peluang usaha

Rabu, Januari 21, 2009

Suara yang Tak Terdengar


Suara yang Tak Terdengar

Suatu ketika, ada seorang Raja yang mengirim putra mahkotanya berguru kepada seorang bijak. Sang Raja ingin, anaknya dapat belajar seni bagaimana menjadi pemimpin sejati. Orangtua bijak itupun setuju. Ia lalu membawa sang putra mahkota ke tengah hutan, untuk belajar tentang kepemimpinan. Jadilah mereka layaknya guru dan murid.

Sang guru lalu meminta putra mahkota itu untuk tinggal di hutan, bertapa sendirian, selama 1 tahun penuh. Berlalulah masa itu. Saat kembali, ditanyalah putra mahkota untuk bercerita tentang semua yang didengarnya. Anak itu menjawab, "Aku mendengar pipit bernyanyi, daun-daun bergemerisik, dan rumput yang menari bergoyang."

Rupanya, masa bertapa belum selesai. Sang Guru meminta putra mahkota untuk kembali ke hutan, dan berlatih mendengar lebih teliti. Anak itu pun bingung, tapi ia tetap menuju ke tengah hutan, dan mulai mendengar lebih teliti. Pertama kali, ia tak mendengar sesuatu yang baru. Dan waktupun berjalan begitu lambat. Pelan dan terus perlahan, sang putra mahkota belajar menyimak dengan lebih dalam.

Pada suatu pagi, anak itu mulai mendengar suara-suara sayup yang membawa nuansa baru baginya. Merasa senang, ia pun kembali kepada gurunya dan berkata, "Guru, saat ku mulai mendengarkan alam, aku mendengar "suara yang tak terdengar". Suara-suara kuncup bunga yang mengembang, suara-suara senyum rumput yang menyambut embun pagi, dan alam yang membangunkan musim semi. Begitu indah, dan senandungnya membuatku terlena. "

Sang Guru tersenyum, lalu berkata, "Nak, engkau telah mampu mendengar 'suara yang tak terdengar'. Engkau telah layak menjadi seorang Raja menggantikan ayahmu. Hanya orang-orang yang mampu mendengar suara-suara hati rakyatlah yang layak menjadi pemimpin. Mereka lah yang mampu merasai perasaan rakyatnya. Merekalah yang mampu meraba setiap keluh-kesah setiap orang."

"Mereka, mampu menyimak kata-kata yang tak terucap, rasa-rasa yang tak tersalurkan, serta sedih dan tawa yang tak terungkapkan. Pada merekalah terhadap ciri sejati seorang pemimpin. Pada telinga merekalah degup-degup jantung rakyat dapat terus terasa getarannya."

"Nak, katahuilah, suatu kerajaan yang besar, akan hancur, apabila pemimpinnya, hanya mampu mendengar apa yang terlihat dan apa yang terlontarkan. Sebuah negara dapat binasa, saat para pemimpinnya tak berusaha untuk menelusup ke dalam relung hati rakyat dan merasakan hasrat yang ada di dalamnya. Nak, bersiaplah. Rakyatmu telah menunggu. "

Sang putra mahkota berjalan pulang, menuju istana tempat ayahnya tinggal. Dan sang Guru, memandang kepergian muridnya itu dengan bangga. Seorang pemimpin baru telah dibantu kelahirannya.

***

Teman, kisah ini, bisa jadi gambaran yang sangat sesuai untuk kita semua. Untuk kita, yang sangat merindukan, pemimpin dengan telinga-telinga sutra, yang mampu mendengar setiap getaran hati dan hasrat setiap rakyatnya.

Semoga, Allah masih akan menurunkan petunjuk bagi kita, mana pemimpin yang baik, dan mana pemimpin yang tak diridhoi-Nya. Hanya kepada-Nya lah kita dapat berharap. Amin.

Sabtu, Januari 17, 2009

Penebang Kayu


Penebang Kayu

Suatu ketika, hiduplah seorang penebang kayu muda. Dia tinggal bersama seorang
istri yang baik. Setiap hari, penebang ini pergi ke hutan, dan menebang setiap
pohon yang layak untuk dipotong, lalu menjualnya ke kota.

Pada suatu pagi, si Penebang berkata pada istrinya, "Bu, aku akan menebang 10
pohon hari ini. Aku merasa, aku masih kuat untuk itu semua." Sang istri merasa
senang. Ia pun lalu melepas kepergian suaminya ke hutan. Betul saja, di senja
hari, Penebang itu kembali dengan membawa uang hasil penjualan 10 pohon.

Hal itu terus berlaku dari hari ke hari. Pagi-pagi sekali, Penebang muda itu
selalu bergegas pergi untuk menebang pohon. Namun, lama kemudian, hasil di dapat
dirasakan makin menurun. Minggu berikutnya, si penebang hanya mampu menghasilkan
8 pohon. Lalu 6 pohon di minggu berikutnya. Sampai akhirnya si penebang muda ini
cuma mampu menebang 3 pohon.

"Ah, mengapa ini semua terjadi. Bukankan aku masih muda dan kuat?", keluh si
Penebang, "Untuk orang seusiaku, pasti, akan ada lebih banyak pohon yang dapat
ditebang." Sang istri hanya mendengarkan. "Hmm...atau apakah aku sudah mulai
tua?", keluhnya lagi.

Istrinya yang semula diam, mulai angkat bicara. "Suamiku, engkau memang masih
muda, dan ya, aku yakin, engkau bisa menebang lebih banyak lagi. "Namun, engkau
juga harus ingat, engkau harus mengasah kapak-kapakmu sebelum pergi bekerja.
Sia-sialah semua tenagamu, kalau kau hanya punya kapak yang tumpul.

"Suamiku, kita tak dapat selalu berharap hasil tebangan yang banyak, kalau kita
selalu lupa untuk mengasah kapak yang kita miliki."

***

Teman, kita, adalah juga si penebang muda tadi. Terlalu sering kita berharap,
untuk mendapatkan banyak hasil, tanpa berusaha melihat ke dalam diri kita.
Terlalu sering kita bermohon kepada Allah, untuk mendapatkan pahala dan imbalan
yang sesuai, namun, dengan kualitas ibadah yang minim sekali.

Kerapkali, cuma sedikit waktu yang kita berikan untuk mengasah keimanan kita,
dengan harapan pahala yang berlimpah. Kita sering lupa, untuk mengasah semuanya.
Padahal disekeliling kita, ada banyak sekali hal bisa dijadikan pengasah batin
dan iman kita. Kebajikan-kebajikan sosial, adalah salah satunya.

Dan teman, teruslah memberikan hikmah kita pada orang sekitar. Sebab, bukankah
keharuman bunga akan selalu semerbak, pada tangan-tangan yang sering memberikan
bunga?

Sepatu


Sepatu

Suatu ketika, hiduplah seorang raja baru yang sangat berkuasa. Negrinya luas,
meliputi segenap gunung dan lembah. Rakyatnya banyak, hingga sampai ke ujung
pantai dan dalamnya hutan.

Sang Raja pun sangat perhatian dengan rakyatnya. Hingga, ia sering berkeliling,
dan melakukan pengecekan di setiap wilayah kekuasaannya. Ia ingin lebih dekat
dengan rakyatnya dan mengetahui apa yang dirasakan mereka.

Karena dia baru saja memerintah, sang Raja tak paham dengan semua tanah
kekuasaannya. Saat kembali ke istana setelah perjalanan itu, ia merasa sangat
lelah. Kakinya nyeri dan sakit, setelah melakukan perjalanan panjang. Jalan yang
ditempuhnya memang jauh dan berliku. Sebab, sang Raja enggan untuk di tandu, dan
memilih untuk berjalan kaki, bersama dengan pasukannya.

Sang Raja mengeluh dengan keadaannya ini. Sambil memegang kakinya yang sakit,
sang Raja berpikir bagaimana caranya agar ia tak perlu merasakan nyeri ini
setiap berjalan jauh. Ah, dia menemukan penyelesaian. "Kalau saja, setiap jalan
yang aku lewati dilapisi dengan kulit, dan permadani, tentu, aku akan merasa
nyaman.", begitu gumamnya dalam hati. "Aku tentu tak akan perlu merasakan sakit
seperti ini."

Akhirnya sang Raja memerintahkan prajuritnya untuk melapisi setiap jalan yang di
tempuhnya dengan kulit. Semua jalan, tanpa kecuali. Namun, sebelum sang Prajurit
bergegas untuk melaksanakan, penasehat Raja menyuruhnya untuk berhenti. Sang
Penasehat lalu berkata, "Duli Tuanku, tentu, rencana ini akan memerlukan banyak
sekali kulit dan permadani. Kita akan butuh banyak biaya, dan akan mengurangi
keuangan kerajaan.

Sang Raja tampak heran, dan berkata, "Lalu, apa pendapatmu tentang hal ini?
Penasehat Raja lalu menghampiri sang Raja, kemudian berujar, "Tuanku, mengapa
baginda harus mengeluarkan banyak biaya untuk hal ini? Kenapa Baginda tidak
memotong sedikit saja dari kulit itu dan melapisinya di kaki Baginda?

Baginda terkejut. Namun, tak lama kemudian, Raja setuju dengan usul membuat
"sepatu" itu untuk dirinya. Akhirnya, Raja membatalkan niatnya untuk membuat
jalan dengan kulit. Ia dapat terus melakukan kunjungan ke rakyatnya, tanpa takut
lelah dan nyeri kesakitan.

***

Teman, ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi
tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala, kita harus mengubah cara pandang
kita, hati kita, dan diri kita sendiri, dan bukan dengan jalan mengubah dunia
itu.

Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam pikiran
kita, kadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, kita artikan sebagai milik
kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang
terlibat disana, sebab, seringkali dalam pandangan kita, dunia, adalah bayangan
diri kita sendiri.

Dan teman, jalan yang di tempuh oleh sang Raja memang panjang dan berliku. Ruas
yang ditempuhnya memang terjal dan berbatu. Namun, haruskah ia melapisi semuanya
dengan permadani berbulu? Haruskah jalan-jalan itu dibuat landai dan tenang, dan
menutupnya dengan kulit yang halus?

Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah
yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita
tak pernah merasakan sakit, atau, melapisi hati kita dengan sepatu, agar kita
dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?

Pencuri


Pencuri

Suatu ketika, tinggallah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu, terdiri dari
orangtua, dan kedua anak laki-lakinya. Kekayaan mereka sangatlah berlimpah.
Lumbung mereka, penuh dengan tumpukan padi dan gandum. Ladang mereka luas,
lengkap dengan ratusan hewan ternak.

Namun, pada suatu malam, ada pencuri yang datang ke lumbung mereka. Sebagian
besar padi yang baru di tuai, lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa
pencuri itu. Kejadian itu terus berulang, hingga beberapa malam berikutnya. Akan
tetapi, tak ada yang mampu menangkap pencurinya.

Sang tuan rumah tentu berang dengan hal ini. "Pencuri terkutuk!!, akan kuikat
dia kalau sampai kutangkap dengan tanganku sendiri." Begitu teriak sang tuan
rumah. "Aku akan menangkap sendiri, biar rasakan pembalasanku."

Kedua anaknya, mulai ikut bicara. "Ayah, biarlah kami saja yang menangkap
pencuri itu. Kami sudah cukup mampu melawannya. Kami sudah cukup besar, tentu,
pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. "Ijinkan kami menangkapnya
Ayah!"

Tak disangka, sang Ayah berpendapat lain. "Jangan. Kalian masih muda dan belum
berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian,
masih tak cukup kuat untuk menahan pukulan. Ilmu silat kalian masih sedikit.
Kalian lebih baik tinggal saja di rumah. Biar aku saja yang menangkap mereka."
Mendengar perintah itu, kedua anaknya hanya mampu terdiam.

Penjagaan memang diperketat, namun, tetap saja keluarga itu kecurian. Sang Ayah
masih saja belum mampu menangkap pencurinya. Malah, kini hewan ternak yang mulai
di ambil. Ia sangat putus asa dengan hal ini. Dengan berat hati, di datangilah
Kepala Desa untuk minta petunjuk tentang masalah yang dialaminya. Diceritakannya
semua kejadian pencurian itu.

Kepala Desa mendengarkan dengan cermat. Ia hanya berkata, "Mengapa tak biarkan
kedua anakmu yang menjaga lumbung? Mengapa kau biarkan semua keinginan mereka
tak kau penuhi? Ketahuilah, wahai orang yang sombong, sesungguhnya, engkau
adalah "pencuri" harapan-harapan anakmu itu. Engkau tak lebih baik dari
pencuri-pencuri hartamu. Sebab, engkau tak hanya mencuri harta, tapi juga
mencuri impian-impian, dan semua kemampuan anak-anakmu. Biarkan mereka yang
menjaganya, dan kau cukup sebagai pengawas."

Mendengar kata-kata itu, sang Ayah mulai sadar. Pada esok malam, diijinkanlah
kedua anaknya untuk ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa malam kemudian,
ditangkaplah pencuri-pencuri itu, yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka
sendiri.


***

Teman, pernahkan Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita dan harapan
mereka? Ya, bisa jadi kita akan mendapat beragam jawaban. Suatu ketika mereka
akan menjadi pilot, dan ketika lain mereka memilih untuk menjadi dokter. Suatu
saat mereka akan mengatakan ingin bisa terbang, dan saat lain berteriak ingin
dapat berenang seperti ikan. Walaupun pada akhirnya kita tahu hanya ada satu
jawaban kelak, namun, pantaskah jika kita melarang mereka semua untuk punya
harapan dan impian?

Begitulah, seperti halnya dalam cerita diatas, ada banyak pencuri-pencuri impian
yang berkeliaran di sekitar kita. Mereka, mencuri semua impian, dan merampas
harapan-harapan yang kita lambungkan. Mereka, selalu menghadang setiap langkah
kita untuk mencapai tujuan-tujuan hidup.

Bisa jadi, pencuri-pencuri itu bisa hadir dalam bentuk orangtua, teman, saudara,
atau bahkan rekan kerja. Namun, yang sering terjadi adalah, kita sendirilah
pencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling besar
menghadang setiap langkah. Kita sering temukan dalam diri, perasaan takut, ragu,
dan bimbang dalam melangkah.

Terlalu sering kita mendengarkan suara kecil yang mengatakan, "Saya tidak bisa,
saya tidak mampu." Atau, sering kita berucap, "Sepertinya, saya tak akan mungkin
mengatasinya." "jangan, jangan lakukan ini sekarang, lakukan ini nanti saja.
Terus seperti itu. Kegagalan, sering kita jadikan peniadaan dalam melangkah.

Namun, teman, seringkali bisa keliru. Kegagalan, adalah sebuah cara Allah untuk
menunjukkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan, adalah pertanda
tentang sebuah usaha yang tak akan berakhir. Kegagalan, adalah sebuah pelajaran
tentang bagaimana meraih semua harapan yang terlewat.

Memang, tak ada kesuksesan yang diraih dalam semalam. Karena itu, yakinlah,
dengan kesabaran kita akan dapat meraih semua harapan dan impian. Maka, yakinlah
dengan semua impian kita. Jika kita mampu, dan nurani kita mengatakan setuju,
jangan biarkan orang lain mencuri impian itu--terutama oleh diri kita sendiri.

Dan teman, jangan jadikan diri kita pencuri-pencuri impian orang lain. Yakinlah
dengan itu semua, sebab Allah selalu akan bersama kita.

Pohon Tua


Pohon Tua

Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya
rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol
keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan
pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat
sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat
lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun
merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah,
dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan
membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna,"
begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga
mendengar perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya
rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan
pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai
enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk
berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan
padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil
semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga
terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku
tak perlu merasakan siksaan ini? Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya
yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap
kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis
terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga
pada saat pagi menjelang.

"Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, .ada seekor anak burung
yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.
"Cittt...cericirit...cittt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak
burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran
burung-burung baru. Satu...dua...tiga...dan empat anak burung lahir ke dunia.
"Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan
membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung
dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu
merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya.
Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah
bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya
kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang
Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan
bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

***

Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang
selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha
Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita.
Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah,
Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita
karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah
suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang
Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah
tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia.
Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian
kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah
hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.

Pengrajin Emas dan Kuningan


Pengrajin Emas dan Kuningan

Di sebuah negeri, hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan.
Seorang diantaranya, adalah pengrajin emas, sedang yang lainnya pengrajin
kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan ini, sebab, ini adalah
pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang
dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai
penghias, adalah beberapa dari hasil kerajinan mereka.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil pekerjaan ke kota. Hari pasar, demikian
mereka biasa menyebut hari itu. Mereka akan berdagang barang-barang logam itu,
sekaligus membeli barang-barang keperluan lain selama sebulan. Beruntunglah,
pekan depan, akan ada tetamu agung yang datang mengunjungi kota, dan bermaksud
memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang.
Tentu, berita ini akan membuat semua pedagang membuat lebih banyak barang yang
akan dijajakan.

Siang-malam, terdengar suara logam yang ditempa. Setiap dentingnya, layaknya
nafas hidup bagi mereka. Tungku-tungku api, seakan tak pernah padam. Kayu bakar
yang tampak membara, seakan menjadi penyulut semangat keduanya. Percik-percik
api yang timbul tak pernah di hiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaan
masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias yang
siap dijual. Hari pasar makin dekat. Dan lusa, adalah waktu yang tepat untuk
berangkat ke kota.

Hari pasar telah tiba, dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah
digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer
berdampingan. Tampaklah, barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah
sayang, ada kontras yang mencolok diantara keduanya. Walaupun terbuat dari logam
mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tak
berkilau. Ulir-ulirnya kasar, dengan pokok-pokok simpul rantai yang tak rapi.
Seakan, sang pembuatnya adalah seorang yang tergesa-gesa.

“Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan
menanyakan kenapa perhiasaannya kawannya itu tampak kusam. “Setiap orang akan
memilih daganganku, sebab, emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin
emas lagi, “Apalah artinya loyang buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya,
aku akan membawa uang lebih banyak darimu.” Pengrajin kuningan, hanya tersenyum.
Ketekunannya mengasah logam, membuat semuanya tampak lebih bersinar.
Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperli
lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap di
pandang mata.

Ketekunan, memang sesuatu yang mahal. Hampir semua orang yang lewat, tak menaruh
perhatian kepada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi, dan
melihat-melihat cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan
datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan
logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup mereka tertarik, dan mau membelinya.
Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Pengrajin emas yang
tertegun diam, dan pengrajin kuningan yang tersenyum senang.

Hari pasar telah usai, dan para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu
pun telah selesai membereskan dagangan. Dan agaknya, keduanya mendapat pelajaran
dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.

***

Teman, ketekunan memang sesuatu yang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalani
pekerjaan ini. Begitupun juga kemuliaan dan harga diri, tak banyak orang yang
menyadari, bahwa kedua hal itu, kadang tak berasal dari apa yang kita sandang
hari ini. Setidaknya, tindak-laku kedua pengrajin itu, adalah potongan siluet
kehidupan kita.

Ketekunan, adalah titian panjang yang licin berliku. Seringkali, jalan panjang
itu membuat kita terpelincir, dan jatuh. Seringkali pula, titian itu menjadi
saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kebahagiaan di ujung
simpulnya. Namun, percayalah, ada balasan bagi setiap ketekunan. Di ujung sana,
akan ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.

Emas dan kuningan, bisa jadi punya nilai yang berbeda. Namun, apakah kemuliaan
dinilai hanya dari apa disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan
dari simbol-simbol yang tampak di luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari
pengrajin kuningan, bahwa loyang, kadang bernilai lebih dibanding logam mulia.
Dan juga bahwa kemuliaan, adalah buah dari ketekunan.

Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup
sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga jika ulir-ulir
hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia jika, lekuk-lekuk kalbu kita koyak
dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga,
jika, pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya, tak di penuhi dengan
simpul-simpul ikhlas dan perangai yang luhur?

Teman, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari, kita bentuk
ulir dan lekuk-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan cahaya-Nya.
Susunlah simpul-simpul itu, dengan jalinan keluhuran budi dan perilaku. Tempalah
dengan kesungguhan diri, agar hati kita tak keras, dan menjadi lembut, luwes
serta mampu memenuhi hati orang lain.

Percayalah, akan ada imbalan untuk semua itu. Amin.

Rabu, Januari 14, 2009

Persahabatan


Persahabatan

Alkisah, ada 2 orang sahabat kental. Berbagai suka dan duka mereka lalui bersama. Mereka adalah Faisal dan Usman. Faisal berpostur tubuh kecil dan kurus, sedangkan Usman berpostur tubuh besar dan kekar.

Suatu ketika terjadi permasalahan sehingga terjadilah konflik dan perdebatan diantara mereka. Usman marah besar kepada sahabatnya Faisal, hingga tangan Usman yang besar itu melayang ke muka Faisal hingga sahabatnya itu terjungkal jatuh. Faisal yang bertubuh kecil itu hanya terdiam karena tidak berani membalas.

Beberapa saat kemudian Usman melihat sahabatnya sedang merenung di bawah pohon sambil menuliskan sesuatu diatas tanah yang berpasir. Dalam hati Usman masih marah kepada faisal dan enggan bertemu denggannya. Dia penasaran apa yang ditulis sahabatnya tersebut, maka usman mencoba melihat ketika sahabatnya itu pergi. Tanah itu bertuliskan "SAHABAT DEKATKU TELAH MEMUKUL WAJAHKU".

Suatu ketika, Usman kebetulan melihat faisal sahabatnya sedang dirampok oleh beberapa orang. Tanpa berfikir panjang Usman menolong faisal dengan berkelahi melawan perampok tersebut. Perkelahian dimenangkan oleh Usman. Karena merasa gengsi dan masih kesal, Usmanpun langsung pergi tanpa berkata apapun.

Setelah beberapa saat kemudian Usmanpun merenung atas sikapnya terhadap sahabatnya tersebut. Hingga suatu ketika ia bertemu sahabatnya sedang mengukir sesuatu di atas batu. Kemudian disapanya faisal. "Apa yang sedang kau lakukan faisal?", "Hai Sahabatku! Aku sedang mengukir tulisan diatas batu ini." Kemudian Usman menengok apa yang ditulis sahabatnya tersebut. Batu itu bertuliskan "SAHABAT DEKATKU TELAH MENOLONGKU!".

"Aku tidak mengerti? Apa maksudmu engkau menulis diatas pasir ketika aku memukulmu, dan engkau mengukir tulisan diatas batu ketika aku menolongmu?" tanya Usman penasaran.

"Aku menulis diatas pasir, ketika engkau memukulku, karena aku berharap tulisan itu akan terhapus oleh hembusan angin. Sedangkan aku mengukir tulisan itu diatas batu, karena aku berharap tulisan tersebut tidak akan mudah terhapus oleh apapun, dan akan terpatri selalu dalam hatiku." Jawab Faisal.

Usmanpun memeluk sahabatnya, dan meminta maaf atas sikapnya. Mata mereka berkaca-kaca.

***

Sahabatku, ada hikmah yang dapat kita pelajari dalam kisah tersebut. Seberapa sering diri kita ini kurang adil dalam menilai teman, saudara, dan keluarga kita.

Ketika sahabat kita berbuat salah, yang terpatri dalam benak kita justru kesalahannya tersebut. Padahal jika dibandingkan jasanya jauh lebih banyak daripada kesalahannya. Kita lupa atas segala apa yang mereka lakukan untuk kita. Sehingga kita merasa berat sekali untuk memaafkan kesalahan sahabat kita.

Kita justru terbiasa mengukir di batu atas kesalahan sahabat kita, dan menulis diatas pasir atas segala jasa sahabat kita. Adilkah?

Lupakanlah kesalahan mereka, ingatlah selalu segala jasa mereka terhadap kita. Temuilah mereka! Sahabat kita, Istri, suami, anak, tetangga, orang tua kita, mereka adalah orang-orang terdekat kita. Mintalah maaf kepada mereka, dan sekali lagi, lupakanlah kesalahan mereka.

(jadi ingat sahabat-sahabatku dulu! maafkanlah diriku ini sahabatku!)