Sabtu, April 24, 2010

Cerita, "Potong Saja Kakiku... (korban bom Palu)"

Richie Saputra (13) terbaring lemah di ruang perawatan Unit Gawat Darurat RSUD dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Senin (2/1). Kedua kakinya, mulai paha hingga jari, dibalut perban warna coklat yang sudah dipasangi gips.

Dua batang besi berdiameter sekitar lima milimeter tampak menyembul di antara kaki kirinya. Darah terlihat merembes dari balik perban. Tangan kanan bocah berkulit bersih itu juga tampak dibalut perban, sementara wajah dan di beberapa bagian tubuh lainnya, termasuk tangan kirinya, dipenuhi luka. Sebuah selang infus berada di sisi kiri tempat tidurnya.

Bocah laki-laki itu tengah pulas. Wajahnya terlihat tenang. Lalu lalang perawat dan suara pintu yang terus-menerus dibuka tutup tidak membuatnya terjaga. Ayahnya, Indra Setiawan (40), tanpa lelah menunggui anak keduanya itu sejak tiba di Makassar, Sulawesi Selatan, hari Minggu.

Richie, siswa Kelas 3 SMP Karna Dipa, Palu, adalah satu dari 54 korban luka-luka akibat ledakan bom di pasar tradisional daging babi di Jalan Pulau Sulawesi, Kampung Maesa, Kecamatan Palu Selatan, pada 31 Desember lalu. Ledakan bom mengakibatkan tujuh orang lainnya tewas. Atas inisiatif keluarga, Richie dibawa ke Makassar agar mendapat perawatan yang lebih maksimal.

Saat ledakan bom terjadi, Richie bersama ibunya, Ho Beng Swang (38), berada sekitar satu meter dari lokasi ledakan. Rencananya mereka akan membeli daging untuk merayakan Tahun Baru. Naas, ledakan bom membuyarkan rencana mereka menyambut Tahun Baru.

Akibat ledakan bom itu, Richie dan ibunya luka berat di kedua kaki mereka. Ho Beng Swang luka, mulai dari bagian paha hingga telapak kaki. Serpihan bom diperkirakan bersarang di kedua kaki perempuan beranak empat itu. Sementara Richie, selain kaki kanan dan tangan kanannya luka berat, kaki kirinya patah dan hancur di bagian atas mata kaki hingga telapak kaki.

Amputasi

Dokter yang menangani Richie, dr M Ruksal Saleh, mengatakan, jaringan kaki kiri Richie yang rusak akibat bom mencapai lebih dari 50 persen. Selain hancur, tulang kering Richie hilang sekitar tujuh sentimeter di bagian kaki yang hancur. Dokter mengatakan, Richie harus diamputasi!

Bagai disambar geledek Indra mendengar kalimat itu. Amputasi sungguh merupakan pilihan yang sangat menyakitkan kendati opsi itu diberikan untuk menyelamatkan nyawa Richie. Tak pernah terbayangkan dalam benak Indra, anaknya yang mulai beranjak dewasa itu harus kehilangan kaki kirinya, menanggung cacat seumur hidup.

Di antara amarah dan ketakberdayaannya, Indra berusaha keras menolak opsi yang dilontarkan dokter. Ia menggugah dokter mengambil langkah lain untuk menyelamatkan kaki Richie.

Kendati paham permintaan itu sekadar penundaan waktu belaka, tim dokter menyanggupi permintaan ayah dan keluarga Richie lainnya. Minggu malam Richie menjalani operasi selama 2,5 jam untuk membersihkan luka-lukanya, membuang jaringan mati, dan melaksanakan pemasangan penopang besi di bagian kaki kirinya yang hancur. Saat operasi, tim dokter mengeluarkan serpihan logam bulat berukuran sekitar 2 x 2 sentimeter yang diperkirakan serpihan dari bom yang meledak.

”Pasca-operasi keadaan Richie membaik, tapi ia memang sempat demam. Saya tidak mengatakan operasi yang sudah dilakukan tidak bisa dipertahankan karena melihat kondisi lukanya, kemungkinan besar Richie harus diamputasi,” ujar dr Ruksal.

Ia mengatakan, amputasi harus dilakukan guna menyelamatkan jiwa Richie, mengingat luka Richie yang rentan infeksi. Jika bersikeras tidak mengambil opsi amputasi, operasi susulan harus terus dilakukan hingga sekitar 20 kali. Risikonya jauh lebih besar.

Karena itu, pasca-operasi tim dokter kembali membujuk ayah Richie dan keluarganya agar merelakan kaki kiri Richie diamputasi. ”Prinsipnya, kami menolong jiwa pasien dulu. Kalau amputasi tidak dilakukan, bisa berbahaya. Sekarang ini kita berpacu dengan waktu,” kata dr Ruksal.

Indra akhirnya luluh. Yang terpenting sekarang menyelamatkan jiwa Richie. Tak ada jalan lain, Richie harus menjalani amputasi. Dengan perasan remuk redam, diciuminya kening buah hatinya itu seraya mengabarkan berita ke keluarganya, betapa tak ada pilihan lain selain amputasi.

Air mata langsung menetes dari kedua pasang mata Indra. Bayangan bahwa anak laki-lakinya itu tidak memiliki kaki kiri dan harus menggunakan kaki palsu seumur hidup menari-nari di matanya. Harapan akan masa depan cerah bagi anak yang sejak kecil dibesarkannya dengan penuh kasih pun sirna. Drama kisah sedih akibat perbuatan yang tak berperikemanusiaan pun kembali terulang antara anak dan bapak.

Namun, Tuhan memang bicara dalam banyak cara. Reaksi Richie sungguh di luar dugaan. Bocah yang sejak terkena ledakan bom hingga pasca-operasi tidak pernah meneteskan air mata setitik pun itu ternyata berbesar hati menerima takdir hidupnya. ”Kalau memang tidak ada jalan lain, potong saja kakiku.” Kata-kata tersebut meluncur dengan jernih dari mulut bocah laki-laki yang dikenal pendiam itu.

Gemar sepak bola

Tak ada air mata, tak ada suara tangis yang menyayat hati. Padahal, siapa pun yang mengetahui kondisi Richie saat ini sudah pasti akan meneteskan air mata.

Namun, ternyata kata-kata amputasi tak membuat Richie, bocah yang hobi bermain sepak bola itu, patah semangat. Dari wajah dan matanya terpancar kekuatan yang tak dapat dibahasakan dengan kata-kata. Kalau saja para teroris itu tahu betapa kejahatan mereka tidak pernah mematikan semangat hidup seorang bocah bernama Richie, mereka akan sadar betapa sia-sia apa yang mereka lakukan.

Ketegaran Richie, bagaimanapun, membuat hati Indra menjadi lebih kuat di tengah badai yang meluluhlantakkan perasaannya. ”Kami sudah menerima ini dengan lapang dada. Kalau memang amputasi menjadi langkah terbaik, kami menurut saja. Yang penting, bisa menyelamatkan jiwa anak saya,” kata Indra lirih. Saat dikerubungi wartawan, mata pria yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang eceran itu tampak berkaca-kaca.

Kesedihan memang tampak membayangi wajahnya yang mulai lelah kendati sejak awal Indra tampak begitu tegar. Toh, ia juga hanya manusia. Saat beban berat tiba-tiba ada di hadapannya, Indra tetaplah manusia. Apalagi tak hanya Richie, istrinya juga menjadi korban.

Namun, Indra tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang bersedia menanggung seluruh biaya perawatan anak dan istrinya, termasuk mengizinkannya membawa anak dan istrinya ke Makassar. ”Saya hanya berharap polisi mengusut tuntas kasus ini, menangkap pelakunya, dan memberikan hukuman seberat-beratnya,” katanya.

Sekali lagi bayangan Richie, yang sering kali mengusili adik-adiknya, menyambar-nyambar benaknya. ”Ia senang sekali main sepak bola. Setiap hari tidak pernah sekali pun ia lupa main sepak bola,” kata Indra mengingat kegemaran anaknya itu.

Ia ingat, tanggal 13 Februari nanti bocah laki-lakinya itu merayakan ulang tahunnya yang ke-14. Mestinya Richie masih bisa bermain sepak bola seperti biasa. Sayang, ia harus mendapat kado pahit di hari ulang tahunnya nanti....

oleh : DWI AS SETIANINGSIH (kompas.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar