Selasa, Januari 13, 2009

Berlari



Berlari

Hari masih subuh ketika sekelompok burung pergi meninggalkan sarang mereka di
atas pohon. Dibawahnya, butiran embun menetes dari ujung-ujung rumput yang
melengkung. Matahari pun belum terlihat memancarkan sinar, tapi sejumlah mahluk
telah bersiap untuk memulai hidup mereka. Padang sabana yang amat luas itu,
tampak bergeliat, menyambut sekumpulan hewan-hewan yang baru terbangun.

Di salah satu pojok padang rumput, seekor anak menjangan bertanya kepada
ayahnya. "Ayah, mengapa aku harus belajar berlari setiap hari? Apakah ada yang
ingin kita kejar? Ayah menjangan bangkit berdiri, diendusnya ujung hidung
anaknya yang masih ingin berbaring. "Nak, di luar sana ada banyak singa-singa
yang keluar mencari makan. Dan mereka berlari sangat cepat. Kita harus dapat
berlari lebih cepat dari singa yang paling cepat sekalipun. Sebab, kalau tidak,
kita akan mati terbunuh."

Sang Ayah kembali mengenduskan hidung si menjangan muda. "Ayo, kita harus
bersiap berlari sekarang. Kalau kita tak berlari, kita akan mati kelaparan atau
terbunuh oleh singa-singa itu.

Sementara itu, di ujung padang rumput yang lain, seekor anak singa bertanya
kepada ayahnya. "Ayah, mengapa aku harus belajar berlari setiap hari? Apakah ada
yang ingin kita kejar? Ayah singa bangkit berdiri, diendusnya ujung hidung
anaknya yang masih ingin berbaring. "Nak, di luar sana ada banyak
menjangan-menjangan buruan kita. Dan mereka berlari sangat cepat. Kita harus
dapat berlari lebih cepat dari menjangan yang paling cepat sekalipun. Sebab,
kalau tidak, kita akan mati kelaparan."

Sang Ayah singa pun kembali mengenduskan hidung si singa muda. "Ayo, kita harus
bersiap berlari sekarang. Kalau kita tak berlari, kita akan mati kelaparan dan
tak bisa mendapatkan hewan buruan.

Kedua jenis hewan di kedua ujung sabana itu pun tampak bersiap. Mereka harus
terus berlari agar dapat tetap hidup. Sebab, mereka hanya punya dua pilihan,
mati kelaparan atau mati terbunuh.

***

Hidup bagi hewan yang tinggal di padang sabana, mungkin adalah pertarungan
antara dua pilihan. Mati kelaparan, atau mati terbunuh. Dan mereka harus berlari
untuk dapat terhindar dari pilihan maut semacam itu. Bagi yang lambat, akan
binasa. Bagi yang cepat, dialah yang menjadi juara. Tak ada tempat bagi pemalas,
tak ada makanan bagi yang tak menjejakkan kakinya. Bisa jadi terlihat sederhana,
sebab disana memang hanya pilihan itu yang ada di depan mata.

Saya bukan sedang meminta anda untuk berlatih berlari atau belajar mencari hewan
buruan. Bukan. Sebab setidaknya, disana ada satu hikmah yang bisa dipetik.
Berlari, atau dengan kata lain, belajar dan berusaha, memang sejatinya inti dari
pergulatan hidup kita. Lewat hal itulah kita akan bisa mendapatkan apa yang kita
harap dan angankan. Mungkin, bagi hewan hal itu berarti terhindar dari maut.
Tapi bagi manusia, belajar dan berusaha akan memberikan kita dorongan untuk
berada dalam barisan yang lebih baik.

Teman, saya percaya, tak ada kesuksesan yang dicapai dengan langkah ragu. Tak
ada kemajuan yang diraih dengan langkah malu-malu. Dalam berlari kita akan dapat
merasakan saat aliran darah lebih cepat, dan jantung berdetak lebih kencang.
Otot-otot kita bergerak bergetar, tangan kita mengepal dan menjangkau. Di
dalamnya kita akan berpacu, dan memicu ayunan kaki dan tangan agar lebih
bergegas.

Dalam bahasa lain seseorang pernah berkata, run for your life! Berlarilah untuk
hidupmu. Maka, mengapa kita tak mengambil pernyataan itu sebagai pemicu kita
dalam berusaha? Berlarilah, teman. Berlari untuk kehidupanmu.