Minggu, November 30, 2008

Batu

Batu

Suatu ketika, ada seorang wanita bijak yang sedang mendaki gunung. Tanpa
disengaja, ia menemukan sebuah batu yang sangat berharga. Sebuah pualam yang
indah dan tentu mahal harganya. Dia lalu menyimpan batu itu di tempat
makanannya.

Tak lama berselang, ia bertemu dengan seorang pendaki lain yang sedang
kelaparan. Sang wanita, lalu membuka kotak makanannya, dan hendak membagi
bekal itu dengan si pendaki yang lapar tadi. Si pendaki melihat sesuatu
dalam kotak itu, dan bertanya, apakah ia dapat memiliki pualam indah itu.

Sang wanita memberikan pualam itu tanpa ragu.

Sang pendaki tentu senang sekali dengan pemberian ini. Dia bersorak dalam
hati, dan membayangkan, tentu pualam ini akan membuat hidupnya terjamin. Dia
pasti tak perlu bersusah payah bekerja, dan dapat kaya dengan menjual pualam
itu. Dia lalu meminta ijin untuk pergi, dan melupakan lapar yang
dirasakannya.

Namun, beberapa saat kemudian, sang pendaki kembali lagi kepada wanita tadi.
Dia lalu berkata, "Aku berpikir," katanya, "Pualam ini pasti sangat
berharga. Namun, akan kukembalikan, sebab, aku berharap, kamu dapat
memberikan sesuatu yang lebih berharga. "Agaknya, aku lebih memerlukan
sepotong roti daripada batu ini. Dan, aku ingin tahu satu hal. "Tolong, "
pinta sang pendaki, "ajari aku bagaimana kamu dapat memberikan batu yang
sangat berharga ini kepadaku, tanpa ragu."

--Author Unknown

***

Teman, bisa jadi, tak ada beda antara kita dan si pendaki tadi. Kita kerap
melupakan banyak hal untuk sebuah alasan sesaat. Tak jarang kita lebih
mengutamakan ketamakan dan nafsu untuk sebuah masa depan. Seringkali, kita
terpesona dengan kemilau "pualam" dan mahalnya "intan", namun melupakan
"sepotong roti" dan kebijaksanaan si wanita tadi. Kita, yang bodoh ini,
sering mengambil langkah dengan terburu-buru, tanpa perhitungan, tanpa
memandang jauh ke depan. Yang ada di depan mata, hanyalah keuntungan
seketika yang akan kita dapat.

Kita jarang untuk bersedekah, padahal, harta itulah yang akan menolong kita
kelak. Kita jarang untuk berbuat baik, padahal, kita sama-sama tahu, akan
ada imbalan dari-Nya nanti. Kita jarang menolong teman dan tetangga dekat,
padahal, merekalah yang bisa kita minta bantuannya di kala susah. Kita
jarang menanam bibit dan benih kebaikan, padahal, rindangnya pohon kebajikan
itulah yang akan melindungi kita dari terik dan hujan nestapa.

Sama halnya dengan pendaki tadi, kita memerlukan lebih dari sepotong roti
untuk dapat bertahan hidup. Kita butuhkan lebih dari itu. Kita butuhkan
kebijaksanaan dan kemurahan hati wanita tadi, untuk dapat memberikan
kebaikan pada setiap orang yang ditemuinya. Dan saya yakin, kita bisa
mendapatkannya dalam hidup ini. Allah akan memberi cahaya buat kita. Dan,
teman, selamat berbagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar