Selasa, Maret 31, 2009

Kepada Yang Tersayang




artikel ini saya kutip dari karya Kangmas Anom, semoga menjadi inspirasi bagi para suami dan istri. Dan bagi anda yang masih lajang (ehem...termasuk saya), bisa jadi bahan surat cinta untuk istri kita kelak..... :)



Kepada Yang Tersayang


Kepada Yang Tersayang Semua Muslimah di Seluruh Bagian Jagad Raya
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ukhti tersayang,
Surat ini khusus buatmu saja.
Sebuah ungkapan hati yang selama ini kupendam jauh didalam lubuk hati.

Ukhti,
Tahukah engkau,
Ada rasa hormat di diri ini, bahkan untuk sekedar menatap wajahmu. Rasanya tak pantas untuk kulakukan itu, karena cahaya Ilahi yang memancar itu terlalu kuat untuk dapat kupandang. Takut hati ini akan getaran yang menyiksa .......

Ukhti sayang,
Sejujurnya ....
Ada semangat yang kau alirkan dalam hari-hariku lewat akhlaqmu yang terkadang menyindir kelemahan dan keluh kesahku. Semangatmu terkadang jauh diatas apa yang bisa dilakukan oleh diri ini.

Ukhti,
Bergetar hati ini,
Setiap namamu disebutkan, atau terpampang dalam sebuah susunan kegiatan amal sholih. Seolah tak habis waktumu untuk korbankan sesuatu bagi kemaslahatan ummat dan kaummu.

Bangga itu menggelegak,
Ketika dengan lancar kau lafadzkan ayat-ayat suci. Ketika namamu menjadi referensi ilmu teman-teman sejawatmu.

Ukhti sholihat,
Kusering membayangkan,
Sambil tersenyum ....
Beberapa bocah kecil berlari riang di sekelilingmu. Bercanda bergelayutan di kerudung panjangmu.

Tiba-tiba seorang diantara mereka terjatuh, wajahnya meringis memegang lututnya. Tangisnya hampir meledak, ketika dengan cepat tanganmu membelai rambutnya yang tertutup jilbab merah muda berenda hasil tanganmu. Sang anak lupa sakitnya, langsung meloncat riang dalam dekapanmu, diiringi teriakan cemburu kakak-kakaknya. Secarik senyuman sekejap menghiasi wajahmu.

Ukhti pujaan,...
Kusering mendamba,
Bercerita tentang lelah diri ini berjuang dalam kalimatNya.

Dengan seksama kau dengar, sambil merapikan beberapa baju taqwa hadiah dari santri-santri binaanmu untukku.
Usaiku bercerita, kau tatap diriku. Lirih tapi pasti kau utarakan janji Allah kepada tentara-tentaranya. Lembut, kau marahi keluh kesah diri ini.
Semangat itu kembali hadir. Lemah itu telah kau buang entah kemana.
Yang tinggal hanyalah aliran harapan untuk bertemu lagi nanti dalam keabadian janji Allah.

Ukhti sayang,
Izinkan diri ini untuk tetap berdo’a pada Pemilikmu.
Izinkan diri ini untuk tetap meminta pada Perancangmu.

Robbana Hablana min Azwajina wa Dzuriyatina Qurrata ‘aiyun waj-alna lil Muttaqiina Imama.

Amin Ya Robbil ‘Alamin.

Ukhti,
Surat ini kutulis untukmu,
Dan hanya untukMu ...

Senin, Maret 30, 2009

Manusia Bahagia Bila....


Manusia Bahagia Bila....

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata.
Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti.

Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati.
Untuk menyadari, betapa ia dicintai.

Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri.
Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati,
berusaha meraih yang tidak dapat diraih,
memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan,
tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada.

Manusia buta karena egois dan hanya memikirkan diri,
tidak sadar bahwa ia begitu dicintai,
tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik,
selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan,
karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri.

Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata
ada teman yang sejati.

Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah,
ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang,
selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.

Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan
nomor satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain,
dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri kita sendiri.
Jikalau berharap dari orang lain, maka bersiaplah
untuk ditinggalkan, bersiaplah untuk dikhianati.

Kita akan bahagia bila kita bisa menerima diri apa
adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau
mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.

Percayalah kepada Allah, dan bersyukurlah kepada-Nya,
bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha
kita, tak perlu berkeras hati.

Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita
butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari.

Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu
banyak orang.

Sabtu, Maret 28, 2009

5 KUNCI PENGOKOH JIWA PENENANG BATHIN



5 KUNCI PENGOKOH JIWA PENENANG BATHIN
DALAM MENGARUNGI PERSOALAN HIDUP

( K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR )


AKU HARUS SIAP MENGHADAPI HIDUP INI , APAPUN YANG TERJADI
- Hidup di dunia ini hanya satu kali , aku tak boleh gagal dan sia – sia tanpa guna .
- Tugasku adalah menyempurnakan niat dan ikhtiar , perkara apapun yang terjadi kuserahkan kepada Alloh Yang Maha Tahu yang terbaik bagiku .
- Aku harus selalu sadar sepenuhnya bahwa yang terbaik bagiku menurutku belum tentu yang terbaik menurut Alloh SWT . Bahkan sangat mungkin aku terkecoh oleh keinginan dan harapanku sendiri.
- Pengetahuanku tentang diriku atau tentang apapun amat terbatas sedangkan pengetahuan Alloh menyelimuti segalanya , Dia tahu awal, akhir dan segala – galanya .
- Sekali lagi betapapun aku sangat menginginkan sesuatu , tetap hatiku harus kupersiapkan untuk menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapanku . Karena mungkin itulah yang terbaik bagiku .

AKU HARUS RELA DENGAN KENYATAAN YANG TERJADI

- Bila sesuatu terjadi , ya … inilah kenyataan dan episode hidup yang harus kujalani .
- Aku harus menikmatinya , dan aku tak boleh larut dalam kekecewaan berlama – lama , kecewa , dongkol , sakit hati tak akan merobah apapun selain menyengsarakan diriku sendiri , dongkol begini , tak dongkol juga tetap begini .
- Hatiku harus realistis menerima kenyataan yang ada , namun tubuh serta pikiranku harus tetap bekerja keras mengatasi dan menyelesaikan masalah ini .
- Bila nasi telah menjadi bubur , maka aku harus mencari ayam , cakweh , kacang polong , kecap , sledri , bawang goreng dan sambal agar bubur ayam spesial tetap dapat kunikmati .

AKU TAK BOLEH MEMPERSULIT DIRI
- Aku harus yakin bahwa hidup ini bagai siang dan malam pasti silih berganti . Tak mungkin siang terus – menerus dan tak mungkin malam terus – menerus , pasti setiap kesenangan ada ujungnya begitupun masalah yang menimpaku pasti ada akhirnya , aku harus sangat sabar menghadapinya .
- Akupun harus yakin bahwa setiap musibah terjadi dengan ijin Alloh Yang Maha Adil , pasti sudah diukur dengan sangat cermat oleh-Nya tak mungkin melampaui batas kemampuanku , karena Dia tak pernah mendzolimi hamba – hamba-Nya .
- Aku tak boleh mendzolimi diriku sendiri , dengan pikiran buruk yang mempersulit dan menyengsarakan diri , pikiranku harus tetap jernih , terkendali , tenang dan proporsional , aku tak boleh terjebak mendramatisir masalah .
- Aku harus berani menghadapi persoalan demi persoalan , tak boleh lari dari kenyataan , karena lari sama sekali tak menyelesaikan bahkan sebaliknya hanya akan menambah masalah . Semua harus dengan tegar kuhadapi dengan baik , aku tak boleh menyerah , aku tak boleh kalah .
- Mesti segala sesuatu akan ada akhirnya , begitupun persoalan yang kuhadapi seberat apapun seperti yang dijanjikan Alloh “Fainnama’al usri yusron inna ma’al ‘usri yusron” dan sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan , bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan . Janji yang tak pernah mungkin dipungkiri Alloh SWT .

EVALUASI DIRI
- Segala yang terjadi mutlak adalah ijin Alloh SWT , dan Alloh tak mungkin berbuat sesuatu yang sia – sia .
- Pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian , sepahit apapun pasti ada kebaikan yang terkandung didalamnya , bila disikapi dengan sabar dan benar .
- Harus kurenungkan mengapa Alloh menakdirkan semua ini menimpaku , bisa jadi peringatan atas dosa – dosa kita , kelalaianku atau mungkin , saat kenaikan kedudukanku di sisi Alloh .
- Mungkin aku harus berfikir keras untuk menemukan kesalahan yang harus kuperbaiki .
- Setiap kejadian bagai cermin pribadiku , aku tak boleh gentar dengan kekurangan dan kesalahan yang telah terjadi , yang penting kini aku mengetahui diriku yang sebenarnya dan aku bertekad sekuat tenaga untuk memperbaikinya , Alloh Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat .

ALLOH-LAH SATU – SATUNYA PENOLONG KU
- Aku harus yakin kalaupun bergabung seluruh manusia dan jin untuk menolongku tak mungkin terjadi apapun tanpa ijin-Nya .
- Hatiku harus bulat total dan yakin seyakin – yakinnya , bahwa hanya Alloh-lah satu – satunya yang dapat menolong memberi jalan keluar terbaik dari setiap urusan .
- Tidak ada yang mustahil bagi-Nya , karena segala – galanya adalah milik-Nya dan sepenuhnya dalam kekuasaan-Nya .
- Tak ada yang dapat menghalangi jikalau Dia akan menolong hamba-hamba-Nya , - Dia-lah yang mengatur segala sebab datangnya pertolongan-Nya .
Oleh karena itu aku harus benar – benar berjuang , berikhtiar untuk mendekati-Nya dengan mengamalkan apapun yang disukai-Nya dan melepaskan hati ini dari ketergantungan selain-Nya , karena selain Dia hanyalah sekedar makhluk yang tak berdaya tanpa kekuatan dari-Nya .
- Ingatlah selalu janji-Nya “Barangsiapa yang bertaqwa kepada-Ku , niscaya Ku beri jalan keluar dari setiap urusannya dan Kuberi rizki / pertolongan dari tempat yang tak terduga , dan barangsiapa yang bertawakal kepada-Ku , niscaya akan kucukupi segala kebutuhannya.” (At-Thalaq:2-3)

Jumat, Maret 27, 2009

SAHABAT


SAHABAT


Alangkah indah hidup ini dalam rengkuhan persahabatan sejati.
Anyaman ukhuwah yang tersimpul rapi
dengan pernik-pernik yang jauh dari dimensi jasady
Justru sentuhan-sentuhan ukhrawi sangat kental terasa.

Satu hal yang membuat kita berbeda memang,
kenyataan fitrah dan terkadang fitnah,
akan runtutan Adam dan Hawa
yang didalamnya memuat jurang-jurang rasa.

Sahabat,
Bagaimana aku hendak membalas budi baikmu.
Motivasimu yang tiada pernah henti,
memicu diri untuk tidak sepi dari inovasi.
Keceriaan ukhuwah yang kau tawarkan,
membangkitkan seri tatkala diri lesu dan tiada berdaya.

Sahabat,
Sebuah azzam diri dan permintaan seluruh,
samakan dan sematkan doa,
agar tetap tegar dan istiqomah,
terlepas dari jebakan rasa.
Mampu mengemban amanah sebagai seorang sahabat dari sahabat lain
untuk tidak mengkhianati persahabatan atau ukhuwah
hanya karena “rasa”,
selamatkan hati dari kenistaan duniawi.
Allah-lah yang pantas untuk dicintai.

Wahai segala jiwa mari suburkan semula hati-hati yang mulai gersang.
Ingatlah bahwa gerak diri bermula dari hati.
Bukankah tarbiyah umat membutuhkan hatimu?
Sahabat,
Alangkah indah hidup ini dalam rengkuhan persahabatan sejati.

Kamis, Maret 26, 2009

Lemparan Batu Kecil


Lemparan Batu Kecil

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya itu, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu, lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun mendapatkan hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide, Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah temannya tadi. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, sekarang temannya menengadah ke atas. Dan pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

***

Sahabatku, Allah kadang menciptakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena seringkali Allah melimpahi kita dengan nikmat-Nya, akan tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya.

Maka janganlah bersedih ketika banyak ujian dan cobaan dalam kehidupan kita, karena yang seharusnya kita sedihkan adalah ketika kita tanpa sadar bahwa kita jarang menengadah kepada-Nya.

Oleh karena itu, agar kita selalu ingat akan Dia, Allah menjatuhkan "batu kecil" kepada kita. Akan tetapi sayang, banyak orang yang tidak sadar akan maksud lemparan itu, bahkan kita marah kepada yang melempar batu kecil tersebut.

Rabu, Maret 25, 2009

Takdir


Takdir

Pernah suatu ketika saya mengikuti sebuah training. Materi training disampaikan di sebuah masjid. Saat itu materi yang disampaikan adalah masalah takdir. Karena peserta ternyata belum begitu memahami bagaimana hakekat sebuah takdir. Mereka mengeluh kanapa mereka ada yang kaya, dan sebagian mereka ada yang miskin.

Kemudian sang trainer duduk dengan bersila dan bertanya, “Apakah saya duduk seperti ini takdir?”

“ya!”, jawab peserta.

Kemudian sang trainer duduk diatas meja dan bertanya, “Apakah saya duduk seperti ini takdir?”

“ya!”, jawab peserta kompak.

Kemudian sang trainier berdiri, sambil meletakkan kakinya diatas meja yang agak pendek, lalu bertanya kembali, “Apakah saya duduk seperti ini juga takdir?”

“Iya”, jawab peserta sambil penasaran.

“jadi apakah boleh saya bilang bahwa takdir itu sebuah pilihan? Ketika saya ingin menjadi seorang yang baik, maka saya memilih duduk sopan dengan bersila, dan ketika saya ingin menjadi orang yang nakal, maka saya duduk diatas meja, ketika saya memilih menjadi orang yang menjengkelkan, maka saya berdiri sambil mengangkat kaki saya diatas meja, sedang kalian duduk bersila dibawah?.”

“ya sih!” jawab peserta yang mulai paham maksud dari penjelasan trainer.

“Jadi takdir itu sesuatu yang hal yang sudah terjadi, ketika anda saat ini menjadi sholeh, karena anda memilih pilihan yang diberikan oleh Allah untuk menjadi seorang yang sholeh, dan sebaliknya ketika anda saat ini menjadi berandalan, karena anda yang memilih takdir menjadi berandalan, dan anda sudah diberikan pilihan dan petunjuk oleh Allah, jalan manakah yang akan membawa kita ke neraka, dan jalan manakah yang akan membawa kita ke surga. Dan saat ini kita sudah memilihnya”

“Begitu juga dengan kekayaan, Allah sudah memberikan pilihan melalui petunjuk-Nya, bagaimana jalan menuju kaya, dan jalan menuju kemiskinan. Tinggal pilihan mana jalan yang akan kita lalui.”

”Banyaklah berdoa kepada Allah, agar kita selalu diberikan petunjuk agar selalu memilih jalan benar menurut-Nya.”

***

Sahabatku, mungkin sering tepintas dalam pikirian kita tentang peristiwa tersebut, dan mungkin juga ada perbedaan dalam memahami hakekat suatu takdir. Akan tetapi yang jelas pastinya kita tidak mengetahui bagaimana takdir kita besok (jangan percaya sama reg-reg ramalan ya! Bisa-bisa syirik kita), kita hanya berusaha dan optimis untuk menjadikan takdir kita menjadi takdir yang baik, karena Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum mereka merubahnya sendiri. Jadi, optimislah! Dan berusahalah untuk menjalani kehidupan ini dengan yang perbuatan dan amalan terbaik. Tentunya dengan mengharap ridho-Nya saja.
Wallahua’lam...

Senin, Maret 23, 2009

Istimewanya Wanita Islam


Istimewanya Wanita Islam

(RB Widodo)



Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini :

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suami apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
7. talak terletak di tgn suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM"

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?

Itulah bandingannya dengan seorang wanita. Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya Allah... demikian sayangnya Allah pada wanita... khan?
Maka berbahagialah engkau wahai Wanita Muslimah...

Minggu, Maret 22, 2009

Garam


Garam

Seorang anak benama Rafi, mengeluh kepada ayahnya yang sedang makan di ruang makan, “Ayah, guruku tidak adil, masak si Budi kok yang ditunjuk jadi ketua kelas. Padahal aku adalah anak yang terpintar di kelas, aku juga sering membantu Pak guru. Padahal aku yakin akan menjadi ketua kelas.” keluh Rafi sambil cemberut.

”Begitu ya?” tanya sang ayah, sambil menyelesaikan makannya. ”Rafi anakku, lihatlah sup buatan Ibumu ini, menurutmu apa yang membuat sup ini enak?” tanya ayah.

”Hm....pastinya karena banyak sayurnya, ada dagingnya juga, juga penampilannya yang menggugah selera.” jawab sang anak.

”Jawabanmu benar Rafi, akan tetapi itu bukan faktor yang paling utama yang menjadikan sup ini menjadi enak.” kata ayah.

”lalu apa Ayah?” tanya Rafi penasaran.

”Garam! Tanpa adanya garam semua sayuran, daging, kuah akan terasa hambar. Lalu apakah engkau melihat wujud garam dalam sup ini?” tanya ayah lagi.

”Ya nggak dong Ayah, kan sudah larut dalap sup itu” jawab Rafi.

”Kamu benar, garam dalam sup ini tidak terlihat sama sekali, akan tetapi semua orang mengakui akan keberadaan, dan kemanfaatan dalam sup ini, bahkan di semua masakan, tanpa harus terlihat.” kata ayah sambil menatap mata Rafi.

”Begitu juga dalam kehidupan ini Rafi, kita tidak harus tampak, menonjol, populer di depan banyak orang, akan tetapi yang paling utama adalah ketulusan kita dalam berbuat, beramal, membantu. Jadi, menjadi ketua kelas bukanlah faktor utama, walaupun itu juga bermanfaat, akan tetapi ketulusan hatimu dalam berbuat amal itu yang akan diakui dan dikenang selamanya di hati teman-temanmu. Maka jadilah engkau seperti garam.”

***

Sahabatku, ada perasaan sedih ketika para caleg-caleg saling bersaing, saling menghujat, bahkan saling menjatuhkan di internal partainya masing-masing. Kalau mereka tulus berjuang demi rakyat, kenapa harus ngotot menjadi pemimpin sehingga menghalalkan segala cara. Bahkan sampai memfitnah orang lain. Sungguh menyedikan.

Ketika menjadi pemimpin, memang perjuangan kita menjadi lebih efektif, akan tetapi ketulusan perjuangan adalah faktor utama dalam merubah bangsa ini menjadi lebih baik, tidak harus menjadi pemimpin. Jadi, janganlah terlalu ngotot menjadi pemimpin, bahkan sampai mempertaruhkan segala hartanya.

Jadilah seperti besi beton dalam suatu bangunan, dia tidak terlihat sama sekali, akan tetapi semua orang menyadari bahwa besi betonlah yang menyebabkan suatu bangunan berdiri dengan tegap dan kokoh.

Wahai para caleg, sudah tuluskah anda memperjuangkan bangsa ini menjadi lebih baik?

Sabtu, Maret 21, 2009

Apakah Anda Sudah Belajar


Apakah Anda Sudah Belajar

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya, saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya...

Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat, justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali serta orang yang begitu perhatian pada saya..

Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik....

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh, walau dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya....

Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya pasangan itu, mereka pasti pernah melukai perasaan saya..... dan untuk itu saya harus memaafkannya...

Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain...., kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus....

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya...

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri....

Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya, tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya....

Saya belajar, bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati....

Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis....

Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering diambil segera dari kehidupan saya....

Kamis, Maret 19, 2009

Rumah Sempit


Rumah Sempit

Alkisah ada seseorang bernama Abdul mengeluh kepada Pak Kyai, orang yang dianggap bijaksana di kampungnya. Ia mengeluh karena rumahnya yang sangat sempit. Ia bersama keluarganya tidak nyaman tinggal dirumahnya.

Kemudian Pak Kyai itu bertanya, "Baiklah, insya Allah saya bisa mengatasi permasalahan kamu, akan tetapi ada dua syaratnya, yang pertama ikuti segala perintah saya, yang kedua jangan bertanya dan protes terhadap apa yang saya perintahkan. Bagaimana sepakat?" Sejenak Abdul berfikir, "hmm.....baiklah Pak Kyai, saya sepakat!. Apa perintah Pak Kyai?"

Kemudian Pak Kyai kebelakang mengambil seekor bebek peliharaannya, "nih, pelihara bebek ini di rumahmu!" perintahnya. "Pak Kyai bercanda ya? Rumah saya kan sempit, kok malah ditambah memelihara bebek sih?" protes Abdul. "Lupa ya syarat kedua perjanjian kita? Jangan tanya dan protes! Lakukan! Datanglah 3 hari lagi kemari!" tegas Pak Kyai. Dengan berat hati Abdul pun menjalankan perintah Pak Kyai.

Tiga hari kemudian Abdul datang ke rumah Pak Kyai, "Bagaimana Abdul?" tanya Pak Kyai. "Sudah jelas, semakin terasa sempit." keluh Abdul. "Baiklah, sekarang perintah kedua, pelihara kambing ini juga dirumahmu" perintah Pak Kyai sambil membawa kambing peliharaannya.. "Tapi Pak Kyai........?", "Jangan tanya dan protes, lakukan saja! Datang kemari lagi setelah 3 hari" Pak Kyai mengingatkan. Abdulpun kembali dengan membawa seekor kambing, dia menyesal karena melakukan kesepakatan dengan Pak Kyai.

Tiga hari kemudian, Abdul datang kerumah Pak Kyai. "Bagaimana?", dengan wajah cemberut Abdul berkata, "Pak Kyai menyiksaku ya? Keluargaku jadi tidak betah dirumah!". "Sabar Abdul, Baiklah bawa kemari lagi bebek dan kambingku! Kemudian datang kemari lagi setelah tiga hari."

Tiga hari kemudian, "Bagaimana Abdul?" tanya Pak Kyai, "Sekarang jadi tenang dan nyaman Pak Kyai, seolah-olah rumah saya jadi luas karena tidak ada gangguan bebek dan kambing.".

"Begitulah Abdul, saya menilai rumahmu itu sudah cukup luas, akan tetapi pandangan dan hatimu sungguhlah sempit. Hari ini kamu merasa rumahmu begitu luas, karena engkau merasakan bagaimana kondisi ketika rumahmu lebih sempit. Lihatlah tetangga-tetangga kita yang memiliki rumah yang jauh lebih sempit dari rumahmu. Dan cobalah bayangkan ketika kita dalam kondisi seperti mereka. Maka akan timbul rasa syukur dalam hatimu. Dan sebaliknya ketika engkau melihat tetangga kita yang rumahnya lebih luas daripada rumahmu, maka akan timbul rasa sempit dalam hatimu. Jadi, semua tergantung pada cara pandang kita. Maka, ubahlah segala pandanganmu menjadi pandangan syukur, maka rumah, dan hatimu akan terasa luas, Insya Allah."

***

Sahabatku, saya jadi teringat ceramahnya Ustadz Zaenudin,MZ. Beliau bercerita (maaf agak di modifikasi), ada seorang pemuda yang sedang menggayuh sepeda tua berkata dalam hati "Alhamdulillah, walaupun saya tidak memiliki sepeda motor, saya masih memiliki sepeda ini, sedang tetangga saya masih berjalan kaki.",

Dilain tempat tetangga yang berjalan kaki dalam hatinya berkata, "Alhamdulillah, saya masih bisa berjalan kaki, sedang tetangga saya tidak memiliki kaki karena kecelakaan, jadi harus memakai kursi roda."

Dilain tempat, tetangga yang menggunakan kursi roda berkata dalam hati, "Alhamdulillah saya masih bisa berjalan walau menggunakan kursi roda, sedang tetangga saya hanya bisa berbaring di tempat tidur karena lumpuh."

Dilain tempat, tetangga yang lumpuh berkata dalam hati, "Alhamdulillah saya masih bisa beribadah dan bertobat, sedang tetangga saya mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, Na'udzubillahimindzalik...."

Yakinlah sahabatku, ketika kita memandang segalanya dengan pandangan syukur, hidup ini akan terasa lebih nikmat dan indah.

Selasa, Maret 17, 2009

Lucu Ya ???


Lucu Ya ???


Lucu ya, uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal
mesjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket....

Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir, tapi
betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan sepakbola....

Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam
berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop....

Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat,
tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan (gossip) bila ketemu teman....

Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan badminton favorit
kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan
bacaannya....

Lucu ya,susah banget baca Al-Quran 1 juz saja, tapi novel
best-seller lebih dari 100 halaman pun habis dilalap....

Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton konser tapi
berebut cari shaf paling belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar....

Lucu ya,kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu sebelumnya agar bisa
disiapkan di agenda kita, tapi untuk acara lain jadwal kita gampang diubah
seketika ....

Lucu ya,susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya
orang berpartisipasi menyebar gossip....

Lucu ya,kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi kita sering
mempertanyakan apa yang dikatakan Al Quran....

Lucu ya,kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, tapi bila
ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua-kali....

Lucu ya,semua orang penginnya masuk surga tanpa harus
beriman,berpikir, berbicara ataupun melakukan apa-apa tapi....

LUCU YA..... !

(Author : syahril)

***

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu'min bahwa
sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah."
(QS.33:47)

Minggu, Maret 15, 2009

Hijab = Terkekang


Hijab = Terkekang


Banyak yang bilang...
hijab adalah bentuk pengekangan terhadap wanita...
Banyak juga yang bilang...
dengan berhijab wanita tidak bebas dalam berbuat...
benarkah itu semua tujuan diturunkannya perintah berhijab ?

Allah ta'ala telah berfirman...
memerintahkan setiap wanita yang beriman...
'tuk mengenakan hijab atau kerudungnya bila keluar rumah...
atau ketika bertemu dengan mereka yang bukan muhrimnya...
agar mereka lebih mudah dikenal dan tidak mendapat gangguan

Ya...dengan berhijab...
Wanita Muslimah menunjukkan identitasnya...
menunjukkan kebanggaan dan izzah sebagai pemeluk Dienullah...
menunjukkan kesungguhan dan ketaatan sebagai hamba-Nya...
menunjukkan penjagaan terhadap kehormatan dan kesucian
dirinya

Dengan berhijab...
bukan berarti Muslimah terkekang hidupnya...
bukan berarti Muslimah tak lagi punya kebebasan...
bahkan dengan hijab yang melindungi kehormatannya...
Muslimah bisa menunjukkan potensi diri yang sebenarnya

Muslimah yang berhijab...
tidak lagi dihormati karena kecantikannya...
tidak lagi dinilai dengan penampilan dirinya...
tapi naluri dan daya pikirnyalah yang sekarang menentukan...
yang menjadi tolok ukur orang lain dalam menilai dirinya

Muslimah yang berhijab...
terbebas dari belenggu tuntutan penampilan...
terbebas dari segala pelecehan harga dirinya...
Bebas dan merdeka yang berbeda dengan wanita lainnya...
bebas dan merdeka sebagaimana kodratnya sebagai wanita

Maha Benar Allah atas segala Firman-Nya...
Maha Bijaksana Allah atas segala Perintah-Nya...
Maha Adil Allah atas segala Keputusan-Nya...
Maha Penyayang Allah atas segala Hukuman-Nya...
Maha Kuasa Allah atas segala-segalanya

(prayoga.net)

Perangkap Tikus


Perangkap Tikus

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya, saat membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? Tapi, dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Kemudian tikus itu lari kembali ke ladang pertanian dan menjerit memberi peringatan;

"Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!" kata tikus.

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruki tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku sakit kepala-lah."

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing. Katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!"

"Wah, aku menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "Tetapi tak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam doa-doaku!"

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. "Oh? sebuah perangkap tikus? Jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa, dengan berleleran air liurnya.

Lalu tikus itu kembali ke rumah, dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh-sungguh sendiri. Malam tiba, dan terdengar suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsa. Istri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan istri petani itu.

Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit. Si istri kembali ke rumah dengan tubuh menggigil, demam. Dan, sudah menjadi kebiasaan, setiap orang sakit demam, obat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat.Petani itu pun mengasah pisaunya, dan pergi ke kandang, mencari ayam untuk bahan supnya. Tapi, bisa itu sungguh jahat, si istri tak langsung sembuh. Banyak tetangga yang datang membesuk, dan tamu pun tumpah ruah ke rumahnya. Ia pun harus menyiapkan makanan, dan terpaksa, kambing di kandang dia jadikan gulai. Tapi, itu tak cukup, bisa itu tak dapat taklukkan. Si istri mati, dan berpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu di kandang pun dijadikan panganan, untuk puluhan pelayat dan peserta selamatan.

(Author : Imelda)

***

Sahabatku, apakah diri kita ini seperti hewan-hewan itu? Yang tidak peduli dengan keadaan saudara-saudara terdekat kita. Jangankan kita peduli kepada mereka, sudahkah kita mengenal tetangga-tetangga sebelah kita? Tahukah engkau kondisi mereka saat ini?

Apabila Anda mendengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan anda pikir itu tidak ada kaitannya dengan anda, ingatlah bahwa apabila ada "perangkap tikus" di dalam rumah, seluruh "ladang pertanian" ikut menanggung risikonya. Sungguh sikap mementingkan diri sendiri, egois akan berakibat buruk kepada diri kita sendiri. Percayalah!

Kamis, Maret 12, 2009

Kentang


Kentang

Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan. Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.

Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.

Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai. Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

***

Teman, pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu, sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.

Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap, bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.

Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan. Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedegilan hati.

Rabu, Maret 11, 2009

Olimpiade


Olimpiade

Beberapa tahun yang lalu, di selenggarakan sebuah Olimpiade khusus bagi Penyandang Cacat di Seattle, AS. Saat itu, ada 9 orang, dengan keterbatasan fisik dan mental, yang akan berlomba untuk lari jarak pendek 100 meter. Mereka telah bersiap-siap di ujung garis start. Saat peluit tanda dibunyikan, mereka semuapun bergegas untuk memenangkan pertandingan itu.

Semuanya mulai berpacu. Kecuali, seorang anak yang terjatuh ke aspal, terjungkir beberapa kali, dan mulai menangis. Ke delapan peserta lainnya mendengar tangisan itu. Mereka lalu memperlambat lari, dan menengok ke belakang. Semuanya berbalik arah, dan menuju ke arah anak itu. Semuanya, berjalan perlahan dan melupakan lomba.

Seorang gadis yang cacat mental, menghampiri anak itu. Dia memapah, dan memberikan sebuah ciuman. "Semoga ini membuatnya lebih baik", kata gadis itu. Mereka semua, lalu, mulai membantu memapah anak itu, saling tolong, saling membahu. Mereka lalu bergandeng tangan, berjalan berjalan perlahan menuju garis finish bersama-sama.

Semua orang yang ada di stadiun terkejut, dan bertepuk tangan. Gemuruh tepuk itu berlangsung beberapa saat. Pujian dan komentar terdengar bersahutan menanggapi kejadian ini. Sebuah momen kemanusiaan baru saja terjadi.

***
Sahabatku, kita dapat satu hikmah dari cerita ini. Dalam hati kecil ini, kita belajar satu hal: Dalam hidup, memang, sesungguhnya bukan sekedar "menang" untuk diri sendiri. Hidup, lebih dari hanya sekedar mementingkan kejayaan, dan piala-piala.

Apa yang sesungguhnya penting dalam hidup, adalah, membantu orang lain untuk menang, untuk berhasil, walaupun itu akan berarti kita berjalan lebih lambat. Toh, kejayaan, bisa memudar, bisa menghilang, namun, uluran tangan kita pada orang lain, tak bisa hilang, tak bisa memudar.

Sebuah uluran tangan, sebuah senyum yang tulus, sebuah kata untuk menghibur, sebuah telinga yang kita sisihkan untuk "mendengar" orang lain, bisa jadi lebih berarti dari pada piala-piala dan kejayaan itu.

Senin, Maret 09, 2009

Hikmah pengharaman Babi


Hikmah pengharaman Babi

Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, "Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?"

Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina. Mengetahui hal itu, mereka bertanya, "Untuk apa semua ini?" Beliau menjawab, "Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia." Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut. Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.

Selanjutnya beliau berkata, "Saudara-saudara, daging babi membunuh 'ghirah' orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya."

Hidangan Islami: Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syari'at dan Sains Modern
Gema Insani Press

Milis Eramuslim
Dikirim oleh: Iskandar Eva N.
Jum'at, 27 Juli 2001

Minggu, Maret 08, 2009

Keluarga Kura-kura


Keluarga Kura-kura

Alkisah, ada sekeluarga kura-kura yang hendak pergi bertamasya. Seperti yang kita kenal, kura-kura adalah binatang yang selalu lambat dalam semua hal. Untuk acara tamasya ini saja, mereka membutuhkan 7 tahun untuk membereskan segalanya. Walau akhirnya, keluarga kura-kura ini berhasil meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang nyaman untuk bertamasya.

Setelah berjalan selama 2 tahun, akhirnya mereka menemukan tempat yang cocok. Enam bulan kemudian, mereka lalu selesai membersihkan lokasi tamasya, membuka perbekalan dan menata tempat beristirahat. Ah, ternyata ada yang tertinggal. Keluarga itu lupa bahwa mereka tak membawa garam. Bagi keluarga kura-kura, bertamasya tanpa garam adalah sebuah malapetaka. Harus ada anggota keluarga yang mengambilnya di rumah.

Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya terpilihlah si bungsu untuk mengambil garam di rumah. Sebab, si bungsu adalah kura-kura tercepat dari keluarga itu. Akan tetapi, walaupun terpilih sebagai kura-kura tergesit, si bungsu enggan melaksanakan tugasnya. Ia menggerutu sambil mengurung diri dalam tempurung. Setelah dibujuk, akhirnya si bungsu mau juga pergi, tapi dengan satu syarat: Tak ada yang boleh makan sebelum ia kembali. Keluarganya menyetujui, dan si bungsu pun pergi.

Tiga tahun berlalu dan si bungsu belum juga kembali. Lima tahun...enam tahun...akhirnya, di tahun ke tujuh kepergian si bungsu, si sulung tak tahan lagi untuk menyantap perbekalan yang telah disiapkan

Si sulung lalu berseru bahwa ia akan mulai makan, sambil membuka bungkusan makanannya. Pada saat itu, tiba-tiba si bungsu muncul dari balik pepohonan dan berteriak, "Ahaa....aku tahu kalian tak akan menungguku. Sekarang aku tak mau pulang untuk mengambil garam."

***

Teman, banyak dari kita yang sering menghabiskan waktu dengan menunggu orang melakukan apa yang kita inginkan. Kita selalu ingin, semua mengikuti cara pikir kita, pola pandang kita, dan gaya kita. Kita juga sering sibuk memikirkan tentang apa yang orang lain lakukan, padahal, kita sendiri tak melakukan apa-apa.

Kita, seringkali sibuk dengan kesalahan orang lain, dan kerap menyalahkannya. Kita, tak jarang meremehkan kepercayaan yang diberikan orang lain, dan sering melupakannya. Kita sering menjadi si bungsu yang selalu curiga. Padahal, bukankah kita hidup tak sendiri, butuh orang lain, dan butuh pertolongan?

Rabu, Maret 04, 2009

Pakaian


Pakaian

Suatu ketika, hiduplah sebuah keluarga yang sederhana. Mereka tak kaya, walaupun juga tidaklah miskin. Pada suatu malam, saat keluarga itu sedang bersiap untuk makan, ada sebuah ketukan di pintu depan rumah mereka. Sang Ayah lalu menghampiri pintu itu, dan membukanya.

Disana, berdiri seorang pria tua, yang berpakaian kumuh, dengan celana yang koyak, dan baju dengan beberapa buah kancing yang hilang. Pria itu rupanya penjual buah-buahan. Ia bertanya apakah keluarga itu membutuhkan hidangan penutup. Sang Ayah segera mengiyakan, sebab, ia ingin agar pria itu segera pergi.

Namun, lama kemudian, hubungan itu menjadi semakin erat.

Setiap minggu, pria tua itu selalu membawakan sekeranjang buah-buahan pada keluarga tadi. Dan keluarga itu juga selalu membelinya. Keluarga itu juga menyadari, ternyata pria tua itu juga hampir buta, akibat katarak yang di deritanya. Tetapi, pria tua itu begitu bersahabat, sehingga, keluarga itu pun menyadari bahwa, ia orang yang menyenangkan. Dan mereka selalu menantikan kehadiran pria dengan keranjang buah itu.

Suatu hari, saat hendak menyampaikan buah-buahan, pria tua itu berkata, "Aku punya anugrah yang sangat besar kemarin. Aku menemukan sekeranjang pakaian yang ditinggalkan seseorang buatku di depan rumah. Rupanya, ada yang ingin memberikan keranjang itu buatku."

Keluarga tadi, yang yakin bahwa pria itu sangat membutuhkan pakaian, lalu berujar, "Ya, bagus sekali. Anda pasti senang sekali dengan anugrah itu."

Pria tua yang hampir buta itu lalu berkata lagi, "Namun, anugrah terbesar yang aku dapatkan adalah, aku menemukan keluarga lain yang lebih patut menerimanya daripadaku.

***

Teman, ini adalah sebuah cermin buat kita. Cermin dimana kita bisa berkaca, dan memahami, bahwa, terlalu sering kita merasa tak cukup dengan semua pemberian Allah. Terlalu sering, kita berpikir, bahwa, kitalah yang paling berhak untuk di tolong, yang paling cocok, untuk mendapatkan pemberian.

Kita, kadang terlalu serakah, terlalu tamak dengan semua anugrah yang Allah berikan buat kita. Seakan-akan, semua yang kita dapatkan, HANYALAH, buat kita sendiri. Padahal, kita semua tahu, dalam setiap anugrah yang kita dapatkan, terselip juga hak-hak orang lain. Dan, akibat ketamakan itu, kitapun kadang enggan untuk berbagi. Enggan untuk menyampaikan anugrah itu kepada yang lebih patut, dan lebih berhak menerimanya.

Senin, Maret 02, 2009

Kekuatan Kata-kata


Kekuatan Kata-kata

Suatu ketika, ada sekelompok kodok yang berjalan melintasi hutan. Merekasemua berjalan beriringan. Hop..hop..lompat..lompat, begitu cara merekaberjalan. Tapi, plung...., tiba-tiba, ada 2 ekor kodok yang terjatuh kedalam sebuah lubang yang dalam.

Semuanya kebingungan. Mereka lalu berkumpul di pinggir lubang, dan melonggok ke bawahnya. Saat itulah mereka melihat, betapa dalamnya lubang itu. Mereka semua berpikir, 2 ekor kodok itu pasti sudah mati karena terjatuh. Namunmereka keliru, saat terdengar suara dari bawah sana. Tolong...tolong, begitu teriak mereka.

Tak ada yang dapat mereka lakukan, karena, memang, lubang itu terlalu dalam bagi seekor kodok. Mereka yang ada dipinggir lubang sudah kehilangan semangat. Mereka berseru, tak ada gunanya berusaha, sebab, kecil kemungkinan bagi keduanya untuk selamat. Mereka mengatakan, setiap kodok yang terjatuh kedalam lubang itu, pasti mati.

Namun, kedua kodok itu menghiraukan mereka. Keduanya mencoba melompat dan terus melompat agar dapat mencapai bibir lubang. Mereka lakukan berbagai cara agar dapat keluar dari lubang tersebut.

Akan tetapi, semua kodok yang diatas telah patah semangat. Mereka tetap menyarankan agar keduanya berhenti berusaha. Sebab tak ada yang pernah berhasil keluar dari lubang itu sebelumnya. "Hentikan perbuatan itu, teriak mereka..."Kalian hanya membuang tenaga dengan melompat-lompat seperti itu. Kalau tak mati kelaparan, kalian pasti akan mati kelelahan."

Akhirnya, ada salah satu dari kodok itu yang menyerah. Sebab, kodok itu berpendapat, ia pasti tak akan berhasil. Semua temannya pun berpendapat yang sama. Tak ada yang pernah selamat dari lubang ini. Begitu pikir sang kodok pertama. Ia lalu melompat, terjatuh dan akhirnya mati.

Namun, kodok yang kedua tetap melanjutkan usahanya. Ia terus melompat dan melompat. Sekali lagi, kumpulan kodok yang ada dipinggir lubang berteriak agar ia menghentikan usahanya. Mereka terus memperingatkan sang kodok ini. "Ayo..ayo..sudahlah, hentikan perbuatan bodoh itu. Jangan pernah berpikir untuk berhasil, lubang ini terlalu dalam buat seekor kodok sepertimu." Begitu teriak mereka bersama-sama.

Sang kodok itu berusaha lebih keras dan lebih keras. Akhirnya ia berhasil. Sebuah lompatan yang tinggi membuatnya dapat mencapai pinggir lubang. Ahhha.....plop. Sang kodok sampai di atas kembali.

Saat sampai diatas, teman-temannya berseru, "Hei...apakah kamu tidak mendengarkan kita semua?"

Kodok itu malah berkata, "sobat, terima kasih atas sorakan-sorakan itu. Lho? Semuanya malah saling berpandangan.

Ohho...tak lama kemudian kelompok kodok itu mengerti. Kodok kedua lalu menjelaskan bahwa, SEBENARNYA ia tuli, dan menyangka, semuanya tadi berusaha menyemangatinya agar terus mencoba melompat....

***

Sahabat, kisah ini mengajarkan kita 2 hal. Pertama, ada kekuatan antara hidup dan mati yang terletak dalam sebuah ucapan. Kata-kata yang berisi semangat kepada seseorang yang sedang lara dan dirundung kemalangan akan dapat membuatnya nyaman. Kata-kata yang menyejukkan akan dapat membuatnya melewati hari-hari dengan lebih cerah.

Kedua, kata-kata yang memojokkan, yang hanya bercerita tentang kemalangan, akan dapat "membunuh" orang lain. Kata-kata itu hanya akan membuat orang yang sedang dilanda kesedihan, menjadi patah semangat.

Teman, berhati-hatilah pada setiap kata yang kita ucapkan. Kadangkala, kata-kata yang kita ucapkan akan sangat berpengaruh kepada orang lain. Kata-kata itu bisa membuat orang frustasi, pesimis, dan enggan berusaha. Sangat sayang jika seandainya, semua ucapan itu hanya akan merenggut jiwa-jiwa pantang menyerah yang sebenarnya ada di dalam raga.

Sungguh mulia mereka yang dapat membuat hidup orang lain lebih cerah, lebih nyaman, lebih indah dan lebih menyenangkan. Karena, bukankah "Hidup itu Indah?"