Kamis, Februari 09, 2012

Cerita, "Keong"

Seekor keong muda tampak memperhatikan kegiatan satwa di kelilingnya. Ada burung-burung yang mampu terbang tinggi. Sejumlah kelinci yang asyik berlari-larian di rerumputan hijau, melompat kesana dan kemari. Ikan-ikan yang begitu menikmati sejuknya alam air danau yang begitu luas.

“Aih asyiknya mereka,” ucap sang keong menampakkan kekaguman.

Saat itu juga, sang keong muda menyadari sesuatu dari dirinya yang dirasa begitu banyak kekurangan. Ia tak bisa terbang seperti burung. Tak bisa berjalan cepat, apalagi berlari dan melompat, seperti kelinci. Dan tak bisa berenang seperti ikan-ikan.

“Andai aku seperti mereka…,” gumam sang keong memperlihatkan penyesalan diri.
Bayangan wajah-wajah ceria para hewan di sekitarnya kian membuat dirinya merasa terpuruk. “Tuhan tidak adil!” ucapnya kemudian.

Di luar kesadaran sang keong muda, seekor keong tua menghampiri. “Jangan berpikir picik tentang keadilan Tuhan, anakku!” ucapnya bijaksana.

“Berbaik sangkalah kepada Yang Maha Bijaksana, suatu saat, kau akan tahu di balik rahasia ciptaan-Nya…,” sambung sang keong tua sambil berlalu meninggalkan sang keong muda yang masih kebingungan.

Belum lagi kebingungan itu hilang, si keong muda dikejutkan dengan suara pekikan tiga ekor burung elang yang meliuk-liuk di udara. Ketiganya pun menukik ke arahnya, ikan, dan kelinci.

Spontan, tubuh sang keong menyusut dan langsung tertutup rumahnya yang begitu keras. Burung elang yang gagal memangsanya pun terbang meninggalkan diri sang keong yang mulai mengintip ke arah ikan dan kelinci.

Begitu miris, seekor ikan dan kelinci sudah berada dalam genggaman kaki dua ekor elang yang langsung terbang membawa mangsanya ke arah ketinggian.

Saat itulah, ia tersadar sesuatu. “Ah benar apa yang dikatakan pak keong tadi. Begitu banyak rahasia di balik keadilan Yang Maha Pencipta,” ucapnya membatin.

***

Sahabat, salah satu kelemahan kita adalah ketidakmampuan menangkap rahasia keunggulan diri yang telah disediakan oleh Yang Maha Bijaksana. Paradigma berpikir negatif kian menjerumuskan kita kepada sebuah gugatan tentang keadilan Tuhan.

Perhatikanlah, dan bukalah tempurung kepicikan diri yang telah mengungkung kita dalam kegelapan cara berpikir dan bertindak. Berusaha dan bersyukurlah, suatu saat, akan kita temukan begitu banyak anugerah Allah dalam diri kita yang tersekat oleh cara kita melihat diri kita sendiri. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Cerita, "Jam"

Seorang anak batita begitu terheran dengan benda berbentuk lingkaran yang dipenuhi angka-angka. Tiga buah jarum yang menunjuk angka-angka di lingkaran itu pun kian membuatnya tercenung.

Ada jarum tipis warna merah yang menunjuk dari satu angka ke angka lain dengan begitu cepat. Ada jarum yang lebih tebal dan lebih panjang yang bergerak lebih lamban. Dan, ada jarum pendek gemuk yang nyaris tak bergerak, tapi bisa berpindah ketika dalam waktu lama tak diperhatikan.

Yang lebih menarik dari semua pemandangan di benda itu adalah ketika pada saat tertentu, ada burung mainan yang tiba-tiba keluar dari bawah lingkaran tersebut dengan suara khas. “Kuk kuk…kuk kuk…kuk kuk…!”

Saat itulah, sang anak pun melompat riang. Tapi, ia masih bingung dengan benda itu.

“Itu jam, anakku!” suara sang ibu tiba-tiba muncul dari balik tubuh mungil si batita.

“Jam…?” sahut si batita seraya mengungkapkan rasa ingin tahunya.

“Iya. Itu jam. Perhatikanlah, sang burung tidak akan bernyanyi kalau si jarum pendek gemuk tetap saja diam, si jarum pendek gemuk akan tetap diam jika si jarum tebal panjang hanya berhenti. Dan, dua jarum itu tidak akan bergerak kalau saja si jarum merah kecil tidak bergerak lincah,” jelas sang ibu sambil memperhatikan wajah si batita yang begitu serius menatap ibunya. Sesekali, pandangannya menoleh ke arah jam, untuk memastikan kebenaran yang diucapkan ibunya.

“Dan anakku, semua jarum-jarum itu bergerak ke arah yang sama,” tambah sang ibu sambil menunjuk ke arah gerakan jam.

~~~

Jam, dalam makna kehidupan tidak selalu menunjukkan nilai sebuah waktu. Ada sisi lain yang bisa diambil hikmah dari gerakan tiga jarum dalam jam.

Dalam dinamika sebuah organisasi, dinamika tiga jarum jam memberikan makna tersendiri bagaimana interaksi produktif antara pimpinan, manejer, dan pelaksana. Seperti tiga jarum jam, masing-masing level punya intensitas gerakan yang berbeda, karena bobot dan pengaruh gerakannya memang berbeda.

Namun, walaupun punya gerakan yang seolah berbeda, semua level tidak ada yang diam. Semua bergerak dalam sistem yang begitu harmonis. Keharmonisan gerak tiga level inilah yang menghasilkan ‘pengingat suara burung’ yang begitu bermanfaat untuk orang banyak.

Tapi, dari semua nilai pelajaran yang ada dalam tiga level jarum jam, ada satu pakem yang jika dilanggar akan berakibat sangat fatal. Yaitu, walaupun beda level dan beda intensitas gerak, ketiga jarum bergerak dalam arah yang sama. (muhammadnuh@eramuslim.com)