Rabu, Januari 28, 2009

Kerikil


Kerikil

Cobalah, tebarkan kerikil ke dalam air: Biarkan memercik, dan batu itu pun kan menghilang Tapi, akan ada belasan riak yang berputar, menjauh dan lepas dari pandang Lingkaran itu akan menyebar dan mengalir Dan tak ada yang tahu kapan akan berakhir

Cobalah, tebarkan kerikil kedalam air, dalam sekejap, mungkin ia tak terkenang

Namun, akan ada gelombang kecil yang terus mengembang, Dan gelombang itu, akan terus berpusar, dan mungkin akan menjadi gelombang badai Bisa jadi, hanya lewat kerikil, kita kan merusak sebuah sungai

Cobalah, tebarkan caci, dan tekun dalam memaki, dalam sesaat, kata itu mungkin kan terlupa Tapi, nanti pasti akan selalu ada jiwa dan hati yang terluka, Hati itu kan tetap merana, tak ada yang tahu kapan dia tetap ada Dan bisa jadi, tak ada yang kita bisa perbuat, saat maki sudah tertanam di dada

Cobalah, sampaikan kata-kata benci, dalam sekejap, mungkin ia akan tak terkenang
Tapi, akan yakinlah, akan timbul jiwa-jiwa pendendam, akan ada airmata yang berlinang
Dan bisa jadi, dalam derai airmata itu Akan ada harapan-harapan yang hilang dan embatu

Tetapi,

Cobalah, sampaikan kata-kata bijak dan menyenangkan, dalam semenit ia mungkin kan terlupa Namun, yakinlah, akan ada gelombang riak-riak bahagia kan tercipta Akan ada pusaran-pusaran cinta yang yang terus membesar Hingga kita seolah tak percaya pada semua kata yang telah kita tebar

Cobalah, sampaikan kata-kata sejuk berisi harapan dan doa, dalam semenit, ia mungkin kan terlupa Namun, rasa bahagia yang tercipta, akan terus nikmat terasa Dan kita akan membuat mereka nyaman dengan semua dendang yang kita nyanyikan Bertahun-tahun lamanya, kata itu kan terus terkenang, walau sekedar ucapan cinta yang kita sampaikan.