Rabu, Maret 11, 2009

Olimpiade


Olimpiade

Beberapa tahun yang lalu, di selenggarakan sebuah Olimpiade khusus bagi Penyandang Cacat di Seattle, AS. Saat itu, ada 9 orang, dengan keterbatasan fisik dan mental, yang akan berlomba untuk lari jarak pendek 100 meter. Mereka telah bersiap-siap di ujung garis start. Saat peluit tanda dibunyikan, mereka semuapun bergegas untuk memenangkan pertandingan itu.

Semuanya mulai berpacu. Kecuali, seorang anak yang terjatuh ke aspal, terjungkir beberapa kali, dan mulai menangis. Ke delapan peserta lainnya mendengar tangisan itu. Mereka lalu memperlambat lari, dan menengok ke belakang. Semuanya berbalik arah, dan menuju ke arah anak itu. Semuanya, berjalan perlahan dan melupakan lomba.

Seorang gadis yang cacat mental, menghampiri anak itu. Dia memapah, dan memberikan sebuah ciuman. "Semoga ini membuatnya lebih baik", kata gadis itu. Mereka semua, lalu, mulai membantu memapah anak itu, saling tolong, saling membahu. Mereka lalu bergandeng tangan, berjalan berjalan perlahan menuju garis finish bersama-sama.

Semua orang yang ada di stadiun terkejut, dan bertepuk tangan. Gemuruh tepuk itu berlangsung beberapa saat. Pujian dan komentar terdengar bersahutan menanggapi kejadian ini. Sebuah momen kemanusiaan baru saja terjadi.

***
Sahabatku, kita dapat satu hikmah dari cerita ini. Dalam hati kecil ini, kita belajar satu hal: Dalam hidup, memang, sesungguhnya bukan sekedar "menang" untuk diri sendiri. Hidup, lebih dari hanya sekedar mementingkan kejayaan, dan piala-piala.

Apa yang sesungguhnya penting dalam hidup, adalah, membantu orang lain untuk menang, untuk berhasil, walaupun itu akan berarti kita berjalan lebih lambat. Toh, kejayaan, bisa memudar, bisa menghilang, namun, uluran tangan kita pada orang lain, tak bisa hilang, tak bisa memudar.

Sebuah uluran tangan, sebuah senyum yang tulus, sebuah kata untuk menghibur, sebuah telinga yang kita sisihkan untuk "mendengar" orang lain, bisa jadi lebih berarti dari pada piala-piala dan kejayaan itu.