Rabu, Februari 18, 2009

Sesendok Madu


Seendok Madu

Saya teringat carita dari Andre Wongso, salah satu trainer Indonesia. Kisah tentang sesendok madu, maaf kalo di modifikasi.

Suatu saat, seorang raja kerajaan besar mengeluh kepada penasehatnya tentang rakyatnya.

"Penasehatku, apakah benar rakyatku sekarang sudah tidak patuh lagi kepadaku?" tanya sang Raja.

"Wahai raja, mohon maaf saya tidak tahu permasalahan itu. Akan tetapi saya bisa mengujinya, supaya raja tau apakah rakyat anda patuh dengan perintah anda atau tidak." kata penasehat raja.

"Ujian? Baiklah,saya percaya kepadamu, semua kuserahkan kepadamu!" perintah sang raja.

Penasehat raja kemudian memerintahkan seluruh rakyatnya agar menyumbang sesendok madu dengan membawanya di tengah malam ke sebuah tempat. Tempat tersebut terdapat gentong besar untuk menampung madu-madu tersebut.

Salah seorang mengeluh dengan perintah sang raja. Dia merasa berat untuk menyumbang sesendok madu. Kemudian di berencana akan membawa sesendok air. "aku yakin tidak akan ketahuan oleh pengawal jika aku membawa air karena tempatnya cukup gelap, lagian toh hanya sesendok air saja." pikirnya.

Kemudaian disaat malam gulita, berbondong-bondong orang membawa sendok, satu persatu orang mengisi gentong besar yang disediakan oleh penasehat raja, hingga gentong itu penuh.

Saat matahari terbit, penasehat raja datang untuk memeriksa gentong madu tersebut. Tiba-tiba sang penasehat raja kaget, ternyata gentong tersebut hanya berisikan air.

***

Teman, sering keegoisan kita muncul dalam diri kita. Kita kadang berfikir, "ah, buat apa repot-repot malakukan itu, pasti ada orang lain yang melakukannya." Seperti dalam cerita tersebut, mereka merasa hanya dia saja yang hanya membawa sesendok air. Ternyata mereka semua membawa seseondok air.

Bayangkan jika semua orang lebih memilih egonya masing-masing, bangsa ini saya yakin tidak akan maju. Tidak ada lagi kepedulian dengan permasalahan bangsa. Tidak ada lagi yang peduli dengan permasalahan ummat.

Sebaliknya ketika semua orang berfikir, Mulai dari diri sendiri, mualai dari yang terkecil, dan mulai sekarang juga untuk memperbaiki bangsa, saya yakin bangsa yang maju dan beriman akan terwujud. Insya Allah.