Sabtu, Februari 14, 2009

Tukang Tambal Ban


Tukang Tambal Ban

Pernah suatu ketika ban motor saya kempes sepulang dari liqo kajian rutin pekanan. Saat itu waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam. Malam terasa begitu dingin sekali, karena saat itu musim hujan, akan tetapi segala puji bagi Allah saat itu hujan tidak turun.

Sambil menuntun sepeda motor, saya berjalan menulusuri jalan untuk mencari tukang tambal ban.

“Ada apa mas?” tanya seorang pemuda yang duduk-duduk di depan rumah.

“Ban saya bocor. Daerah sini mana ya, tukang tambal ban yang masih buka?” tanya saya.

“ Wah sudah pada tutup semua mas! Adanya di dekat jalan raya, tapi cukup jauh!” jawab nya.

“Makasih mas!” ucapku, sambil menghela nafas, karena cukup jauh saya harus bejalan ke jalan raya.

Alhamdulillah, saat itu saya ditemani murrobi (ustadz) saya, untuk berjalan menelusuri malam untuk mencari tukang tambal ban. Setengah jam berjalan akhirnya saya menemukan tukang tambal ban. Alhamdulillah.

Kemudian saya merenung, betapa mulianya Tukang Tambal Ban tersebut, saya baru merasakan bahwa sangat berharganya keberadaan mereka…!

***

Teman, sering diri kita meremehkan atau menganggap rendah profesi seseorang, tapi tanpa kita sadari kita membutuhkan profesi mereka. Atau sering diantara saudara kita merasa minder akan profesinya yang mereka lakukan, padahal begitu mulianya profesi yang mereka kerjakan, karena dengannya aktifitas saya dapat berjalan dengan lancar.

Sudahkah anda berterimakasih kepada mereka?