Kamis, Desember 04, 2008

Pasir dan Pahatan Batu

Pasir dan Pahatan Batu

Suatu ketika, ada sepasang pengembara yang sedang melakukan perjalanan. Mereka,
kini tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang,
hanya ada horison pasir yang terbentang.

Tapak-tapak kaki yang ada di belakang mereka, membentuk jejak-jejak yang tak
putus. Susunannya meliuk-liuk, tampak seperti kurva garis, yang berujung di
setiap langkah yang mereka lalui. Sesekali debu-debu pasir menerpa tubuh, dan
membuat mereka berjalan merunduk, agar terhindar dari badai kecil itu.

Tiba-tiba, ada sebuah badai besar yang datang. Hembusannya sangat kuat, membuat
tubuh mereka bergoyang, dan limbung. Terpaan yang begitu kuat segera membuat
ujung-ujung pakaian mereka berkibar-kibar, mengelepak, dan mendorong tubuh
mereka ke arah belakang. Untunglah, mereka saling berpegangan, dan dapat
bertahan dari badai itu.

Namun, ada musibah lain yang menimpa mereka. Bekal minum mereka terbuka, dan
terbawa angin yang kuat tadi. “Ah..kita akan mati kehausan disini, “ ujar
seorang pengembara. Lelah bertahan seusai badai, keduanya duduk tercenung,
menyesalkan hilangnya bekal minum mereka. Seseorang dari mereka, tampak menulis
sesuatu di atas pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal
minuman kami di tempat ini.” Pengembara yang lain tampak bingung, namun tetap
membereskan perlengkapannya.

Badai sudah benar-benar usai, dan keduanya pun melanjutkan perjalanan. Setelah
lama menyusuri padang, mereka melihat sebuah oasis di kejauhan. “Kita selamat,
seru seorang pengembara, “lihat, ada air disana.” Mereka setengah berlari ke
arah air itu. Untunglah, itu bukan fatamorgana.

Tampaklah sebuah kolam kecil dengan air yang cukup banyak. Keduanya pun segera
minum sepuas-puasnya, dan mengambil sisanya untuk bekal perjalanan. Sambil
beristirahat, pengembara yang sama mulai menulis sesuatu. Pisau yang
digenggamnya digunakan untuk memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami
dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”

Merasa bingung dengan tingkah sahabatnya, pengembara yang lain mulai bertanya.
“Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi engkau menulis di atas
pasir saat kita kehilangan bekal minum? Tersenyum mendengar pertanyaan itu, sang
sahabat mulai menjawab. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu dalam
pasir. Biarkan angin keikhlasan akan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan
catatan itu akan hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya
lenyap dan pupus.”

“Namun, ingatlah, saat kita mendapat kebahagiaan, pahatlah kemuliaan itu dalam
batu, agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan
kesenangan itu dalam kerasnya batu, agar tak ada sesuatu yang dapat
menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya
tersimpan.”

Keduanya kembali tersenyum. Bekal minuman telah cukup, dan merekapun kembali
meneruskan perjalanan mereka.

***

Teman, ada kalanya memang, kita menemui kesedihan dan kebahagiaan. Ada kalanya,
keduanya hadir berselang-seling, saling berganti mewarnai panjangnya jalan hidup
ini. Keduanya, saya yakin, memberikan kita semacam memori yang kerap membuat
kita terkenang.

Namun, adakah kita mau bersikap seperti pengembara tadi? Maukah kita menjadi
seorang yang pemaaf, yang mampu untuk menuliskan setiap kesedihan dalam pasir,
agar angin keikhlasan mampu membawanya pergi? Maukah kita menjadi seorang yang
tegar, yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin
ketulusan?

Dan teman, cobalah pula untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan
yang kita miliki. Simpanlah semua itu dalam kekokohan hati kita, agar tak ada
apapun yang mampu menghapusnya. Torehlah kenangan kebahagiaan itu, agar tak ada
angin kesedihan yang mampu melenyapkannya.

Saya yakin, angin kebahagiaan dan keikhalasan, akan mampu menggantikan tulisan
kesedihan kita di atas pasir kesusahan. Sementara, pahatan kebahagiaan kita,
akan selalu terkenang dan membuat kita optimis dalam menjalani panjangnya hidup
ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar