Rabu, Desember 17, 2008

Perangkap

Perangkap

Teman, saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu
sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet
yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan
hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di
Amerika.

Caranya sangat manusiawi (*umm...atau mungkin hewani kali ye..hehehe*). Sang
pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan
menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan
aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka
meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam
tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang
terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan
jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya
sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada
aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan
terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan
kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu,
selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab
tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Teman, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak
saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin,
sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita
mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam
kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan
maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.

Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa "toples-toples" itu kemana pun kita
pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar,
kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.

Teman, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan
menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk
memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena,
kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa
nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada teman,
agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?