Minggu, Februari 01, 2009

Terbang


Terbang

Suatu ketika, ada seorang anak yatim yang ingin sekali terbang seperti burung. Ia berpikir, kenapa dia tak bisa terbang, padahal, di kebun binatang, ada burung yang lebih besar dari badannya, tapi tetap bisa terbang. "Kenapa aku tak bisa terbang?, begitu pikirnya dalam hati. "Apakah ada yang salah dengan diriku?" ia bertanya-tanya. Dan ia selalu berharap, akan bisa terbang suatu saat nanti.

Namun, di tempat lain, ada pula seorang anak yang cacat kakinya. Ia juga punya satu keinginan. Ia ingin sekali dapat berjalan dan berlari seperti anak-anak lainnya. "Kenapa aku tak bisa seperti mereka?", pikiran itulah yang selalu tergiang dalam dada.

Suatu hari, si anak yatim yang ingin terbang itu bertemu dengan si cacat di suatu taman. Si Yatim, tampak menghampiri si Cacat, yang sedang bermain-main dengan kotak pasirnya. Sambil mempermainkan pasir, si Yatim lalu bertanya, apakah temannya ini, ingin bisa terbang juga seperti burung-burung dalam impiannya. "Tidak", kata si Cacat. "Namun, aku selalu ingin bisa berjalan dan berlari seperti anak-anak lainnya. Itulah impianku", ujar si Cacat perlahan.

"Hmmm...sungguh sayang, kata si Yatim. Ah, tapi, kita tetap bisa jadi teman kan? "Oh, tentu saja, ujar si Cacat dengan wajah ceria.
Mereka bermain selama beberapa jam. Mereka juga membuat istana pasir, bersenda gurau dengan sekop dan pacul, serta membuat suara-suara yang lucu dengan mulut mereka. Ya, mereka berdua tampak senang sekali melewati hari itu di taman. Kadang, suara mereka terdengar keras sekali, hingga menarik perhatian anak-anak lainnya.

Akhirnya, datanglah ayah si Cacat membawa kursi roda, dan hendak membawa anaknya pulang. Si Yatim, rupanya enggan untuk selesai, dan menghampiri ayah temannya ini. Lalu, ia tampak membisiki sesuatu ke telinga pria itu. Sang Ayah, berpikir sebentar. Lalu, berkata "baiklah kalau begitu, tapi, setelah ini, kami harus pulang, karena senja telah datang."

Si Yatim, yang selalu ingin terbang seperti burung, berlari ke arah si Cacat, dan berkata, "kamu adalah temanku satu-satunya, dan aku berharap, aku dapat melakukan sesuatu untuk bisa membuatmu berjalan dan berlari. Tapi sayang, aku tak bisa. Namun, ada sesuatu yang akan kulakukan untukmu.

Si yatim, lalu berjongkok, dan meminta teman barunya ini, untuk naik ke punggungnya. Si Cacat, tampak kebingungan, namun tetap melakukan permintaan itu. Ahha, mereka tampak bergendongan kini.

Si Yatim, lalu mulai berjalan, dan berjalan lebih cepat. Ia, kini tampak berlari melintasi taman yang berumput, sambil menggendong temannya yang cacat. Walau tampak kelelahan, si Yatim terus berlari. Angin semilir, tampak menerpa kedua bocah yang tampak ceria ini. Mereka berdua, tampak senang sekali.

Dari kejauhan, Sang Ayah, tampak sangat terharu, saat melihat, anaknya yang cacat itu, mulai mengepakkan kedua tangganya kuat-kuat. Tangan itu, tampak naik-turun, seiring dengan semilir angin yang menerpa wajah dan rambutnya. Di kepakkannya terus menerus. Tangan itu tampak begitu indah, bergerak-gerak, seperti sayap burung pipit yang mengepak-ngepak. Dan, saat kedua anak itu mendekat kepadanya, terdengarlah suara sang anak:

"Aku bisa terbang, Ayah. Aku bisa terbang."

Sang Ayah, tampak meneteskan air mata, dan membiarkan kedua anak itu berlari sambil bergendongan hingga senja tiba. Ia tak tega, memutus kebahagiaan yang tengah hadir di hari kedua anak ini. Ia tak kuasa, untuk membiarkan anaknya, berhenti mereguk kesenangannya.

Di tengah temaram senja, saat lampu merkuri taman mulai di nyalakan, tampaklah dua sosok anak yang sedang berlari dengan gembira. "Aku terbang Ayah. Aku bisa terbang."