Selasa, Desember 08, 2009

Cerita, "Penjual Ketoprak"

Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu, saat saya dan adik sedang menginap di Hotel Cemara, di daerah Menteng-Jakarta Pusat. Pagi itu, kami jalan-jalan pagi sambil berusaha mencari penjual bubur ayam keliling. Tapi entah kenapa, jangankan penjual bubur ayam, pedagang kaki lima lain juga tidak tampak batang hidungnya. Mungkin karena hari itu hari minggu, jadi para pedagang kaki lima di sekitar daerah itu juga berlibur tidak melakukan aktivitas hariannya.

Setelah berjalan agak jauh dari hotel, kami menemukan seorang abang penjual ketoprak yang sedang melayani seorang pembeli. Awalnya kami ragu untuk singgah di tempat itu, karena adik saya saat itu sedang ingin sekali makan bubur ayam. Maklum, di daerah asal kami di Aceh, rasa bubur ayam-nya agak berbeda dengan di Jakarta. Tapi, karena perut yang sudah tidak bisa kompromi, akhirnya kami memutuskan untuk membeli ketoprak pada si abang tersebut.

Ketika penjual ketoprak sedang mempersiapkan makanan yang kami pesan, tiba-tiba datang seorang nenek tua berusia sekitar 60-70 tahun yang sudah agak bungkuk dan berjalan perlahan ke arah kami. Nenek itu menggunakan baju tua yang sudah lusuh dengan selendang yang disampirkan dikepalanya dengan warna yang sudah tidak jelas pula.

Terus terang, saya agak terenyuh melihat nenek itu, entah dimana anak-cucu-nya yang tega membiarkan nenek itu berjalan sendirian tertatih-tatih tanpa ada yang menemani. Nenek itu menghampiri gerobak kami dan duduk di salah satu bangku di situ. Ia mengatakan sesuatu kepada abang penjual ketoprak yang segera dibalas dengan pemberian satu piring ketoprak oleh si abang.

Ketika nenek itu makan, saya sempat melihat isi piring-nya yang hanya berisi setengah porsi lontong dengan sedikit bumbu kacang, tanpa ada campuran lainnya. Jelas kalau nenek itu tidak memiliki uang untuk membeli ketoprak dengan porsi dan campuran biasa. Sebenarnya saat itu hati kecil saya menyuruh saya untuk meminta abang ketoprak untuk menyiapkan satu porsi biasa untuk si nenek, tapi saya takut hal itu akan menyinggung nenek, sehingga saya mengurungkan niat baik tersebut.

Akhirnya setelah pesanan kami selesai, saya dan adik, yang ternyata dari tadi juga memperhatikan nenek itu, memutuskan untuk membayar makanan yang disantap nenek tua tersebut tanpa mengatakannya pada si nenek.

Ketika hendak membayar dan menyerahkan uang kepada penjual ketoprak, setelah mengatakan maksud kami, alangkah tersentak dan terharunya hati kami ketika mendengar jawaban penjual ketoprak.

Penjual ketoprak itu berkata, “Maaf neng, tidak apa-apa kok. Nenek itu sudah tiap pagi kemari, dan saya berikan lontong itu secara cuma-cuma. Meskipun cuma sedikit, hal itu saya anggap menjadi tanggung jawab saya sebagai sesama muslim. Terima kasih atas niat baik neng...”

Tanpa bisa berkata-kata dan hanya ucapan “terima kasih” yang keluar dari mulut saya, saya dan adik pun berlalu dari situ dan pulang menuju hotel.

Entahlah, rasanya saat itu Allah memberi pelajaran berharga melalui penjual ketoprak itu pada saya. Betapa luasnya keikhlasan yang dimiliki oleh penjual ketoprak itu. Saya bayangkan, jika setiap muslim merasa memiliki tanggung jawab terhadap muslim lainnya, alangkah indah dan bahagianya kehidupan yang terjalin di alam ini. Jika semua penjual ketoprak & penjual makanan lainnya memiliki hati dan niat semulia penjual ketoprak itu, mungkin saja angka kelaparan yang terjadi di negeri kita pasti bisa ditekan.

Penjual ketoprak itu telah mengajarkan saya bahwa tidak perlu kaya harta baru bisa membantu orang lain, yang kita perlukan hanya kaya hati.


Hikmah :
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari-Muslim)
”Hindarilah api neraka sekalipun dengan separoh korma. Lalu siapa yang tidak memilikinya, maka dengan perkataan yang baik.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sumber : Hijria Novia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar