Rabu, Januari 14, 2009

Ikan Besar


Ikan Besar

Suatu ketika, malam tampak begitu indah di sebuah pantai. Bulan bersinar terang,
purnama itu tampak cemerlang. Langit cerah penuh dengan bintang. Tak ada awan
gelap yang berarak terbilang. Tak ada angin pasang, apalagi gelombang besar yang
menghadang.

Hari itu memang hari yang baik untuk melaut. Karenanya, tampak dua perahu
nelayan yang sedang tenang di atas lautan. Perahu itu terlihat bergoyang tenang,
seirama dengan gelombang. Kedua nelayan diatasnya sibuk dengan jala dan umpan
yang mereka siapkan.

Telah beberapa saat mereka berada disana. Hasil tangkapan yang mereka dapat pun
telah cukup banyak. Namun, salah seorang dari mereka berkata, "Aku ingin punya
ikan lebih banyak. Pasti, kalau aku berlayar lebih jauh, aku akan mendapatkan
tangkapan lebih baik dari ini semua." Aku yakin disana ikannya lebih
besar-besar," teriaknya sambil menarik jala.

Terdengar sahutan dari perahu lainnya. "Hei, jangan tamak. Disini saja ikannya
sudah cukup besar. Perahumu pun tak akan cukup mengangkut semua ikan. Ingat,
muatan kita terbatas dan perbekalan kita tak cukup banyak. Kita tentu tak akan
mau kembali dengan perahu yang karam. Lagipula, fajar akan tiba sesampainya kau
disana.

Sayang, nasehat itu tak di gubris. Nelayan itu malah berkata, "Ah, kamu memang
pemalas. Kalau aku kurangi sebagian dari isi perahuku, tentu, aku akan dapat
memuat lebih banyak ikan," seru sang Nelayan. "Aku akan tetap melaut lebih jauh
sampai kudapatkan ikan yang lebih besar.

Nelayan tamak itu tetap berlalu, sambil membuang beberapa muatan untuk mengharap
tangkapan yang lebih banyak. Bahkan, dibuangnya sebagian hasil ikannya kembali
ke laut. Dan ia pun melaju, berharap menemukan ikan yang lebih besar.

Nafsu dunia memang kadang sulit di halangi. Tak ada yang dapat dilakukan nelayan
lain terhadap tingkah nelayan tamak tadi. Setelah merasa cukup dengan semua
hasil tangkapannya, nelayan itu pun bersiap pulang. Lama ia menyusuri keheningan
malam. Dipandanginya semua hasil tangkapan itu, sambil membayangkan kegembiraan
anak dan istrinya di rumah. Ia dapat melukiskan ucapan syukur, dan celoteh anak
dan istrinya setelah melihat semuanya.

Tiba-tiba, renungan itu terhenti, ketika, ada bias-bias cahaya remang yang
datang dari arah belakang. Siapa itu? Dipacunya perahu itu kembali ke arah
lautan. Ternyata, tampaklah disana nelayan sahabatnya yang sedang
terapung-apung, sambil memegang sebilah papan dan sebuah pelita. Segera saja di
lemparkannya seutas tali, dan berusaha menarik nelayan itu dari air. Sekuat
tenaga ia menarik tubuh itu keatas, dan akhirnya perlahan tubuh lemas itu dapat
duduk di atas perahu.

Nelayan itu kelelahan. Setelah pulih, dan tenang kembali, mulailah ia bertanya,
"Ada apa denganmu? Kemana perahu dan semua hasil tangkapanmu? Pelan, nelayan
yang semula tamak tadi mulai bicara, "Aku menyesal. Aku memang mendapat ikan
besar disana, tapi, karena muatan terlalu banyak, aku kehilangan pandangan,"
ujarnya perlahan.

"Aku kehilangan kendali, dan ada karang besar yang ada di depan perahuku.
Perahuku menabrak karang itu, dan kini hancur. Untunglah ada papan, dan pelita
yang aku pegang. Dengan inilah aku bisa menarik perhatianmu. Terima kasih telah
mau menolongku walau sikapku menyakitkanmu. Ah, mungkinanak-istriku tak mendapat
rezeki besok. Aku sangat menyesal." Kalimat-kalimat itu terus meluncur, seakan
tak terhenti.

"Sudahlah." Terdengar ucapan menyejukkan dari nelayan lain. "Aku bisa membagi
sebagian tangkapanku untukmu. Muatanku masih lebih dari cukup untuk
anak-istrimu. Ambillah, semoga anak-istrimu bisa senang dan tak perlu
kesusahan."

***

Teman, siapakah nelayan yang tamak itu? Bisa jadi, tangan ini akan menunjuk diri
kita sendiri. Mungkin, sosok itu adalah cermin dari semua sikap kita selama ini.
Sikap yang tamak, tak pernah puas, tak pernah bersyukur, dan bisa jadi, tak
pernah ikhlas menerima setiap anugrah yang diberikan-Nya.

Adakah kita terbuai pada "ikan-ikan besar" yang cuma ada pada lamunan-lamunan
kita? Adakah kita berharap pada banyak hal, sementara telah ada beragam rezeki
yang diberikan-Nya buat kita? Adakah kita tak pernah puas pada setiap hal yang
ada di depan mata, di sekitar jangkauan kita, di seputar kita yang menanti untuk
diambil berkahnya?

Adakah "lautan jauh dengan ikan besar" itu terlampau membutakan kita pada setiap
rezeki yang telah menjadi hak kita? Adakah semua yang kita miliki sekarang tak
pernah cukup untuk dapat memuati "perahu hidup" kita? Adakah itu semua
menghalangi pandangan kita untuk bersyukur pada Ilahi. Padahal, di sekitar kita
ada banyak sekali rahmah, ada banyak sekali berkah.

Teman, sesungguhnya, ada banyak sekali "ikan-ikan kecil" di sekeliling kita yang
siap untuk diambil. Adakah itu semua tampak hanya seperti remah-remah tak
berarti, atau serpihan-serpihan yang tak pernah cukup untuk memuati "perahu
nafsu kita? Apa lagi yang kita cari untuk memuasi itu semua?

Dan sesungguhnya memang, muatan dan perbekalan "hidup" kita memang sangat
terbatas. Seperti halnya dalam melaut, selalu saja ada fajar yang akan menanti,
yang akan membuat kita berhenti untuk mencari ikan...