Rabu, Desember 31, 2008

Nenek dan Minyak Goreng


Nenek dan Minyak Goreng

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih dengan
kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik.
Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuah
metromini yang menuju ke stasiun KA.

Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya
selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai. Kelok-berkelok. Hmm...dia
tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana.
Saya pun menjawab mau kerja, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.

Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian
sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk
mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu,
akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa
dia berikan buat cucunya.

Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak
punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya.
Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa
mendapatkan minyak dan tepung gratis.

Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang
nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya.
Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali. Saya teringat pada Ibu.
Allah memang maha bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya.

Sudah beberapa saat waktu sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali
makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang
terlalu sok sibuk dengan semua urusan kerja. Sering saat pulang ke rumah, saya
menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak
pagi.

Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena
telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun
sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan,
Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat
saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya
buat saya.

Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya.
Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama
seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus,
seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.

***

Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun.
Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya akan menyantap
semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin,
itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat
saya berikan sebagai penghargaan buatnya.

Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan
Ibu. Terima kasih Nek.