Sabtu, Januari 17, 2009

Pohon Tua


Pohon Tua

Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya
rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol
keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan
pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat
sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat
lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun
merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah,
dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan
membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna,"
begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga
mendengar perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya
rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan
pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai
enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk
berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan
padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil
semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga
terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku
tak perlu merasakan siksaan ini? Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya
yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap
kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis
terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga
pada saat pagi menjelang.

"Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, .ada seekor anak burung
yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.
"Cittt...cericirit...cittt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak
burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran
burung-burung baru. Satu...dua...tiga...dan empat anak burung lahir ke dunia.
"Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan
membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung
dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu
merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya.
Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah
bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya
kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang
Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan
bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

***

Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang
selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha
Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita.
Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah,
Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita
karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah
suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang
Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah
tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia.
Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian
kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah
hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.