Sabtu, Januari 17, 2009

Sepatu


Sepatu

Suatu ketika, hiduplah seorang raja baru yang sangat berkuasa. Negrinya luas,
meliputi segenap gunung dan lembah. Rakyatnya banyak, hingga sampai ke ujung
pantai dan dalamnya hutan.

Sang Raja pun sangat perhatian dengan rakyatnya. Hingga, ia sering berkeliling,
dan melakukan pengecekan di setiap wilayah kekuasaannya. Ia ingin lebih dekat
dengan rakyatnya dan mengetahui apa yang dirasakan mereka.

Karena dia baru saja memerintah, sang Raja tak paham dengan semua tanah
kekuasaannya. Saat kembali ke istana setelah perjalanan itu, ia merasa sangat
lelah. Kakinya nyeri dan sakit, setelah melakukan perjalanan panjang. Jalan yang
ditempuhnya memang jauh dan berliku. Sebab, sang Raja enggan untuk di tandu, dan
memilih untuk berjalan kaki, bersama dengan pasukannya.

Sang Raja mengeluh dengan keadaannya ini. Sambil memegang kakinya yang sakit,
sang Raja berpikir bagaimana caranya agar ia tak perlu merasakan nyeri ini
setiap berjalan jauh. Ah, dia menemukan penyelesaian. "Kalau saja, setiap jalan
yang aku lewati dilapisi dengan kulit, dan permadani, tentu, aku akan merasa
nyaman.", begitu gumamnya dalam hati. "Aku tentu tak akan perlu merasakan sakit
seperti ini."

Akhirnya sang Raja memerintahkan prajuritnya untuk melapisi setiap jalan yang di
tempuhnya dengan kulit. Semua jalan, tanpa kecuali. Namun, sebelum sang Prajurit
bergegas untuk melaksanakan, penasehat Raja menyuruhnya untuk berhenti. Sang
Penasehat lalu berkata, "Duli Tuanku, tentu, rencana ini akan memerlukan banyak
sekali kulit dan permadani. Kita akan butuh banyak biaya, dan akan mengurangi
keuangan kerajaan.

Sang Raja tampak heran, dan berkata, "Lalu, apa pendapatmu tentang hal ini?
Penasehat Raja lalu menghampiri sang Raja, kemudian berujar, "Tuanku, mengapa
baginda harus mengeluarkan banyak biaya untuk hal ini? Kenapa Baginda tidak
memotong sedikit saja dari kulit itu dan melapisinya di kaki Baginda?

Baginda terkejut. Namun, tak lama kemudian, Raja setuju dengan usul membuat
"sepatu" itu untuk dirinya. Akhirnya, Raja membatalkan niatnya untuk membuat
jalan dengan kulit. Ia dapat terus melakukan kunjungan ke rakyatnya, tanpa takut
lelah dan nyeri kesakitan.

***

Teman, ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi
tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala, kita harus mengubah cara pandang
kita, hati kita, dan diri kita sendiri, dan bukan dengan jalan mengubah dunia
itu.

Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam pikiran
kita, kadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, kita artikan sebagai milik
kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang
terlibat disana, sebab, seringkali dalam pandangan kita, dunia, adalah bayangan
diri kita sendiri.

Dan teman, jalan yang di tempuh oleh sang Raja memang panjang dan berliku. Ruas
yang ditempuhnya memang terjal dan berbatu. Namun, haruskah ia melapisi semuanya
dengan permadani berbulu? Haruskah jalan-jalan itu dibuat landai dan tenang, dan
menutupnya dengan kulit yang halus?

Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah
yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita
tak pernah merasakan sakit, atau, melapisi hati kita dengan sepatu, agar kita
dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?