dan marah, begitulah yang saya rasakan saat itu.
Sementara yang lain tertawa dan menikmati hujan, saya harus berjalan pulang
dengan tubuh yang basah kuyup.

Ah..di tengah perjalanan, saya bertemu dengan Ibu. Dia tampak membawakan payung
untuk saya. Karena terlanjur marah, saya tak menerima payung itu, dan ngambek,
untuk tetap pulang tanpa payung. Walau begitu, ia tampak ingin melindungi saya
dengan payungnya. Mendekap, agar saya tak terlalu basah terkena hujan. Hujan
makin deras, dan kami pun berjalan pulang, walau saya tetap ngambek dan menolak
untuk di payungi.

Sesampainya di rumah, tingkah itu terus saya perbuat. Saya tetap menolak untuk
berganti pakaian. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, hal itu saya selesaikan.
Ibu, kemudian datang dengan handuk, dan langsung menyelubungi saya dengan handuk
itu. Ada kehangatan yang segera menyergap. Saya menjadi lebih tenang. Tetap, tak
ada kata-kata yang keluar dari Ibu, selain terus menghangatkan saya dengan
handuk itu. Tangannya terus membersihkan setiap air hujan yang ada di badan.
Diseka nya kepala saya, agar tak nanti tak membuat sakit.

Masih dalam diam, Ibu kemudian memberikan pakaian ganti. Setelah itu, dia masih
menyodorkan teh manis hangat buat saya. Ya, segelas teh manis, sebab, susu
coklat, adalah hal yang jarang saya rasakan saat itu. Ya, kehangatan kembali
hadir dalam tubuh. Walau saya mungkin tak mengerti apapun, saya yakin, ada
kehangatan lain yang diberikan Ibu saat itu.

***

Ya, teman, begitulah. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning
seperti yang saya impikan. Namun, payungnya telah membuat saya aman. Ibu mungkin
tak mampu membelikan saya mantel kuning untuk terhindar dari hujan, namun,
dekapannya membuat saya terhindar dari apapun.

Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning itu, namun, handuk hangatnya
melebihi setiap kehangatan yang mampu diberikan setiap mantel. Ibu mungkin tak
mampu membelikan mantel kuning, namun, usapan lembutnya, adalah segalanya buat
saya.

Ibu mungkin tak menjemput saya dengan mobil atau kendaraan lain, namun lingkaran
tangannya di tubuh saya, adalah dekapan yang paling indah. Ibu mungkin tak bisa
memberikan susu coklat, namun, teh manisnya, lebih berharga dari apapun. Ibu
mungkin tak bisa memberikan saya banyak hal lain, namun, dekapan, usapan, uluran
tangan, perhatian, kasih sayang, sudah cukup sebagai penggantinya.

Ya, rintik hujan selalu membuat saya terharu. Terima kasih buat Ibu yang tak
membelikan saya mantel kuning. Karena, apa yang telah diberikannya selama ini,
jauh melampaui semuanya.

Kekuatan Ibu


Kekuatan Ibu

Suatu ketika, hiduplah dua suku di pegunungan Andes. Satu suku tinggal di lembah-lembah, sedangkan suku yang lain tinggal di atas gunung. Suatu hari, suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya ke atas gunung.

Orang-orang suku lembah tidak tahu bagaimana mendaki gunung. Mreka tidak tahu jalan mana yang digunakan oleh suku gunung. Mereka tidak tahu dimana letak desa suku gunung. Juga, tidak tahu bagaimana mengikuti jejak-jejak suku gunung di tebing-tebing gunung itu.

Tapi, meski pun begitu, mereka mengirim para prajurit terbaik mereka untuk memanjat gunung dan membawa pulang bayi mereka.

Prajurit pertama mencoba memanjat tebing diikuti yang lain. Ketika prajurit pertama gagal, mereka semua pun gagal. Mereka mencoba lagi dengan cara lain. Namun, gagal. Setelah berhari-hari mereka mendaki, mereka hanya bisa memanjat beberapa ratus kaki saja.

Suku lembah kehilangan harapan dan putus asa. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke desa saja. Semua upaya dilakukan namun gagal.

Ketika mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat ibu dari bayi yang diculik itu sedang menuruni tebing gunung melewati mereka, sambil menggendong bayinya. Mereka terkejut sekali, bagaimana si ibu itu bisa menuruni tebing yang justru mereka sendiri gagal untuk mendakinya? Bagaimana si ibu itu bisa memanjat tebing-tebing itu mengalahkan mereka? Terlebih lagi, mereka melihat si bayi itu telah terselamatkan. Bagaimana mungkin?

Seorang prajurit menyambut ibu itu dan bertanya, "Wahai ibu, kami gagal mendaki tebing ini. Bagaimana kau melakukan semua ini, mengalahkan seluruh prajurit terkuat? Bagaimana bisa? Engkau belum pernah menjadi prajurit!"

Ibu itu mengangkat bahu dan berkata, "Sebab bayi yang diculik itu bukanlah bayimu. Dan, kalian semua belum pernah menjadi Ibu."

-(The Mountain, Jim Stovall)

***

Burung, tak pernah diajarkan manusia untuk terbang, dan Ikan, tak pernah belajar untuk berenang. Semuanya alami, semua berasal dari naluri. Hal itu, akan hadir pada setiap mahluk yang percaya akan kebesaran Allah. Hanya Allah lah yang memberikan kita kekuatan itu.

Dan, teman, cinta memberikan kekuatan. Sebab, cinta adalah kekuatan itu sendiri. Cinta seorang ibu adalah naluri, adalah alami, adalah sesuatu yang hadir dalam jiwa-jiwa yang penuh rasa cinta. Setiap Ibu, tak akan pernah diajari bagaimana mengasihi buah hatinya. Rasa itu akan hadir dengan sendirinya.

Kita pun, punya rasa itu. Asal kita mau, menjalani semua garis-garis yang telah
ditentukan-Nya.

Rabu, Januari 21, 2009

Lalat dan Semut


Lalat dan Semut

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.

"Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar," katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan.

Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, "Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?" "Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.

" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?"

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, "Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama." Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, "Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini."

"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda."

dari http://sahabatz.blogspot.com

Simak Lantunan Ayat Suci Al Qur'an

Silahkan dengar dan simak makna Ayat Suci Al Qur'an. Klik aja suratnya. Selamat Mendengarkan lantunan terindah di dunia!

Empat Istri


Empat Istri

Suatu ketika ada pedangang yang kaya raya, ia memiliki empat istri yang selalu setia menemaninya.

Dia mencintai istrinya yang keempat dan menganugrahinya harta & kesenangan yang banyak. Sebab dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik untuk istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga mencintai istirinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini dan selalu memperkenalkan wanita ini kepada teman-temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri kedua, ia pun sangat menyayukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”

Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku?” Ia terdiam,“Tentu saja tidak..“, jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.

Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? ” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati.” Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku?” Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.” Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.” Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

Sahabtaku, sesungguhnya kita punya empat orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari.

Sebuah Jam


Sebuah Jam

Alkisah,
Seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?"
"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"

Tukang jam pun terdiam....
"Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?"

"ha...Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

Tukang jam pun terdiam....
"Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?"

"Apaa..Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali?"
"Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam pun terdiam....

Lalu tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.
"Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kalisetiap detik?"

"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jamdengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.

Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 86.400 kali dalam sehari..dan 3.600 kali dalam satu jam..dan tentu saja 31.104.000 kali selama setahun!!!

***

Teman, Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat.
Namun sebenarnya jika kita sudah menjalankannya, ternyata kita mampu, bahkan sesuatu yang mungkin semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan.
Yakinlah kepada Allah! Allah sudah mengukur kemampuan Hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan yang kita hadapi, ada kemudahan di dalamnya.

Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah
mencobanya....

Tuhan Sembilan Senti


Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah...ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara
merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika
melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan
HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di
kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, dipinggir lapangan voli orang
merokok,menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
Turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedun 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok
merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasapa, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala
kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan
setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan, Cuma sedikit yang memegang dengan tangan
kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut
mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.

Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,gempa bumi dan longsor, cuma setingkat
di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di
negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,

dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,diiklankan dengan indah dan
cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena
orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan
sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Ya Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Suara yang Tak Terdengar


Suara yang Tak Terdengar

Suatu ketika, ada seorang Raja yang mengirim putra mahkotanya berguru kepada seorang bijak. Sang Raja ingin, anaknya dapat belajar seni bagaimana menjadi pemimpin sejati. Orangtua bijak itupun setuju. Ia lalu membawa sang putra mahkota ke tengah hutan, untuk belajar tentang kepemimpinan. Jadilah mereka layaknya guru dan murid.

Sang guru lalu meminta putra mahkota itu untuk tinggal di hutan, bertapa sendirian, selama 1 tahun penuh. Berlalulah masa itu. Saat kembali, ditanyalah putra mahkota untuk bercerita tentang semua yang didengarnya. Anak itu menjawab, "Aku mendengar pipit bernyanyi, daun-daun bergemerisik, dan rumput yang menari bergoyang."

Rupanya, masa bertapa belum selesai. Sang Guru meminta putra mahkota untuk kembali ke hutan, dan berlatih mendengar lebih teliti. Anak itu pun bingung, tapi ia tetap menuju ke tengah hutan, dan mulai mendengar lebih teliti. Pertama kali, ia tak mendengar sesuatu yang baru. Dan waktupun berjalan begitu lambat. Pelan dan terus perlahan, sang putra mahkota belajar menyimak dengan lebih dalam.

Pada suatu pagi, anak itu mulai mendengar suara-suara sayup yang membawa nuansa baru baginya. Merasa senang, ia pun kembali kepada gurunya dan berkata, "Guru, saat ku mulai mendengarkan alam, aku mendengar "suara yang tak terdengar". Suara-suara kuncup bunga yang mengembang, suara-suara senyum rumput yang menyambut embun pagi, dan alam yang membangunkan musim semi. Begitu indah, dan senandungnya membuatku terlena. "

Sang Guru tersenyum, lalu berkata, "Nak, engkau telah mampu mendengar 'suara yang tak terdengar'. Engkau telah layak menjadi seorang Raja menggantikan ayahmu. Hanya orang-orang yang mampu mendengar suara-suara hati rakyatlah yang layak menjadi pemimpin. Mereka lah yang mampu merasai perasaan rakyatnya. Merekalah yang mampu meraba setiap keluh-kesah setiap orang."

"Mereka, mampu menyimak kata-kata yang tak terucap, rasa-rasa yang tak tersalurkan, serta sedih dan tawa yang tak terungkapkan. Pada merekalah terhadap ciri sejati seorang pemimpin. Pada telinga merekalah degup-degup jantung rakyat dapat terus terasa getarannya."

"Nak, katahuilah, suatu kerajaan yang besar, akan hancur, apabila pemimpinnya, hanya mampu mendengar apa yang terlihat dan apa yang terlontarkan. Sebuah negara dapat binasa, saat para pemimpinnya tak berusaha untuk menelusup ke dalam relung hati rakyat dan merasakan hasrat yang ada di dalamnya. Nak, bersiaplah. Rakyatmu telah menunggu. "

Sang putra mahkota berjalan pulang, menuju istana tempat ayahnya tinggal. Dan sang Guru, memandang kepergian muridnya itu dengan bangga. Seorang pemimpin baru telah dibantu kelahirannya.

***

Teman, kisah ini, bisa jadi gambaran yang sangat sesuai untuk kita semua. Untuk kita, yang sangat merindukan, pemimpin dengan telinga-telinga sutra, yang mampu mendengar setiap getaran hati dan hasrat setiap rakyatnya.

Semoga, Allah masih akan menurunkan petunjuk bagi kita, mana pemimpin yang baik, dan mana pemimpin yang tak diridhoi-Nya. Hanya kepada-Nya lah kita dapat berharap. Amin.

Sabtu, Januari 17, 2009

Penebang Kayu


Penebang Kayu

Suatu ketika, hiduplah seorang penebang kayu muda. Dia tinggal bersama seorang
istri yang baik. Setiap hari, penebang ini pergi ke hutan, dan menebang setiap
pohon yang layak untuk dipotong, lalu menjualnya ke kota.

Pada suatu pagi, si Penebang berkata pada istrinya, "Bu, aku akan menebang 10
pohon hari ini. Aku merasa, aku masih kuat untuk itu semua." Sang istri merasa
senang. Ia pun lalu melepas kepergian suaminya ke hutan. Betul saja, di senja
hari, Penebang itu kembali dengan membawa uang hasil penjualan 10 pohon.

Hal itu terus berlaku dari hari ke hari. Pagi-pagi sekali, Penebang muda itu
selalu bergegas pergi untuk menebang pohon. Namun, lama kemudian, hasil di dapat
dirasakan makin menurun. Minggu berikutnya, si penebang hanya mampu menghasilkan
8 pohon. Lalu 6 pohon di minggu berikutnya. Sampai akhirnya si penebang muda ini
cuma mampu menebang 3 pohon.

"Ah, mengapa ini semua terjadi. Bukankan aku masih muda dan kuat?", keluh si
Penebang, "Untuk orang seusiaku, pasti, akan ada lebih banyak pohon yang dapat
ditebang." Sang istri hanya mendengarkan. "Hmm...atau apakah aku sudah mulai
tua?", keluhnya lagi.

Istrinya yang semula diam, mulai angkat bicara. "Suamiku, engkau memang masih
muda, dan ya, aku yakin, engkau bisa menebang lebih banyak lagi. "Namun, engkau
juga harus ingat, engkau harus mengasah kapak-kapakmu sebelum pergi bekerja.
Sia-sialah semua tenagamu, kalau kau hanya punya kapak yang tumpul.

"Suamiku, kita tak dapat selalu berharap hasil tebangan yang banyak, kalau kita
selalu lupa untuk mengasah kapak yang kita miliki."

***

Teman, kita, adalah juga si penebang muda tadi. Terlalu sering kita berharap,
untuk mendapatkan banyak hasil, tanpa berusaha melihat ke dalam diri kita.
Terlalu sering kita bermohon kepada Allah, untuk mendapatkan pahala dan imbalan
yang sesuai, namun, dengan kualitas ibadah yang minim sekali.

Kerapkali, cuma sedikit waktu yang kita berikan untuk mengasah keimanan kita,
dengan harapan pahala yang berlimpah. Kita sering lupa, untuk mengasah semuanya.
Padahal disekeliling kita, ada banyak sekali hal bisa dijadikan pengasah batin
dan iman kita. Kebajikan-kebajikan sosial, adalah salah satunya.

Dan teman, teruslah memberikan hikmah kita pada orang sekitar. Sebab, bukankah
keharuman bunga akan selalu semerbak, pada tangan-tangan yang sering memberikan
bunga?

Sepatu


Sepatu

Suatu ketika, hiduplah seorang raja baru yang sangat berkuasa. Negrinya luas,
meliputi segenap gunung dan lembah. Rakyatnya banyak, hingga sampai ke ujung
pantai dan dalamnya hutan.

Sang Raja pun sangat perhatian dengan rakyatnya. Hingga, ia sering berkeliling,
dan melakukan pengecekan di setiap wilayah kekuasaannya. Ia ingin lebih dekat
dengan rakyatnya dan mengetahui apa yang dirasakan mereka.

Karena dia baru saja memerintah, sang Raja tak paham dengan semua tanah
kekuasaannya. Saat kembali ke istana setelah perjalanan itu, ia merasa sangat
lelah. Kakinya nyeri dan sakit, setelah melakukan perjalanan panjang. Jalan yang
ditempuhnya memang jauh dan berliku. Sebab, sang Raja enggan untuk di tandu, dan
memilih untuk berjalan kaki, bersama dengan pasukannya.

Sang Raja mengeluh dengan keadaannya ini. Sambil memegang kakinya yang sakit,
sang Raja berpikir bagaimana caranya agar ia tak perlu merasakan nyeri ini
setiap berjalan jauh. Ah, dia menemukan penyelesaian. "Kalau saja, setiap jalan
yang aku lewati dilapisi dengan kulit, dan permadani, tentu, aku akan merasa
nyaman.", begitu gumamnya dalam hati. "Aku tentu tak akan perlu merasakan sakit
seperti ini."

Akhirnya sang Raja memerintahkan prajuritnya untuk melapisi setiap jalan yang di
tempuhnya dengan kulit. Semua jalan, tanpa kecuali. Namun, sebelum sang Prajurit
bergegas untuk melaksanakan, penasehat Raja menyuruhnya untuk berhenti. Sang
Penasehat lalu berkata, "Duli Tuanku, tentu, rencana ini akan memerlukan banyak
sekali kulit dan permadani. Kita akan butuh banyak biaya, dan akan mengurangi
keuangan kerajaan.

Sang Raja tampak heran, dan berkata, "Lalu, apa pendapatmu tentang hal ini?
Penasehat Raja lalu menghampiri sang Raja, kemudian berujar, "Tuanku, mengapa
baginda harus mengeluarkan banyak biaya untuk hal ini? Kenapa Baginda tidak
memotong sedikit saja dari kulit itu dan melapisinya di kaki Baginda?

Baginda terkejut. Namun, tak lama kemudian, Raja setuju dengan usul membuat
"sepatu" itu untuk dirinya. Akhirnya, Raja membatalkan niatnya untuk membuat
jalan dengan kulit. Ia dapat terus melakukan kunjungan ke rakyatnya, tanpa takut
lelah dan nyeri kesakitan.

***

Teman, ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi
tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala, kita harus mengubah cara pandang
kita, hati kita, dan diri kita sendiri, dan bukan dengan jalan mengubah dunia
itu.

Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam pikiran
kita, kadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, kita artikan sebagai milik
kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang
terlibat disana, sebab, seringkali dalam pandangan kita, dunia, adalah bayangan
diri kita sendiri.

Dan teman, jalan yang di tempuh oleh sang Raja memang panjang dan berliku. Ruas
yang ditempuhnya memang terjal dan berbatu. Namun, haruskah ia melapisi semuanya
dengan permadani berbulu? Haruskah jalan-jalan itu dibuat landai dan tenang, dan
menutupnya dengan kulit yang halus?

Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah
yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita
tak pernah merasakan sakit, atau, melapisi hati kita dengan sepatu, agar kita
dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?

Pencuri


Pencuri

Suatu ketika, tinggallah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu, terdiri dari
orangtua, dan kedua anak laki-lakinya. Kekayaan mereka sangatlah berlimpah.
Lumbung mereka, penuh dengan tumpukan padi dan gandum. Ladang mereka luas,
lengkap dengan ratusan hewan ternak.

Namun, pada suatu malam, ada pencuri yang datang ke lumbung mereka. Sebagian
besar padi yang baru di tuai, lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa
pencuri itu. Kejadian itu terus berulang, hingga beberapa malam berikutnya. Akan
tetapi, tak ada yang mampu menangkap pencurinya.

Sang tuan rumah tentu berang dengan hal ini. "Pencuri terkutuk!!, akan kuikat
dia kalau sampai kutangkap dengan tanganku sendiri." Begitu teriak sang tuan
rumah. "Aku akan menangkap sendiri, biar rasakan pembalasanku."

Kedua anaknya, mulai ikut bicara. "Ayah, biarlah kami saja yang menangkap
pencuri itu. Kami sudah cukup mampu melawannya. Kami sudah cukup besar, tentu,
pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. "Ijinkan kami menangkapnya
Ayah!"

Tak disangka, sang Ayah berpendapat lain. "Jangan. Kalian masih muda dan belum
berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian,
masih tak cukup kuat untuk menahan pukulan. Ilmu silat kalian masih sedikit.
Kalian lebih baik tinggal saja di rumah. Biar aku saja yang menangkap mereka."
Mendengar perintah itu, kedua anaknya hanya mampu terdiam.

Penjagaan memang diperketat, namun, tetap saja keluarga itu kecurian. Sang Ayah
masih saja belum mampu menangkap pencurinya. Malah, kini hewan ternak yang mulai
di ambil. Ia sangat putus asa dengan hal ini. Dengan berat hati, di datangilah
Kepala Desa untuk minta petunjuk tentang masalah yang dialaminya. Diceritakannya
semua kejadian pencurian itu.

Kepala Desa mendengarkan dengan cermat. Ia hanya berkata, "Mengapa tak biarkan
kedua anakmu yang menjaga lumbung? Mengapa kau biarkan semua keinginan mereka
tak kau penuhi? Ketahuilah, wahai orang yang sombong, sesungguhnya, engkau
adalah "pencuri" harapan-harapan anakmu itu. Engkau tak lebih baik dari
pencuri-pencuri hartamu. Sebab, engkau tak hanya mencuri harta, tapi juga
mencuri impian-impian, dan semua kemampuan anak-anakmu. Biarkan mereka yang
menjaganya, dan kau cukup sebagai pengawas."

Mendengar kata-kata itu, sang Ayah mulai sadar. Pada esok malam, diijinkanlah
kedua anaknya untuk ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa malam kemudian,
ditangkaplah pencuri-pencuri itu, yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka
sendiri.


***

Teman, pernahkan Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita dan harapan
mereka? Ya, bisa jadi kita akan mendapat beragam jawaban. Suatu ketika mereka
akan menjadi pilot, dan ketika lain mereka memilih untuk menjadi dokter. Suatu
saat mereka akan mengatakan ingin bisa terbang, dan saat lain berteriak ingin
dapat berenang seperti ikan. Walaupun pada akhirnya kita tahu hanya ada satu
jawaban kelak, namun, pantaskah jika kita melarang mereka semua untuk punya
harapan dan impian?

Begitulah, seperti halnya dalam cerita diatas, ada banyak pencuri-pencuri impian
yang berkeliaran di sekitar kita. Mereka, mencuri semua impian, dan merampas
harapan-harapan yang kita lambungkan. Mereka, selalu menghadang setiap langkah
kita untuk mencapai tujuan-tujuan hidup.

Bisa jadi, pencuri-pencuri itu bisa hadir dalam bentuk orangtua, teman, saudara,
atau bahkan rekan kerja. Namun, yang sering terjadi adalah, kita sendirilah
pencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling besar
menghadang setiap langkah. Kita sering temukan dalam diri, perasaan takut, ragu,
dan bimbang dalam melangkah.

Terlalu sering kita mendengarkan suara kecil yang mengatakan, "Saya tidak bisa,
saya tidak mampu." Atau, sering kita berucap, "Sepertinya, saya tak akan mungkin
mengatasinya." "jangan, jangan lakukan ini sekarang, lakukan ini nanti saja.
Terus seperti itu. Kegagalan, sering kita jadikan peniadaan dalam melangkah.

Namun, teman, seringkali bisa keliru. Kegagalan, adalah sebuah cara Allah untuk
menunjukkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan, adalah pertanda
tentang sebuah usaha yang tak akan berakhir. Kegagalan, adalah sebuah pelajaran
tentang bagaimana meraih semua harapan yang terlewat.

Memang, tak ada kesuksesan yang diraih dalam semalam. Karena itu, yakinlah,
dengan kesabaran kita akan dapat meraih semua harapan dan impian. Maka, yakinlah
dengan semua impian kita. Jika kita mampu, dan nurani kita mengatakan setuju,
jangan biarkan orang lain mencuri impian itu--terutama oleh diri kita sendiri.

Dan teman, jangan jadikan diri kita pencuri-pencuri impian orang lain. Yakinlah
dengan itu semua, sebab Allah selalu akan bersama kita.

Pohon Tua


Pohon Tua

Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya
rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol
keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan
pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat
sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat
lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun
merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah,
dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan
membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna,"
begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga
mendengar perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya
rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan
pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai
enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk
berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan
padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil
semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga
terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku
tak perlu merasakan siksaan ini? Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya
yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap
kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis
terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga
pada saat pagi menjelang.

"Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, .ada seekor anak burung
yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.
"Cittt...cericirit...cittt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak
burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran
burung-burung baru. Satu...dua...tiga...dan empat anak burung lahir ke dunia.
"Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan
membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung
dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu
merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya.
Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah
bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya
kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang
Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan
bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

***

Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang
selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha
Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita.
Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah,
Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita
karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah
suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang
Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah
tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia.
Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian
kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah
hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.

Pengrajin Emas dan Kuningan


Pengrajin Emas dan Kuningan

Di sebuah negeri, hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan.
Seorang diantaranya, adalah pengrajin emas, sedang yang lainnya pengrajin
kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan ini, sebab, ini adalah
pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang
dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai
penghias, adalah beberapa dari hasil kerajinan mereka.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil pekerjaan ke kota. Hari pasar, demikian
mereka biasa menyebut hari itu. Mereka akan berdagang barang-barang logam itu,
sekaligus membeli barang-barang keperluan lain selama sebulan. Beruntunglah,
pekan depan, akan ada tetamu agung yang datang mengunjungi kota, dan bermaksud
memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang.
Tentu, berita ini akan membuat semua pedagang membuat lebih banyak barang yang
akan dijajakan.

Siang-malam, terdengar suara logam yang ditempa. Setiap dentingnya, layaknya
nafas hidup bagi mereka. Tungku-tungku api, seakan tak pernah padam. Kayu bakar
yang tampak membara, seakan menjadi penyulut semangat keduanya. Percik-percik
api yang timbul tak pernah di hiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaan
masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias yang
siap dijual. Hari pasar makin dekat. Dan lusa, adalah waktu yang tepat untuk
berangkat ke kota.

Hari pasar telah tiba, dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah
digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer
berdampingan. Tampaklah, barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah
sayang, ada kontras yang mencolok diantara keduanya. Walaupun terbuat dari logam
mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tak
berkilau. Ulir-ulirnya kasar, dengan pokok-pokok simpul rantai yang tak rapi.
Seakan, sang pembuatnya adalah seorang yang tergesa-gesa.

“Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan
menanyakan kenapa perhiasaannya kawannya itu tampak kusam. “Setiap orang akan
memilih daganganku, sebab, emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin
emas lagi, “Apalah artinya loyang buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya,
aku akan membawa uang lebih banyak darimu.” Pengrajin kuningan, hanya tersenyum.
Ketekunannya mengasah logam, membuat semuanya tampak lebih bersinar.
Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperli
lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap di
pandang mata.

Ketekunan, memang sesuatu yang mahal. Hampir semua orang yang lewat, tak menaruh
perhatian kepada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi, dan
melihat-melihat cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan
datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan
logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup mereka tertarik, dan mau membelinya.
Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Pengrajin emas yang
tertegun diam, dan pengrajin kuningan yang tersenyum senang.

Hari pasar telah usai, dan para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu
pun telah selesai membereskan dagangan. Dan agaknya, keduanya mendapat pelajaran
dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.

***

Teman, ketekunan memang sesuatu yang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalani
pekerjaan ini. Begitupun juga kemuliaan dan harga diri, tak banyak orang yang
menyadari, bahwa kedua hal itu, kadang tak berasal dari apa yang kita sandang
hari ini. Setidaknya, tindak-laku kedua pengrajin itu, adalah potongan siluet
kehidupan kita.

Ketekunan, adalah titian panjang yang licin berliku. Seringkali, jalan panjang
itu membuat kita terpelincir, dan jatuh. Seringkali pula, titian itu menjadi
saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kebahagiaan di ujung
simpulnya. Namun, percayalah, ada balasan bagi setiap ketekunan. Di ujung sana,
akan ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.

Emas dan kuningan, bisa jadi punya nilai yang berbeda. Namun, apakah kemuliaan
dinilai hanya dari apa disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan
dari simbol-simbol yang tampak di luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari
pengrajin kuningan, bahwa loyang, kadang bernilai lebih dibanding logam mulia.
Dan juga bahwa kemuliaan, adalah buah dari ketekunan.

Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup
sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga jika ulir-ulir
hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia jika, lekuk-lekuk kalbu kita koyak
dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga,
jika, pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya, tak di penuhi dengan
simpul-simpul ikhlas dan perangai yang luhur?

Teman, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari, kita bentuk
ulir dan lekuk-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan cahaya-Nya.
Susunlah simpul-simpul itu, dengan jalinan keluhuran budi dan perilaku. Tempalah
dengan kesungguhan diri, agar hati kita tak keras, dan menjadi lembut, luwes
serta mampu memenuhi hati orang lain.

Percayalah, akan ada imbalan untuk semua itu. Amin.

Rabu, Januari 14, 2009

Persahabatan


Persahabatan

Alkisah, ada 2 orang sahabat kental. Berbagai suka dan duka mereka lalui bersama. Mereka adalah Faisal dan Usman. Faisal berpostur tubuh kecil dan kurus, sedangkan Usman berpostur tubuh besar dan kekar.

Suatu ketika terjadi permasalahan sehingga terjadilah konflik dan perdebatan diantara mereka. Usman marah besar kepada sahabatnya Faisal, hingga tangan Usman yang besar itu melayang ke muka Faisal hingga sahabatnya itu terjungkal jatuh. Faisal yang bertubuh kecil itu hanya terdiam karena tidak berani membalas.

Beberapa saat kemudian Usman melihat sahabatnya sedang merenung di bawah pohon sambil menuliskan sesuatu diatas tanah yang berpasir. Dalam hati Usman masih marah kepada faisal dan enggan bertemu denggannya. Dia penasaran apa yang ditulis sahabatnya tersebut, maka usman mencoba melihat ketika sahabatnya itu pergi. Tanah itu bertuliskan "SAHABAT DEKATKU TELAH MEMUKUL WAJAHKU".

Suatu ketika, Usman kebetulan melihat faisal sahabatnya sedang dirampok oleh beberapa orang. Tanpa berfikir panjang Usman menolong faisal dengan berkelahi melawan perampok tersebut. Perkelahian dimenangkan oleh Usman. Karena merasa gengsi dan masih kesal, Usmanpun langsung pergi tanpa berkata apapun.

Setelah beberapa saat kemudian Usmanpun merenung atas sikapnya terhadap sahabatnya tersebut. Hingga suatu ketika ia bertemu sahabatnya sedang mengukir sesuatu di atas batu. Kemudian disapanya faisal. "Apa yang sedang kau lakukan faisal?", "Hai Sahabatku! Aku sedang mengukir tulisan diatas batu ini." Kemudian Usman menengok apa yang ditulis sahabatnya tersebut. Batu itu bertuliskan "SAHABAT DEKATKU TELAH MENOLONGKU!".

"Aku tidak mengerti? Apa maksudmu engkau menulis diatas pasir ketika aku memukulmu, dan engkau mengukir tulisan diatas batu ketika aku menolongmu?" tanya Usman penasaran.

"Aku menulis diatas pasir, ketika engkau memukulku, karena aku berharap tulisan itu akan terhapus oleh hembusan angin. Sedangkan aku mengukir tulisan itu diatas batu, karena aku berharap tulisan tersebut tidak akan mudah terhapus oleh apapun, dan akan terpatri selalu dalam hatiku." Jawab Faisal.

Usmanpun memeluk sahabatnya, dan meminta maaf atas sikapnya. Mata mereka berkaca-kaca.

***

Sahabatku, ada hikmah yang dapat kita pelajari dalam kisah tersebut. Seberapa sering diri kita ini kurang adil dalam menilai teman, saudara, dan keluarga kita.

Ketika sahabat kita berbuat salah, yang terpatri dalam benak kita justru kesalahannya tersebut. Padahal jika dibandingkan jasanya jauh lebih banyak daripada kesalahannya. Kita lupa atas segala apa yang mereka lakukan untuk kita. Sehingga kita merasa berat sekali untuk memaafkan kesalahan sahabat kita.

Kita justru terbiasa mengukir di batu atas kesalahan sahabat kita, dan menulis diatas pasir atas segala jasa sahabat kita. Adilkah?

Lupakanlah kesalahan mereka, ingatlah selalu segala jasa mereka terhadap kita. Temuilah mereka! Sahabat kita, Istri, suami, anak, tetangga, orang tua kita, mereka adalah orang-orang terdekat kita. Mintalah maaf kepada mereka, dan sekali lagi, lupakanlah kesalahan mereka.

(jadi ingat sahabat-sahabatku dulu! maafkanlah diriku ini sahabatku!)

Ikan Besar


Ikan Besar

Suatu ketika, malam tampak begitu indah di sebuah pantai. Bulan bersinar terang,
purnama itu tampak cemerlang. Langit cerah penuh dengan bintang. Tak ada awan
gelap yang berarak terbilang. Tak ada angin pasang, apalagi gelombang besar yang
menghadang.

Hari itu memang hari yang baik untuk melaut. Karenanya, tampak dua perahu
nelayan yang sedang tenang di atas lautan. Perahu itu terlihat bergoyang tenang,
seirama dengan gelombang. Kedua nelayan diatasnya sibuk dengan jala dan umpan
yang mereka siapkan.

Telah beberapa saat mereka berada disana. Hasil tangkapan yang mereka dapat pun
telah cukup banyak. Namun, salah seorang dari mereka berkata, "Aku ingin punya
ikan lebih banyak. Pasti, kalau aku berlayar lebih jauh, aku akan mendapatkan
tangkapan lebih baik dari ini semua." Aku yakin disana ikannya lebih
besar-besar," teriaknya sambil menarik jala.

Terdengar sahutan dari perahu lainnya. "Hei, jangan tamak. Disini saja ikannya
sudah cukup besar. Perahumu pun tak akan cukup mengangkut semua ikan. Ingat,
muatan kita terbatas dan perbekalan kita tak cukup banyak. Kita tentu tak akan
mau kembali dengan perahu yang karam. Lagipula, fajar akan tiba sesampainya kau
disana.

Sayang, nasehat itu tak di gubris. Nelayan itu malah berkata, "Ah, kamu memang
pemalas. Kalau aku kurangi sebagian dari isi perahuku, tentu, aku akan dapat
memuat lebih banyak ikan," seru sang Nelayan. "Aku akan tetap melaut lebih jauh
sampai kudapatkan ikan yang lebih besar.

Nelayan tamak itu tetap berlalu, sambil membuang beberapa muatan untuk mengharap
tangkapan yang lebih banyak. Bahkan, dibuangnya sebagian hasil ikannya kembali
ke laut. Dan ia pun melaju, berharap menemukan ikan yang lebih besar.

Nafsu dunia memang kadang sulit di halangi. Tak ada yang dapat dilakukan nelayan
lain terhadap tingkah nelayan tamak tadi. Setelah merasa cukup dengan semua
hasil tangkapannya, nelayan itu pun bersiap pulang. Lama ia menyusuri keheningan
malam. Dipandanginya semua hasil tangkapan itu, sambil membayangkan kegembiraan
anak dan istrinya di rumah. Ia dapat melukiskan ucapan syukur, dan celoteh anak
dan istrinya setelah melihat semuanya.

Tiba-tiba, renungan itu terhenti, ketika, ada bias-bias cahaya remang yang
datang dari arah belakang. Siapa itu? Dipacunya perahu itu kembali ke arah
lautan. Ternyata, tampaklah disana nelayan sahabatnya yang sedang
terapung-apung, sambil memegang sebilah papan dan sebuah pelita. Segera saja di
lemparkannya seutas tali, dan berusaha menarik nelayan itu dari air. Sekuat
tenaga ia menarik tubuh itu keatas, dan akhirnya perlahan tubuh lemas itu dapat
duduk di atas perahu.

Nelayan itu kelelahan. Setelah pulih, dan tenang kembali, mulailah ia bertanya,
"Ada apa denganmu? Kemana perahu dan semua hasil tangkapanmu? Pelan, nelayan
yang semula tamak tadi mulai bicara, "Aku menyesal. Aku memang mendapat ikan
besar disana, tapi, karena muatan terlalu banyak, aku kehilangan pandangan,"
ujarnya perlahan.

"Aku kehilangan kendali, dan ada karang besar yang ada di depan perahuku.
Perahuku menabrak karang itu, dan kini hancur. Untunglah ada papan, dan pelita
yang aku pegang. Dengan inilah aku bisa menarik perhatianmu. Terima kasih telah
mau menolongku walau sikapku menyakitkanmu. Ah, mungkinanak-istriku tak mendapat
rezeki besok. Aku sangat menyesal." Kalimat-kalimat itu terus meluncur, seakan
tak terhenti.

"Sudahlah." Terdengar ucapan menyejukkan dari nelayan lain. "Aku bisa membagi
sebagian tangkapanku untukmu. Muatanku masih lebih dari cukup untuk
anak-istrimu. Ambillah, semoga anak-istrimu bisa senang dan tak perlu
kesusahan."

***

Teman, siapakah nelayan yang tamak itu? Bisa jadi, tangan ini akan menunjuk diri
kita sendiri. Mungkin, sosok itu adalah cermin dari semua sikap kita selama ini.
Sikap yang tamak, tak pernah puas, tak pernah bersyukur, dan bisa jadi, tak
pernah ikhlas menerima setiap anugrah yang diberikan-Nya.

Adakah kita terbuai pada "ikan-ikan besar" yang cuma ada pada lamunan-lamunan
kita? Adakah kita berharap pada banyak hal, sementara telah ada beragam rezeki
yang diberikan-Nya buat kita? Adakah kita tak pernah puas pada setiap hal yang
ada di depan mata, di sekitar jangkauan kita, di seputar kita yang menanti untuk
diambil berkahnya?

Adakah "lautan jauh dengan ikan besar" itu terlampau membutakan kita pada setiap
rezeki yang telah menjadi hak kita? Adakah semua yang kita miliki sekarang tak
pernah cukup untuk dapat memuati "perahu hidup" kita? Adakah itu semua
menghalangi pandangan kita untuk bersyukur pada Ilahi. Padahal, di sekitar kita
ada banyak sekali rahmah, ada banyak sekali berkah.

Teman, sesungguhnya, ada banyak sekali "ikan-ikan kecil" di sekeliling kita yang
siap untuk diambil. Adakah itu semua tampak hanya seperti remah-remah tak
berarti, atau serpihan-serpihan yang tak pernah cukup untuk memuati "perahu
nafsu kita? Apa lagi yang kita cari untuk memuasi itu semua?

Dan sesungguhnya memang, muatan dan perbekalan "hidup" kita memang sangat
terbatas. Seperti halnya dalam melaut, selalu saja ada fajar yang akan menanti,
yang akan membuat kita berhenti untuk mencari ikan...

Selasa, Januari 13, 2009

Berlari



Berlari

Hari masih subuh ketika sekelompok burung pergi meninggalkan sarang mereka di
atas pohon. Dibawahnya, butiran embun menetes dari ujung-ujung rumput yang
melengkung. Matahari pun belum terlihat memancarkan sinar, tapi sejumlah mahluk
telah bersiap untuk memulai hidup mereka. Padang sabana yang amat luas itu,
tampak bergeliat, menyambut sekumpulan hewan-hewan yang baru terbangun.

Di salah satu pojok padang rumput, seekor anak menjangan bertanya kepada
ayahnya. "Ayah, mengapa aku harus belajar berlari setiap hari? Apakah ada yang
ingin kita kejar? Ayah menjangan bangkit berdiri, diendusnya ujung hidung
anaknya yang masih ingin berbaring. "Nak, di luar sana ada banyak singa-singa
yang keluar mencari makan. Dan mereka berlari sangat cepat. Kita harus dapat
berlari lebih cepat dari singa yang paling cepat sekalipun. Sebab, kalau tidak,
kita akan mati terbunuh."

Sang Ayah kembali mengenduskan hidung si menjangan muda. "Ayo, kita harus
bersiap berlari sekarang. Kalau kita tak berlari, kita akan mati kelaparan atau
terbunuh oleh singa-singa itu.

Sementara itu, di ujung padang rumput yang lain, seekor anak singa bertanya
kepada ayahnya. "Ayah, mengapa aku harus belajar berlari setiap hari? Apakah ada
yang ingin kita kejar? Ayah singa bangkit berdiri, diendusnya ujung hidung
anaknya yang masih ingin berbaring. "Nak, di luar sana ada banyak
menjangan-menjangan buruan kita. Dan mereka berlari sangat cepat. Kita harus
dapat berlari lebih cepat dari menjangan yang paling cepat sekalipun. Sebab,
kalau tidak, kita akan mati kelaparan."

Sang Ayah singa pun kembali mengenduskan hidung si singa muda. "Ayo, kita harus
bersiap berlari sekarang. Kalau kita tak berlari, kita akan mati kelaparan dan
tak bisa mendapatkan hewan buruan.

Kedua jenis hewan di kedua ujung sabana itu pun tampak bersiap. Mereka harus
terus berlari agar dapat tetap hidup. Sebab, mereka hanya punya dua pilihan,
mati kelaparan atau mati terbunuh.

***

Hidup bagi hewan yang tinggal di padang sabana, mungkin adalah pertarungan
antara dua pilihan. Mati kelaparan, atau mati terbunuh. Dan mereka harus berlari
untuk dapat terhindar dari pilihan maut semacam itu. Bagi yang lambat, akan
binasa. Bagi yang cepat, dialah yang menjadi juara. Tak ada tempat bagi pemalas,
tak ada makanan bagi yang tak menjejakkan kakinya. Bisa jadi terlihat sederhana,
sebab disana memang hanya pilihan itu yang ada di depan mata.

Saya bukan sedang meminta anda untuk berlatih berlari atau belajar mencari hewan
buruan. Bukan. Sebab setidaknya, disana ada satu hikmah yang bisa dipetik.
Berlari, atau dengan kata lain, belajar dan berusaha, memang sejatinya inti dari
pergulatan hidup kita. Lewat hal itulah kita akan bisa mendapatkan apa yang kita
harap dan angankan. Mungkin, bagi hewan hal itu berarti terhindar dari maut.
Tapi bagi manusia, belajar dan berusaha akan memberikan kita dorongan untuk
berada dalam barisan yang lebih baik.

Teman, saya percaya, tak ada kesuksesan yang dicapai dengan langkah ragu. Tak
ada kemajuan yang diraih dengan langkah malu-malu. Dalam berlari kita akan dapat
merasakan saat aliran darah lebih cepat, dan jantung berdetak lebih kencang.
Otot-otot kita bergerak bergetar, tangan kita mengepal dan menjangkau. Di
dalamnya kita akan berpacu, dan memicu ayunan kaki dan tangan agar lebih
bergegas.

Dalam bahasa lain seseorang pernah berkata, run for your life! Berlarilah untuk
hidupmu. Maka, mengapa kita tak mengambil pernyataan itu sebagai pemicu kita
dalam berusaha? Berlarilah, teman. Berlari untuk kehidupanmu.

Beruang


Beruang

Air sungai kecil itu terlihat tenang. Percik-percik air pun tak muncul dari
balik bebatuan. Jernihnya air, mengalun seperti bunyi-bunyi angin dari kejauhan.
Semilirnya yang terlihat menghembus, tak juga menerpa ujung-ujung rumput yang
menjuntai di sisi kiri dan kanan. Hanya sesekali tampak ada kelok air, saat arus
dari hulu menumbuk beberapa kerikil kecil. Setelah itu keadaan kembali hening.
Cuma nihilnya suara jengkerik saja yang membedakan hari itu bukan lagi tengah
malam.

Tiba-tiba ada kecipak air dari langkah kaki yang berat. Tampak seekor beruang,
yang terlihat seperti sedang mencari sarapan. Badan besarnya membungkuk,
tangannya mengapai-gapai mengoyak permukaan air. Beberapa ikan gabus kecil
berlarian menyelamatkan diri, menghindar dari empasan tangan si pemakan ikan
itu. Tapi sayang, ada satu ikan kecil yang kurang gesit. Siripnya tak lincah
menghindari bongkah batu. Hap, berpindahlah ikan kecil itu ke tangan si beruang.

"Tolong…pak beruang. Lepaskan aku." Terdengar teriakan mohon ampun dari si
gabus. Tubuhnya meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman
kuku-kuku tajam. "Badanku masih kecil. Pasti kamu tak akan kenyang dengan
memakanku." Beruang hitam itu tertegun mendengar ucapan dari sang ikan. Matanya
terlihat meneliti hasil tangkapannya. "Lepaskan saja aku. Kalau aku besar nanti,
kamu akan tetap bisa menangkapku. Dan pasti kamu akan lebih kenyang." Lagi-lagi
suara si gabus.

Sesaat sang beruang itu terdiam. Hewan itu tampak sedang berpikir. Gerakan si
gabus pun mulai tenang. Dia tak lagi meronta-ronta. Alih-alih ketakutan, ikan
itu terlihat optimis dengan ucapannya. "Kamu benar." Ada suara yang membalas
ucapan sang ikan. "Tapi aku tak pernah melepaskan tangkapanku, walaupun sekecil
apapun." Segera saja, dimasukkanlah ikan kecil itu kedalam mulut beruang.
Beruang itu kembali berkata, "dan hari ini, kamu menjadi sarapan pagiku."

***

Setiap pagi, ada banyak orang yang pergi untuk bekerja. Setiap pagi pula ada
banyak pula yang berdoa dan mengantungkan harapan dari pekerjaannya itu. Mereka
kemudian berharap akan sesuatu yang melimpah, dan bermohon pada sesuatu yang
banyak, dalam cara dan bentuk apapun. Uang yang banyak, hasil yang melimpah,
ataupun keuntungan yang berlipat-lipat. Bisa jadi, itulah yang menjadi
pengharapan setiap orang setiap pagi.

Namun kadangkala, ada hal yang tidak terduga-duga muncul di hadapan. Sering kita
menemui, apa yang kita harapkan itu tak jua menjadi kenyataan. Harapan tentang
sesuatu yang banyak dan melimpah itu, acapkali hadir dalam wujud yang kecil dan
tak seberapa. Bahkan tak jarang, harapan itu hanya tinggal harapan, dan kita
hanya mendapatkan tangan hampa.

Teman, lalu apakah kita kemudian kita akan melepaskan semua hasil kita itu?
Akankah kita membiarkan usaha kita itu lenyap, demi mengharapkan sesuatu yang
melimpah? Saya berani berkata, contohlah sang beruang itu. Sekecil apapun,
seremeh apapun, dan se-tak-seberapapun hasil usaha kita, akan menjadi bentuk
syukur kita kepada Tuhan. Disanalah terletak keikhlasan untuk menerima, untuk
berterimakasih, dan untuk menampilkan rasa harap kita pada Yang Maha Pemberi.
Disanalah akan bisa kita temukan makna keberhasilan yang sesungguhnya.

Jangan pernah membuang kesempatan dan rezeki, Teman. Bukalah setiap pintu
kesempatan yang mengetuk itu. Sebab barangkali, pintu kesempatan dan rezeki itu
tak mengetuk dua kali.

Harimau dan Serigala


Harimau dan Serigala

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama
seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita
serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu.
Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang
telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak
bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari
perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di
mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit,
sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham,
bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai
balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari
gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi
siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya
duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang
pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia
ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak
didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus
dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut,
namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu
sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan,
sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap.
Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan
sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya
bertanya kepada murid-muridnya, "Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari
sana..?".Seorang murid tampak angkat bicara, "Guru, aku melihat kekuasaan dan
kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena
itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan
rezekinya kepada ku lewat berbagai cara."

Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, "Lihatlah
serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan."
Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya.
"Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta.
Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah
berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau."

***

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula,
Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan
ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita
gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya,
ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan.
Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat
usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala
yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana
kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana
pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun,
ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu
sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu
adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin
membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan
ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul
bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di
dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan
kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala
lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.