Sabtu, Juli 04, 2009

Irena Handono, Hidup Kian Indah dengan Islam

Irena Handono, Hidup Kian Indah dengan Islam


Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di mana pun hamba-Nya berada. Di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam.

Ketertarikan Irena terhadap Islam bermula ketika ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya menjadi biarawati. Selain mengenyam pendidikan di biara, secara bersamaan Irena juga menekuni pendidikan di Institut Filsafat Teologia. Ia mengambil studi perbandingan agama. Dari sanalah, awal mula ia bersentuhan dengan Islam.

Ketika mempelajari Islamologi, para dosen yang mengajarinya memberikan pengantar. Sang dosen berkata, ”Kalau saya mau mempelajari Islam, lihat saja umat Islam di Indonesia, mereka bagaimana.” Dari situ, pengajar itu menyimpulkan bahwa umat Islam identik dengan kemiskinan, kebodohan, teroris, dan semua hal yang jelek.

Mendengar penjelasan itu, Irena berpikir keras. Ia tidak serta-merta mengiyakan. Ia berpikir kritis dan berkata, ”Justru simpulan itu perlu diuji karena Islam tidak hanya di Indonesia. Sama halnya dengan Kristen dan Katolik. Kita lihat di Filipina dan Meksiko yang jadi maling, penipu, dan pemabuk itu bukan orang Islam, tapi mereka yang Katolik.”

Dari perdebatan kecil ini, Irena menjadi tertarik mempelajari Islam. Ia pun mengusulkan dan meminta izin kepada dosennya untuk mempelajari Islam langsung dari sumbernya, yaitu Alquran. Usulan itu diterima. Tapi, dengan catatan, ia harus mencari kelemahan Islam. ”Di situlah, untuk pertama kali, saya memegang Alquran,” ucapnya.

Reaksi yang muncul pertama kali ketika Irena memegang kitab suci Alquran adalah sebuah kebingungan. Ia tidak tahu harus membuka kitab itu dari mana. Huruf-hurufnya pun tidak dikenalnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari Alquran yang ada terjemahannya.

Ketika mempelajari terjemahan, ia masih sempat bingung. Kebingungan itu karena ia tidak mengerti bahwa membaca Alquran dimulai dari kiri. Ia justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Alhasil, yang ia pelajari lebih dulu surat-surat yang letaknya di belakang. Yang pertama kali ia pandang adalah surat Al-Ikhlas. Surat inilah yang memperkenalkan Irena kepada ketauhidan dalam Islam. Pada saat bersamaan, ia sedang menekuni teologia (konsep Tuhan dalam Katolik).

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1973. Setelah membacanya, suara hati Irena membenarkan bahwa Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. ”Ini logis, ini benar, dan bisa diterima serta dipahami,” ujarnya.

Apa yang ia temukan dalam surat Al-Ikhlas berbeda sekali dengan konsep Tuhan yang dipelajarinya saat kuliah teologia. Dalam teologi Katolik dan Kristen, kata dia, secara keseluruhan konsep Tuhan itu trinitas, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra, dan Tuhan Roh Kudus.

Akhirnya, terjadilah diskusi antara Irena dengan dosennya mengenai konsep ketuhanan hingga mengerucut kepada sejarah gereja. Dari diskusi tersebut, Irena menarik simpulan bahwa Yesus yang selama ini ia yakini sebagai Tuhan hanyalah seorang manusia yang dipertuhankan oleh manusia. Kesimpulan ini menuai kritik dari sang dosen dan menganggap apa yang Irena sampaikan sebagai pemikiran yang sesat dan anti-Kristus.

Tiap Malam
Kebiasaan mengkaji Alquran ia teruskan setiap malam. ”Dari awalnya sekadar meneliti, kemudian membenarkan, dan akhirnya saya semakin kagum,” ungkapnya. Ia pun memutuskan keluar dari biara.

Sekeluarnya dari biara, Irena mencari ustaz yang dianggap bisa membimbingnya untuk mempelajari Islam lebih jauh lagi sebelum memutuskan masuk Islam. Kala itu, tahun 1983, ia mendapat bimbingan dari KH Ahmad Sujai (Alm) dan KH Misbach (Alm), ketua MUI Jawa Timur.

Dari penjelasan sederhana mengenai Islam yang diperolehnya dari kedua ustaz tersebut, dengan mantap akhirnya Irena memutuskan menjadi Muslim. Bertepatan satu hari sebelum bulan Ramadhan, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan KH Misbach (Alm) di Masjid Al-Falah, Surabaya.

Konsekuensi dari keputusannya ini, Irena menerima makian hingga teror dari sang suami yang tetap bersikukuh memeluk agama Katolik. Dihadapkan pada pilihan itu, ia memutuskan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berjalan selama enam tahun. Meskipun demikian, toh Irena tetap mensyukuri karena ketiga buah hatinya berhasil ia selamatkan.

Kini, keislamannya sudah berjalan selama 26 tahun. Namun, hingga saat ini, ia masih kerap menerima ancaman teror dan fitnah. Ancaman teror dan fitnah, ungkapnya, tidak hanya datang dari kalangan di luar Islam, tetapi juga dari orang yang menganut Islam. Pengalaman tidak menyenangkan itu ia paparkan dalam bukunya berjudul Menyingkap Fitnah dan Teror.

Di buku itu, Irena mengungkapkan ada 31 macam teror yang pernah ia terima. Teror dan fitnah tersebut, kata dia, mulai dari menyebarkan hasutan bahwa ia seorang penyusup hingga menunjukkan surat pernyataan palsu bermaterai yang menyebutkan bahwa pada 15 November si pembuat pernyataan melihat dirinya keluar dari Katedral di Singapura dengan masih lengkap memakai salib.

Bukannya balik menyerang, justru Irena minta dipertemukan dengan si pembuat surat pernyataan. ”Yang menyebarkan surat pernyataan tadi silakan datang dengan istri dan anak-anaknya. Di sinilah, kita mubahalah (melakukan sumpah) dan disaksikan oleh MUI setempat dan diliput oleh seluruh pers.”

Berbagai teror dan fitnah yang dilancarkan terhadap dirinya ini tidak lantas membuat Irena berhenti untuk menyerukan ajaran Islam. Bahkan, hal tersebut membuatnya terpacu untuk terus melakukan dakwah, baik melalui lisan maupun tulisan. ”Saya anggap itu semua untuk mengurangi dosa saya,” ujarnya.

Dengan berbagai macam ujian dan peristiwa yang dialaminya semenjak memutuskan menerima Islam, justru ia merasakan hidup yang dijalaninya semakin indah, semakin mulia, dan semakin ia mensyukuri. Ia akhirnya sampai pada suatu simpulan, ”Kalau ingin menjadi manusia seutuhnya, dia bisa melaksanakan fungsi kemanusiaannya dengan baik. Satu-satunya cara adalah menjadi Islam.”

Dalam pandangannya, manusia tanpa Alquran belumlah sempurna. Kesempurnaan itu akan terjadi ketika hamba Allah ini menjadikan Alquran sebagai panduan hidup. ”Yang kita lihat di Tanah Air kita, banyak yang sudah ber-KTP Islam, tapi Alquran belum sebagai panduan hidupnya,” ucapnya. (nidia zuraya)

Sumber : Swaramuslim.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar