Sabtu, Januari 17, 2009

Penebang Kayu


Penebang Kayu

Suatu ketika, hiduplah seorang penebang kayu muda. Dia tinggal bersama seorang
istri yang baik. Setiap hari, penebang ini pergi ke hutan, dan menebang setiap
pohon yang layak untuk dipotong, lalu menjualnya ke kota.

Pada suatu pagi, si Penebang berkata pada istrinya, "Bu, aku akan menebang 10
pohon hari ini. Aku merasa, aku masih kuat untuk itu semua." Sang istri merasa
senang. Ia pun lalu melepas kepergian suaminya ke hutan. Betul saja, di senja
hari, Penebang itu kembali dengan membawa uang hasil penjualan 10 pohon.

Hal itu terus berlaku dari hari ke hari. Pagi-pagi sekali, Penebang muda itu
selalu bergegas pergi untuk menebang pohon. Namun, lama kemudian, hasil di dapat
dirasakan makin menurun. Minggu berikutnya, si penebang hanya mampu menghasilkan
8 pohon. Lalu 6 pohon di minggu berikutnya. Sampai akhirnya si penebang muda ini
cuma mampu menebang 3 pohon.

"Ah, mengapa ini semua terjadi. Bukankan aku masih muda dan kuat?", keluh si
Penebang, "Untuk orang seusiaku, pasti, akan ada lebih banyak pohon yang dapat
ditebang." Sang istri hanya mendengarkan. "Hmm...atau apakah aku sudah mulai
tua?", keluhnya lagi.

Istrinya yang semula diam, mulai angkat bicara. "Suamiku, engkau memang masih
muda, dan ya, aku yakin, engkau bisa menebang lebih banyak lagi. "Namun, engkau
juga harus ingat, engkau harus mengasah kapak-kapakmu sebelum pergi bekerja.
Sia-sialah semua tenagamu, kalau kau hanya punya kapak yang tumpul.

"Suamiku, kita tak dapat selalu berharap hasil tebangan yang banyak, kalau kita
selalu lupa untuk mengasah kapak yang kita miliki."

***

Teman, kita, adalah juga si penebang muda tadi. Terlalu sering kita berharap,
untuk mendapatkan banyak hasil, tanpa berusaha melihat ke dalam diri kita.
Terlalu sering kita bermohon kepada Allah, untuk mendapatkan pahala dan imbalan
yang sesuai, namun, dengan kualitas ibadah yang minim sekali.

Kerapkali, cuma sedikit waktu yang kita berikan untuk mengasah keimanan kita,
dengan harapan pahala yang berlimpah. Kita sering lupa, untuk mengasah semuanya.
Padahal disekeliling kita, ada banyak sekali hal bisa dijadikan pengasah batin
dan iman kita. Kebajikan-kebajikan sosial, adalah salah satunya.

Dan teman, teruslah memberikan hikmah kita pada orang sekitar. Sebab, bukankah
keharuman bunga akan selalu semerbak, pada tangan-tangan yang sering memberikan
bunga?