Sabtu, Februari 20, 2010

Cerita, "Jeritan Hati Seorang Anak"

Setiap anak menginginkan sewaktu dilahirkan agar bisa tumbuh jadi anak sehat, cerdas, berbudi pekerti yang baik, pergaulan yang baik.

Tapi beda dengan kami , pagi hari kami harus bangun pagi memakai pakain yang hanya satu dan sudah kumal, perut kami lapar, kami pergi di pagi ini untuk bekerja, setiap hari berjalan kaki meyusuri Lorong gelap, kotor dan bau tak sangup ku mengirupnya tapi harus bagaimana lagi inilah tempatku, aku tak berkecil hati karna aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya ini yang kami punya orang tua kami tak mampu memberikan kami apa yang seharusnya kami dapatkan sebagai anak kecil.

Tapi kami tak sangup melawanya memang sudah nasib kami seperti ini.
Setiap hari kami menyusuri jalan-jalan tak peduli debu, panas, hujan, hanya untuk mendapatkan kasian orang lain kepada kami. Dalam hati merasa iri rasanya melihat di dalam mobil seorang bapa, ibu dengan anaknya yang memakai pakain bagus sambil tertawa dan ceria. Andai aku seperti itu dalam benakku, cuman bisa bermimpi saja khayalan dalam pikiran ku saja.
Bertanya dalam hati kenapa aku seperti ini sempat terpikir kenapa Tuhan tak adil. Tapi tak apalah ini memang jalan hidup ku. Setiap hari tak pernah berubah tetap seperti ini

mencari orang yang dermawan untuk memberikan Koin untuk kami yang kelaparan dan kehausan ini. Memang kami di berikan kelebihan untuk berpikir bahwa perbuatan meminta-minta adalah tidak baik, tapi kami tak sangup berbuat banyak hanya ini yang kami bisa, karna orang tua kami tak sangup memberi makan kami, tapi kadang2 kami suka waktu sore hari nya kami kami membawa karung dan menyusuri rumah-rumah mewah

mungkin ada kiranya sebuah sampah yang bisa kami jual. Berajalan sampai malam hari tak peduli rasa kantuk ini mengangu, tapi aku harus mendapatkan barang-barang yang bisa di jual yang oleh pemiliknya sudah tak terpakai dan dibuang ke tempat sampah. Itulah pekerjan kami setiap hari

Malam hari kami pulang. tak ada yang indah adalah rumah kami tempat kami beristirahat dan berkumpul dengan keluarga, meskipun atap kami terbuat dari Langit, lantai kami dari Tanah dan beralaskan Koran bekas

kesokan harinya aku bekerja lagi tak sengaja melihat Koran hari ini dan membacanya, melihat berita hari ini banyak pejabat menyelewengkan Uang yang begitu banyak, sunguh tak ku sangaka begitu banyak pejabat yang tak memperdulikan kami, tak sangup memberikan solusi bagi kami untuk Hidup menatap masa depan kami sebagai anak kecil. Hanya meributkan Pejabat-pejabat atau penguasa yang mempunyai Uang yang banyak mendukung dan saling menjatukan, kami tak bisa berbuat apa-apa suara kami tak bisa di dengan meskipun keras suara kami berteriak sampai putus pita suara kami tak ada yang bisa mendengar kami.

Hari demi hari kami lalui dengan bekerja sebagai pengemis jalanan, suatu hari kami merasa tak enak badan kepala kami pusing, perut kami sakit, aku tak sangup berdiri, dan tak sadarkan diri, dan akhirnya Raga ini tak sangup menahanya, akhirnya aku pun meningalkan tubuhku yang sudah kecil dan lemah ini.
Kata Terakhirku

AKU DOAKAN BAGI ORANG YANG TELAH MEMBERIKAN SEDEKAH PADA KAMI AGAR MASUK SURGA, BIAR AKU MESTI DISIKSA DI NERAKA KARNA KAMI KADANG SUKA MEMAKSA, TAPI KAMI AKAN BERSAKSI AHIR PENGADILAN NANTI BAHWA ORANG YANG YANG TELAH MEMBERIKAN SEDEKAH PADA KAMI JANGAN KAU SIKSA DARI API NERAKA.Selamat Tingal Dunia aku lebih dulu kesana


Kisah Nyata dari Anak-anak yang kelaparan,Gizi Buruk, dan meninggal

Banyak yang tak setuju keberdaan Pengemis anak-anak kecil sudilah kiranya kita mencoba memberi Solusi bukan memaki.

(Kiriman :
-Hareem Musashi-)

1 komentar:

  1. luar biasa, tak pernah aku sampai berfikir kesitu

    BalasHapus